SASTRA

Senandung Tragedi Penyair Perempuan Iran Forough

| dilihat 303

catatan bang sém

Rabu (23/12/20) hampir tengah malam, saya sendirian di rumah. Saya masih berkomunikasi dengan seorang famili yang masih berada di Isfahan, Iran.

Sejak beberapa pekan terakhir, memang terjadi 'jeda' komunikasi. Kami nyaris tak terlibat dalam percakapan -- antara lain, juga - karena saya mengalami kelelahan virtual. Tapi, saya masih terus menerima kiriman berbagai puisi karya penyair Iran terpilih.

Masyarakat Iran, karib dengan puisi yang memang menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual sosial dan spiritual. Penganut muslim syi'ah dan sunni, kristen, baha'i, dan zoroaster, sama memanfaatkan puisi sebagai salah satu medium ekspresi spiritual mereka. Puisi juga hadir sebagai artikulasi lagu, terutama lagu-lagu klasik yang mampu menghipnotis jutaan warga dari berbagai strata sosial.

Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari yang terikat oleh sistem sosial demokrat berbasis siyasah islamiyah, dan praktik demokrasi yang anti liberalisme, puisi (termasuk yang diubahsuai menjadi lagu) juga menjadi medium ekspresi ketika menyampaikan sikap dan pandangan politik.

"Coba buka You Tube, pilih, dengar dan simak lagu-lagunya Alireza Ghorbani dan Hengameh Bertschi yang mengeksplorasi puisi penyair perempuan legendaris Iran, Forough yang kematiannya tragis," ujar famili saya.

Sebagai penikmat suara indah Ghorbani, yang syairnya diangkat dari puisi penyair-penyair Persia berpengaruh, saya mudah mendapatkannya.

Salah satu lagu yang saya suka adalah lagu bertajuk Forough, yang digubah dari puisi penyair perempuan paling terkenal dalam sejarah sastra Persia. Forough Farrokhzad, namanya.

Penyair kelahiran Teheran, 5 Januari 1935 ini, anak ketiga dari tujuh bersaudara kalangan masyarakat menengah. Sampai kelas sembilan, Forough bersekolah di sekolah umum. Setelah itu dia bersekolah ke Kamalilmolk Technical School, sejenis sekolah menengah kejuruan di sini (Indonesia).

Saya nikmati lagu yang melodius, itu. Komposer Saman Samimi menghadirkan komposisi musik yang indah. Pas dengan suara Alireza yang tenor - countertenor. Suara yang mampu mengartikulasikan jeritan batin sang penyair.

Lagu yang ditutup dengan pembacaan puisi oleh pembaca puisi perempuan itu punya makna khas, sebagai renungan hidup, ketika saya menyimaknya sendiri di jelang tengah malam. Terutama, karena menyentuh ihwal kematian.

Simak puisi yang sangat personal karya Forough, seperti ini:

Kematian saya akan datang suatu hari nanti / Di gelombang cahaya yang cerah musim semi / Di musim dingin yang jauh dan bersalju / Atau (di) harta karun yang kosong dari teriakan dan nafsu / Lebih dari setahun /Kutinggalkan diriku, aku tinggal sendiri... sendiri / Segala yang tersisa akan lumat //

Jiwaku laksana layar perahu / Bersembunyi di cakrawala / Khaliq memanggilku, untuk diri-Nya di setiap nafas /Mengambilku dengan cara seperti dulu mereka menaruhku di tanah /

Oh.. kekasih persinggahan malamku / Letakkan bunga di makam ku nan pilu / Seperti (letak) tubuhku yang dingin / Lebih dari sehari / Diremas tanah yang menghimpit //

Aku tanpamu / Jauh dari detak jantungmu / Hatiku membusuk di dalam tanah / Tanpamu.. / Hujan dan angin namaku nanti / Memancar sansai dari nisan / Pusaraku tetap di jalan tak bernama / Bebas dari legenda nama dan stigma //

Saya terhenyak menyimak puisi lirih ditingkah komposisi musik yang 'menghanyutkan rasa,' dan suara yang menghantar pesan batin terdalam sang penyair.

Terbayang prosesi pemakaman yang sering saya hadiri. Terbayang juga wajah allahyarham istri saya yang wafat lebih tiga tahun silam, yang beberapa waktu sebelum hari terakhirnya, menulis beberapa puisi lirih, berisi bayangan tentang kematian dan perpisahan.

Penyanyi sopran Iran, Hengameh Bertschi pun mendendangkan puisi Forough bertajuk Veda (Perpisahan), yang juga mengkili-kili perasaan.

Forough Farrokhzad menikah dengan sepupunya, Parviz Shapour. Pernikahannya ditentang keluarga, terutama karena usia Shapour. Setahun setelah pernikahannya, lahir putra tunggalnya, Kamyar. Tiga tahun kemudian dia berpisah dengan suaminya. Forough menyerahkan Kamyar kepada keluarga mantan suaminya, kemudian berkarir sebagai penyair dan  hidup mandiri.

Setahun setelah berpisah, terbit buku puisinya yang pertama, bertajuk Asir (Tawanan), berisi empat puluh empat puisi. Tak lama kemudian Forough mengalami gangguan saraf dan berada dalam perawatan psikiatri.

Tahun berikutnya dia berangkat ke Eropa, itulah untuk pertama kalinya dia meninggalkan Iran. Di rantauan, dia menulis dua puluh lima puisi yang dia dedikasikan untuk mantan suaminya, bertajuk Divar (Tembok). Dua tahun kemudian dia menerbitkan buku puisinya bertajuk Esian (Pembangkangan), yang membuatnya terkenal sebagai penyair lugas.

Lantas dia pulang ke Iran dan berhubungan dengan penulis kontroversial dan sinematografer Ebrahim Golestan yang amat penting bagi kehidupan pribadi sebagai penyair sampai tiba kematiannya.

Pada tahun 1962 bersama Golestan dia memproduksi film dokumenter tentang koloni penderita kusta berjudul "The House Is Black". Film ini memenangkan beberapa penghargaan internasional. Bernardo Bertolucci datang ke Iran untuk mewawancarainya dan membuat film lima belas menit tentang kehidupannya sebagai penyair. UNESCO, memproduksi film dokumenter 30 menit tentang Forough (1963).

Sebagai penyair, Forough sangat produktif. Tahun 1964, terbit buku puisinya Tavallodi Digar (Kelahiran yang Lain), berisi tiga puluh lima puisi yang ditulisnya selama hampir enam tahun. Forough terus menulis puisi-puisinya. Dia juga menuliskan percakapan makan tengah hari dengan ibuya yang teramat berkesan (Senin, 14/02/1967).

Dalam perjalanan pulang dari rumah ibunya, mobil yang dia kendarai, dia mengalami kecelakaan lalu lintas, tabrakan dengan jip station wagon di persimpangan Jalan Marvdasht  dengan Jalan Loqumanoddowleh - Darrous, di Teheran.

Forough terlempar dari mobilnya. Dia wafat karena cedera di kepala. Seperti yang dituliskannya dalam puisi yang digubah jadi lagu dan dinyanyikan Alireza, dia dimakamkan di bawah 'taburan' salju yang turun di Zahiro-Doleh di Teheran.

Tak lama setelah wafat, buku puisinya diterbitkan dalam bahasa Inggris, bertajuk, "Let Us Believe In The Beginning Of The Cold Season." Dicetak dan diterbitkan setelah kematiannya. Iran, seperti Parviz Shapour - mantan suaminya  dan Kamyar - anaknya, pun berduka.

Makam Forough kerap dikunjungi para peziarah, khasnya para janda dan para lelaki yang mengidolakannya.. Ia simbol penyair perempuan ribel yang sukacita hidupnya terputus tradisi dan konvensi adat. Lagu yang didendangkan Alireza bertajuk nama depannya, seolah minibio yang lirih...  Tragedi itu kini, bahkan menimpa rumah kediamannya yang tak terurus dan nyaris akan hancur |

Editor : Web Administrator | Sumber : Sinarium, AlirezaVClip, Iran Chamber Society
 
Sporta
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 567
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1480
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2365
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 252
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 422
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 416
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 352
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya