"Bonda Negara" Teladan Telah Berpulang

Tun Hasmah Tiada Banding

| dilihat 172

KABAR duka itu tiba. Senin (28/09/26), pagi, sekira pukul 09.20 waktu Kuala Lumpur, dari Pusat Jantung Negara (National Heart Institute). Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali, berpulang ke haribaan Allah al Khaliq, Rabb Sumber segala cinta dan kasih sayang. Istri Tun Dr. Mahathir Mohamad (Perdana Menteri 4 dan 7 Malaysia) yang 12 Juli 2026 lalu genap berusia 100 tahun.

Dalam sejarah Malaysia, Tun Hasmah adalah perempuan dengan daya cinta luar biasa di balik karir gemilang Tun Mahathir, sosok pemimpin tiada banding, tiada sanding.

Tun Hasmah yang humoris, gemar mengalirkan rasa hatinya dengan menggesek biola dan menekan tuuts - keyboard - piano -- menghantarkan nada dan irama melodius, yang juga piawai berdansa, telah menjalani hidup bersama sebagai suami istri lebih dari tujuh dekade, sejak menerima pinangan dan menikah dengan Tun Mahathir , Agustus 1956.

Dalam memoarnya bertajuk "My Name is Hasmah" - (2016), Allahyarhamah mengungkap kisah cintanya sejak bertemu  saat sama-sama menempuh pendidikan kedokteran di institusi King Edward VII College of Medicine di Singapura.

Tun Mahathir mampu 'meluluhkan' hati perempuan mulia asal Selangor, itu karena kerap hadir sebagai sosok 'pahlawan' yang membantunya menyelesaikan kesulitan dalam menghadapi studi. Khasnya mata pelajaran Fisika dan Kimia. Sekaligus 'menyingkirkan' pria-pria yang menghampiri dengan segak seorang kstaria.

Jodoh sudah dipertautkan Allah Rahman nan Rahim, bersamaan dengan penugasan Hasmah sebagai dokter muda perempuan pertama yang mendapat tugas sebagai petugas media di satuan layanan pemerintah di Kedah, kampung halaman Tun Dr. Mahathir.

Kehidupan keluarga pasangan teladan ini menjadi semarak karena tujuh anak yang menyertai. Empat anak kandung: Marina Mahathir - seorang penulis dan aktivis sosial; Mirzan Mahathir - pengusaha dan profesional - seksekutif industri keuangan; Mokhzani Mahathir - pengusaha dan tokoh korporat Malaysia; dan, Mukhriz Mahathir - politisi, mantan anggota parlemen dari Jerlun - Kedah dan sempat Menjabat Menteri Besar Kedah. Tiga anak angkat, masing-masing: Melinda Mahathir, Maizura Mahathir, dan Mazhar Mahathir.

Sempat Ketar Ketir

Allahyarhamah Tun Hasmah konsisten dengan jalur keilmuan dan profesinya. Meski menjadi istri Perdana Menteri - PM (selama 22 + 2 tahun), ia tetap berkiprah dalam dunia medis dan kesehatan pada umumnya. Memperjuangkan peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pencegahan dan penanggulangan narkotika dan zat adiktif, kesehatan mental.. dan literasi.

Di tengah kesibukan suami sebagai PM dan politisi yang selalu peduli terhadap perkembangan dinamika politik rakyat, termasuk jiwa kebangsaan generasi baru (anak-anak dan kaum belia), Tun Hasmah merawat baik kepedulian dan tanggung jawab sebagai istri. Khasnya, memastikan Tun Mahathir dalam kondisi fit - sehat.

Ketika tetiba Tun Mahathir dalam usia 92 tahun kembali ke kancah politik praktis dan mengemban amanah sebagai PM Malaysia ke 7 (10/5/2018 hingga 24/02/2020), Tun Hasmah sempat ketar-ketir.

Ia paham keterbatasannya dan tak lagi aktif seperti ketika Tun Mahathir menjabat PM ke 4 selama 22 tahun. Namun, sebagai istri, ia tetap menjalankan fungsinya menjadi mitra utama suami.

ASEAN Records mencermatinya, lantas menobatkannya sebagai Pasangan Hidup Tertua (seorang mantan Perdana Menteri).  

Performa Tun Hasmah dan Tun Mahathir sungguh menjadi merupakan pasangan panutan dan idaman. Banyak pasangan yang bercita-cita dapat seperti pasangan ini.

Bagi kalangan perempuan profesional Malaysia, Tun Hasmah adalah model teladan perempuan mandiri berkeilmuan dan berprofesi. Namun ketika mesti memainkan peran sebagai istri seorang pemimpin, negarawan, ia menjalaninya dengan baik.

Ia menjalankan fungsinya sebagai penggerak dalam mencerdaskan kaum perempuan dan khalayak ramai dengan menggerakkan literasi sebagaimana dilakukan juga oleh Tun Mahathir.

Jalan Cinta Belia

Karenanya menjadi menarik, ketika Tun Hasma 'membumikan' peran 'Bonda Negara' sebagai penggerak aktivitas sosial meningkatkan kualitas kaum perempuan terdidik. Sebagai istri berpengetahuan dan bependidikan, Tun Hasma memberi makna atas peran keluarganya sebagai istri dan ibu cerdas.

Suami yang berkiprah dan berkalang di dunia politik yang keras diimbanginya dengan kesadaran dan tanggung jawab mengelola cinta dan kasih sayang, sehingga 'menyelamatkan' dua organ sosiologis : negara dan keluarga.

Mencermati pasangan serasi "ayah bonda" Tun Mahathir dan Tun Hasmah yang nampak adalah kemampuan dan kemauan mengelola perbedaan dan dinamika sebagai cara mewujudkan harmoni dalam keadaan sehat, sakit, suka, dan duka. Kata kuncinya adalah kejujuran dan keikhlasan dalam memainkan fungsi: pemelihara cinta dan kasih sayang di satu sisi, dan perlindungan di sisi lain.

Jalan cinta belia mahasiswa Tun Mahathir dan Tun Hasma dari jumpa pertama (1947) sampai menikah (1956) adalah cerita cinta yang menjadi proses mengelola baik nalar, naluri, nurani, dan rasa yang kelak menjadi kesadaran mengelola keluarga laksana menanam benih, menyemai, merawat, dan menuai kasih sayang dan keindahan yang dilakukan dalam segala cuaca dan suasana.

Kesadaran dan kemampuan mengelola keluarga sedemikian yang menyebabkan hubungan dan interaksi pasangan ini dengan anak-anak menjadi indah. Kemampuan mengelola kasih sayang di dalam keluarga ini yang lantas menjadi bekal dan cara mengasihi dan mencintai sebagai orang tua bagi rakyat Malaysia keseluruhan. Karenanya, jangan heran bila kecintaan rakyat kepada Tun Hasmah dan Tun Mahathir sedemikian kuat.

Yang sungguh menarik kemudian adalah bagaimana ketika Datin Paduka Marina lahir (1957), lalu disusul kelahiran Mirzan, Tan Sri Mokhzani, dan Datuk Seri Mukhriz. Lantas, pada tahun 1960, pasangan ini mengadopsi Melinda. Kemudian, pada tahun 1983 mengadopsi Mazhar dan Maizura.

Hal lain, yang amat menarik dari Tun Hasmah sampai masa tuanya adalah bagaimana mengedepankan resam, adat, dan budaya Melayu. Tun Hasmah dalam acara resmi atau dalam kehidupan sosial, selalu memposisikan dirinya satu dua langkah di belakang Tun Mahathir.

Hairun Naas Anfa'uhum lin Naas

Suatu ketika, Tun Hasmah mengemukakan, resam, adat, dan budaya Melayu itu mendidiknya, bahwa dalam hal fungsi kepemimpinan formal -- sebagai politisi atau negerawan -- suaminya, posisinya hanyalah seorang istri. Bukan sesuatu yang pertama dan utama. Namun, dalam konteks pendidikan keluarga, istri adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Banyak pelajaran berharga dapat dipetik dari Allahyarham Tun Hasmah sebagai kaum perempuan terdidik dan berilmu -pengetahuan, yakni bagaimana menjaga pola makan yang terkait dengan kesehatan.

Kemudian bagaimana menjaga dan memelihara suasana hati dalam sukacita dan kegembiraan, dalam masa-masa tertentu dengan keluarga.

Suasana hati harus dibina dalam suasana interaksi keluarga laksana denting piano dan nada dari getar dawai biola. Cinta yang menyegarkan, laksana udara yang segar.

Hal lain, adalah kesadaran imani, bahwa manusia adalah makhluk yang mesti menebar kasih sayang kepada semesta, sebagai bagian dari manifestasi cinta kepada Al Khaliq.

Kita berduka dengan pemergian Tun Hasmah, seraya kita menyadari betapa Allahyarhamah dan Tun Mahathir sungguh telah menjadi cermin untuk memaknai hakikat, "Hairun naas anfaa'uhum lin naas.." - sebaik-baik manusia adalah yang adanya bermanfaat luas bagi begitu banyak manusia.

Selamat berpulang ke Allah Al Khaliq Sumber segala cinta dan kasih sayang.. Allahummaghfirlaha warhamha waafihi wa'fuanha waakrim nuzuulaha wa wasi' madhalaha.. inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun.. | Bang Sèm

Editor : haedar | Sumber : iasha, sharia, chedet, dan lainnya
 
Ekonomi & Bisnis
08 Agt 26, 19:08 WIB | Dilihat : 364
Bukan Karena Wangsit
28 Jul 26, 00:07 WIB | Dilihat : 649
Destry Pjs Gubernur BI
22 Jul 26, 23:27 WIB | Dilihat : 727
AirBorneo Kebanggaan Rakyat Negeri Sarawak
Selanjutnya
Polhukam
28 Sep 26, 21:21 WIB | Dilihat : 15
Dunia Tak Memerlukan Janji Baru
27 Sep 26, 19:08 WIB | Dilihat : 132
Nyali Presiden dan Delegasi Iran Menghadiri MU PBB 81
25 Sep 26, 02:15 WIB | Dilihat : 169
Kejahatan Perang Israel di Gaza dan Tepi Barat Palestina
Selanjutnya