
Di musim tengkujuh masyrik alias monsun timur yang bersekutu dengan El Niño (sejak Februari hingga Februari 2027), dengan suhu berkisar antara 25o - 35o C yang mengglobal bagi generasi platinum dan generasi emas, tak ada pilihan lain, kecuali tahu diri.
Pemerintah sejumlah negara Eropa -- khasnya Inggris Raya, Prancis, dan Jerman -- mewanti-wanti warganya untuk senantiasa waspada dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi.
Bagi mereka yang berdomisili di wilayah Indo Pasifik, frekuensi Siklus El Niño-Southern Oscillation (ENSO) secara keseluruhan berulang secara tidak teratur. Kadang berganti-ganti antara kondisi El Niño, La Niña, dan netral.
Situasi perang yang berlangsung antara Ukraina versus Russia, Amerika Serikat + zionis Israel versus Iran yang melebar kemana-mana akan menambah persoalan pemanasan global.
Kelakuan buruk manusia yang menantang semesta dengan deforestasi dan pembakaran hutan -- termasuk kawasan gambut -- besar-besaran dan bad mining practices akan memperparah keadaan.
Berbagai peringatan global untuk mereka yang tinggal di belahan bumi kawasan 'cincin api,' kudu dipahami sebagai isyarat. Kemungkinan bencana dan petaka (gempa bumi, erupsi gunung berapi) dan berbagai fenomena alam bisa datang bersamaan waktu, kapan saja.
Meski semesta yang ditantang oleh ulah pandir dan pongah manusia tak dengan serta merta menunjukkan 'murka'-nya, pahamilah bencana dan petaka boleh jadi sedang menunggu giliran.
Manusia sering alpa. Tengkujuh masyrik, yang masih menunjukan rahman dan rahim-Nya, sehingga memberi peluang bagi petani melakukan panen yang melimpah dengan tenang.
Para petani yang berpengalaman berinteraksi dengan semesta akan sungguh memanfaatkan situasi dan kondisi terbaik untuk bersyukur nikmat.
Pengetahuan dan pengalaman mereka 'membaca' curah hujan yang rendah, telah memungkinkan mereka mengantisipasi cara (tak sekadar intuitive reason) untuk bagaimana mengendalikan kekhawatiran bila kelak menghadapi hujan lebat yang mengawali pergantian musim.
Tengkujuh masyrik melatih kepekaan naluriah alamiah mereka mengelola nalar dan naluri memanfaatkan keadaan untuk kepentingan meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi pertanian mereka.
Terik matahari pada musim tengkujuh masyrik menyediakan sinar matahari dengan volume yang cukup dan kualitas yang baik sebagai manifestasi rasa syukur tak terbilang.
Pun demikian halnya dengan para nelayan yang dapat melaut dengan tenang, meningkatkan kewaspadaan dalam aktivitas melaut yang mampu meningkatkan produktivitas.
Selari dengan hal tersebut, tengkujuh masyrik juga melatih khalayak tradisional di pedesaan dan pesisir (terutama daerah terpencil) untuk sigap menemukan sumber air bersih yang kian jarang (mulai berkurang) bilangan sumbernya karena kekeringan.
Dari pengalaman siklus musim tengkujuh masyrik, khalayak (khasnya di perkotaan) yang terbiasa hemat menggunakan air bersih (khasnya pengendalian sumur bor) tak terlampau risau. Kebiasaan menggunakan dan memanfaat air bersih secara mankus dan sangkil akan sangat menolong.
Bagi generasi platinum dan emas dengan kondisi tidak fit, tengkujuh masyrik adalah momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala, seraya tak putus berdo'a memohon kema'afan dan ampunan.
Di sejumlah hospital dan rumah tangga, mereka tak hanya dibekap oleh kesehatan jasmani dan ruhani, kurang tidur karena waktu-waktu rehat mereka telah dirampas oleh gundah gulana. Antara lain akibat mimpi yang berubah menjadi halusinasi kelam.
Generasi platinum dan emas yang karena keadaan hidup sebatang kara kudu ekstra hati-hati. Gangguan fisik dan mental seringkali membuat situasi menjadi sangat teruk.
Jatuh, tersungkur, dan terhenyak di kamar mandi, kamar tidur, dan dapur seorang diri dengan segala kerumitan dan kendala menolong diri sendiri akan berdampak lebih buruk, kendati ajal yang menentukan Allah subhanahu wa Ta'ala.
Para anak, menantu, dan cucu perlu lebih peka kepada mereka. Tak ada kelirunya untuk menghubungi mereka secara virtual atau mengunjunginya. Khasnya mereka yang sensitif dengan stress dan depresi akibat trauma.
Jangan pernah menganggap mereka manja dan menjadi beban. Apalagi generasi platinum dan generasi emas yang masih mandiri dan konsisten - konsekuen menjalani tanggung jawab dan mengatasi persoalan kehidupan mereka.
Tengkujuh masyrik adalah fenomena hidup alamiah. Akan berakhir kala waktunya sudah tiba... | [ Sekong : 16.09.26 ]