Menguji Rasa Memiliki

| dilihat 3979

AKARPADINEWS.COM | Rasa memiliki adalah unsur penting yang patut ada dalam setiap manusia. Rasa memiliki dapat tercipta melalui perasaan, pikiran, dan perbuatan, baik kepada sesama makhluk hidup maupun benda mati. Rasa memiliki akan memunculkan tindakan peduli, terikat, empati, menjaga dan melindungi. Bahkan, rasa memiliki bisa memunculkan motivasi dan semangat yang tinggi. 

Misalnya, dalam kehidupan keluarga, rasa memiliki sebaiknya terpancar pada setiap anggota keluarga. Rasa kasih sayang dan saling menjaga antar keluarga maupun menjaga apa saja benda hidup dan mati yang dimiliki keluarga, seperti binatang peliharaan, rumah, dan harta benda.

Rasa memiliki dalam konsep budaya Jawa memiliki makna filosofi yang dijadikan sebagai pedoman hidup dalam bertindak. Rasa memiliki yang dalam bahasa Jawa, yaitu Rumangsa Melu Handarbeni merupakan sebuah warisan peninggalan Mangkunegara I dalam bidang moral dan etika bernegara.

Ajaran kebaikan tersebut dicetuskannya pada sebuah prasetya bernama Tri Darma. Dua lainnya, yaitu Mulat Sarira Hangrasa Wani (kenalilah dirimu dan bersikaplah berani) dan Wajib Melu Hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan). Mangkunegara I atau RM Said memiliki julukan Pangeran Sambernyawa.

Beliau dilahirkan pada tanggal 7 April 1725 di Keraton Kartasura. Julukan nama pangeran Sambernyawa diberikan oleh Belanda, karena ia sangat cerdik, gesit dan selalu mengadakan serangan mendadak terhadap pasukan Belanda.

Pangeran Sambernyawa adalah cucu dari Amangkurat IV, yaitu raja Mataram pada waktu itu. Ayahnya ialah Pangeran Aryo Mangkunegara yang dibuang oleh Belanda ke Sri Lanka, karena sengketa istana. Setelah Amangkurat IV wafat, ia digantikan oleh Paku Buwana II yang sangat berpihak kepada Belanda. Paku Buwana II adalah paman Pangeran Sambernyawa.

Setelah 16 tahun melawan Belanda (1741 – 1757), akhirnya Pangeran Sambernyawa dapat dibujuk oleh pamannya Paku Buwana II untuk berunding dengan Belanda. Maka ditandatanganilah perjanjian Salatiga pada tahun 1757.

Pangeran Sambernyawa berhak mendapat wilayah Surakarta. Ia pun kemudian menobatkan dirinya sebagai Kanjeng gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunegara I. Ketiga ajaran tersebut sangatlah terkait erat dan tidak bisa dipisahkan. Rumangsa Melu Handarbeni harus diikuti oleh Rumangsa Melu Hangrungkebi. Kalau hanya satu yang dilaksanakan dan meninggalkan yang lain, keseimbangan akan goyah sehingga kedamaian yang diimpi-impikanpun tidak akan tercapai. 

Rumangsa Melu handarbeni memiliki arti merasa ikut memiliki. Ajaran ini memberikan petunjuk bahwa dihubungkan dengan tugas negara, lembaga, dan lain-lain. Maka, seharusnya kita merasa untuk menyayangi pada sesuatu atau seseorang yang kita miliki. Dalam bekerja melaksanakan tugas, kita seharusnya akan lebih bersungguh-sungguh karena sadar bahwa yang kita lakukan untuk kepentingan kita sendiri dan perusahaan.

Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah sense of belonging. Namun, dalam praktiknya rasa memiliki dalam dunia kerja semakin luntur. Rasa memiliki seseorang terhadap profesi atau posisi yang sedang ia duduki di perusahaan seharusnya sangat besar. Terlebih, didasari dengan rasa cinta kepada bidangnya. Jika pekerjaan yang kita sedang lakukan adalah menjadi passion (menjadi berdaya jika dilakukan terus menerus atau tidak bosan), maka rasa memiliki itu akan muncul.

Bahkan, ada yang mengatakan faktor dari sebuah kesuksesan dalam kehidupan seseorang adalah passion. Nyatanya, tidak banyak rasa memiliki dimiliki setiap pekerja. Rasa memiliki bisa diuji ketika perusahaan sedang terancam. Bisa dalam hal pendapatan yang sedang merugi maupun penurunan karya-karya yang dihasilkan karyawannya. Bisa dibilang ketika sedang dalam situasi ini, berbagai sikap setiap karyawan akan diuji. Rasa memiliki harus dimiliki seorang pemimpin perusahaan dan setiap anak buahnya.

Karena, dapat menumbuhkan semangat kinerja dan berkarya. Sehingga tidak hanya mengandalkan satu atau dua orang. Karenanya, penting kirannya kinerja divisi tertentu yang dievaluasi karena dalam perusahaan, keuntungan dan kinerja yang lebih baik dari tahun ke tahun sangat ditentukan oleh kerjasama tim.

Dalam sebuah rapat diskusi atau brainstorming mengenai inovasi, solusi, dan strategi akan sangat tampak jelas dari masing-masing individu. Pendapat dan ekspresi akan berbeda-beda. Di saat itu, ekspresi rasa memiliki akan sangat terlihat jelas.

Dalam rapat evaluasi perusahaan, setiap divisi atau kepalanya akan diketahui peningkatan dan penurunan kinerja. Ketika terjadi penurunan kinerja, maka berarti rasa memiliki terhadap perusahaan kurang. Karena, justru dari sebuah pengakuan kesalahan dengan penjelasan dengan kata sederhana yaitu permintaan maaf dan menawarkan solusi dalam bentuk tindakan konkrit, akan lebih berarti bagi keberlangsungan perusahaan.

Kadang berat mengakui kesalahan karena seolah-olah dalam posisi kalah. Lihat saja betapa banyak pimpinan atau mantan pimpinan berlomba-lomba mengklaim sukses yang ia buat di masanya. Namun saling lempar tanggung jawab bila diangkat mengenai kesalahan kebijakan atau pengambilan keputusan yang ia buat. Bila seseorang bisa mengakui kesalahan, maka secara otomatis akan lebih berupaya mengambil tindakan atas masalah sesuai dengan kemampuannya. Lebih bebas mengalokasi perbaikan dan mengganti arah untuk sukses selanjutnya. Memiliki fleksibilitas yang tinggi dan kreatifitas ketika dalam tekanan.

Permintaan maaf  tentunya harus dengan ketulusan, bukan sebagai suatu alat untuk menghindari terbukanya kesalahan yang lebih dalam. Permintaan maaf, terutama yang keluar dari seorang pemimpin (masing-masing dari setiap individu adalah pemimpin untuk dirinya sendiri) adalah bukti atau praktik penalarannya.

Diawali dengan pernyataan pengakuan atas tanggung jawabnya, seorang pemimpin sebetulnya lebih mudah mengelola risiko, membuka pikiran orang di sekitarnya, membuka diskusi yang lebih dalam, terbuka dan jujur demi koreksi atas dirinya dan apa aksi selanjutnya.

Saat rasa memiliki sudah tertanam di dalam hati, maka wajib melu hangrukebi yang artinya wajib ikut membela, mengingat bahwa yang kita hadapi adalah milik. Dengan demikian, konsekunesinya, kita wajib membela dan memeliharanya dengan sukarela, tanpa diperintah atau  sense of participate voluntrarily defend.

Mulat sariro hangroso wani, artinya mawas diri, untuk kemudian berani bersikap.  Seseoarang yang bertindak sebaiknya melihat ke dalam dirinya dengan jujur, apakah yang akan dilakukan harmonis antara pikiran, perkataan dan perbuatannya atau sense of introspection. Ajaran tersebut tidak mudah dikerjakan. Namun, harus diusahakan agar kesuksesan diraih.

Ageng Wuri RA

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Energi & Tambang
Polhukam
13 Jun 26, 06:26 WIB | Dilihat : 92
Langkah Berani Dato Onn Hafiz
08 Jun 26, 09:46 WIB | Dilihat : 191
Gelombang Biru di Negeri Johor
03 Jun 26, 10:21 WIB | Dilihat : 267
Cabaran Kewartawanan Era Baru
30 Mei 26, 04:47 WIB | Dilihat : 305
Kampanye Humor Kemerdekaan Pers
Selanjutnya