Angen Santak

| dilihat 85

Bang Sèm

SALAH satu tantangan alaf 21 yang mesti menjadi prioritas perhatian khalayak bangsa-bangsa di dunia adalah kesadaran kolektif global untuk merawat bumi dalam makna yang luas, bertalian dengan relasi alamiah : ekologi - ekosistem - ekonomi. 

Era industri sebagai proses lanjut era perburuan dan era agraris dalam banyak hal telah mengubah orientasi budaya manusia dari pelaku utama kesadaran lingkungan (environmental consciousness, ecological consciousness, pro-environtmental behavior) menjadi perusak utama lingkungan (environmental and ecological destroyer).

Perubahan orientasi dan perilaku tersebut kian parah pada dua dekade penghujung Alaf XX, kala kapitalisme global meruyak ke seluruh jagad digerakkan oleh kerakusan luar binasa bersama arus besar materialisme kaum jahil yang tamak disertai dengan naluri kolonialis zionis memicu, memantik dan mengobarkan perang, seperti dilakukan zionis Israel dan Amerika Serikat.

Allah Mahapencipta menciptakan manusia sebagai sebaik-baik (rupa jiwa) - makhluk -- ahsanit taqwim -- dengan memberi instrumen atau perangkat utama : nalar, naluri, rasa, dan indria (dria), harmoni fisik dan psikis. Bukan sebagai khayawan an nathiq (hewan yang berakal).  

Karenanya manusia diberi kedudukan terhormat sebagai khalifah (ambassador ilahiah) di atas muka bumi, mengemban tugas dan tanggung jawab mulia menebar rahmat atas semesta. Tidak terbatas hanya sebagai penjaga atau bumi, melainkan sebagai pemandu bagi insan sesama menjalankan tugasnya memelihara semesta, dengan berbuat baik dan menyelenggarakan kebaikan, sekaligus bertindak tegas terhadap siapa saja perusak bumi dan lingkungan hidup.

Dalam kehidupan budaya khalayak dimanifestasikan dalam beragam bentuk: tradisi, ritus, adat dan resam yang mewujud dalam bentuk perilaku hidup yang efektif dan efisien, tidak boros dan tidak serakah yang berakibat pada eksploitasi atas alam secara semena-mena. Termasuk di dalamnya bersikap cinta kasih - rahman rahim terhadap makhluk lain (flora dan fauna).

Dalam konstelasi triangle of life (relasi Allah - Manusia - Semesta) sebagai pemelihara harmoni, manusia dengan otoritas dan budayanya bertanggungjawab menciptakan kondisi yang memungkinkan flora, fauna, dan planet dikelola secara adil. Dengan cara ini, hamparan hutan dan belantara akan berfungsi optimum mencegah terjadinya percepatan krisis energi, pangan, dan air yang berdampak sangat luas.

Di sisi lain, dengan merawat dan melindungi semesta, termasuk menebar cinta dan kasih sayang kepada flora dan fauna untuk menjamin tata hidup alam yang seimbang, mengurangi terjadinya perubahan iklim yang anomali dan mengurangi pemanasan global, manusia mewujudkan tanggung jawab personal dan sosialnya sebagai subyek kehidupan.

 

Moratorium

Sebagai Mahakreator menegur manusia yang melakukan kerusakan dan penghancuran budaya (melalui lingkungan hidupnya) -- gunung-gunung dibarubuh (bad mining practises), tatangkalan dituaran (deforestasi) -- berakibat semesta mengirimkan petaka: cai caah babanjiran, bhuwana marudah montah -- berupa banjir bandang, tanah longsor, tsunami, gempa bumi, gunung meletus, pandemi penyakit, dan fenomena alam lainnya.

Dalam hal deforestasi -- yang dilakukan untuk kepentingan memperluas perkebunan monokultur bagi menggapai obsesi dan ambisi -- secara alamiah dan ilmiah terbukti >mengubah 'angèn santak' - badai siklon menjadi tragedi yang datang berulang-ulang dan menimbulkan derita akibat kerusakan.

Kerusakan sebenarnya terjadi ketika curah hujan ekstrem bertabrakan dengan ekosistem yang sudah melemah. Hasilnya adalah bencana yang mematikan. Ketika hutan ditebang dan lahan terdegradasi, ekosistem kehilangan kemampuan alaminya untuk bertindak sebagai 'spons.' Air hujan yang dulunya meresap perlahan ke dasar hutan kini mengalir deras di atas tanah, berubah menjadi limpasan deras yang menghantam rumah-rumah penduduk (The Jakarta Post, 9/12/2025).

Penelitian para ilmuwan NASA dan Universitas Tulane (New Orleans) dalam penelitiannya sampai pada kesimpulan, kerusakan besar hutan Amazon terbabit dengan kekeringan dan  angèn santak yang menghantar petir besar melanda seluruh kawasannya (Jet Populsion NASA. 2005). Kerugiannya jauh lebih besar daripada yang diduga sebelumnya.

Penelitian ini menunjukkan, angèn santak memainkan peran yang lebih besar dalam dinamika hutan Amazon daripada yang sebelumnya. Studi para ilmuwan NASA tersebut mengisyaratkan satu garis angèn santak (garis panjang badai petir hebat, jenis badai yang terkait dengan petir dan hujan lebat) berperan penting dalam kematian pohon. Penelitian menunjukkan bahwa jenis badai ini mungkin akan lebih sering terjadi di masa depan di Amazon karena perubahan iklim, mematikan lebih banyak pohon dan melepaskan lebih banyak karbon ke atmosfer (Chambers, 2010).

Di Asia Tenggara, moratorium penebangan hutan untuk perkebunan monokultur di Malaysia (antara lain dari Johor, Pahang,  Kedah, Kelantan, Terengganu, Sarawak, dan Sabah) ditempuh sebagai cara mencegah terjadinya bencana dan datangnya angèn santak membawa petaka. 

Pemerintah berbagai negara bagian di Malaysia, itu menempatkan moratorium sebagai bagian tak terpisahkan dari akhlak kepada semesta. Bagaimana dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya ? |

Editor : haedar | Sumber : NASA dan sumber lain
 
Sainstek
Ekonomi & Bisnis
28 Jul 26, 00:07 WIB | Dilihat : 268
Destry Pjs Gubernur BI
22 Jul 26, 23:27 WIB | Dilihat : 226
AirBorneo Kebanggaan Rakyat Negeri Sarawak
08 Mei 26, 12:51 WIB | Dilihat : 508
Mendorong Stabilitas dan Konektivitas Regional ASEAN
Selanjutnya