Gairah dan Ghirah Pejuang Iran Kian Membara

| dilihat 264

catatan jeahan

Waktu bergerak sedemikian cepat di tengah berbagai dinamika dan peristiwa dunia. Perang Iran sudah memasuki hari keenam, sejak zionis Israel -- yang didukung 'induk semangnya' - Amerika Serikat -- menyerang Teheran (Sabtu, 28.02.26). Gairah dan Ghirah Pejuang Iran terus Membara.

Serangan tiba-tiba yang menerjang sekolah, di salah satu sudut ibukota Tehran, itu tak hanya menewaskan puluhan siswa tak berdosa. Jauh dari itu, juga merusak dan membuyarkan proses perundingan damai -- tentang nuklir -- sedang berproses.

Tindakan zionis yang buruk dan tak beradab, itu mengemuka dan dirutuk kutuk berbagai kalangan di berbagai belahan dunia, sebagaimana mengemuka dalam pemberitaan media --- arus utama ataupun media sosial.

Selama hampir sepekan perang Iran, banyak peristiwa kemanusiaan, yang memacu perang tak bakal segera berakhir.

Gugur dan syahidnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatolah Syed Ali Hussain Khamenei beserta istri, menantu, dan cucunya dalam serangan zionis yang sengaja diarahkan ke kediaman - yang juga berfungsi sebagai kantornya.

Upaya untuk melindungi dan menjamin keamanan diri Ayatollah Ali Khamenei sudah dilakukan oleh pasukan khas Garda Revolusi Iran. Beberapa tawaran diajukan kepada Syed: pindah ke luar kota, belindung dalam bunker, dan lainnya.

Sebagai pemimpin yang tawaddhu' dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari rakyatnya, Syed Khamenei tak menolak tawaran tersebut. Ia akan meneima tawaran tesbut, bila 90 juta rakyatnya sudah lebih dulu mendapatkan perlindungan.

Karena tak mungkin dipenuhi pasukan khas Iran, Syed Khamenei memilih tetap berada di kediamannya. Ia ingin menghadapi situasi bersama rakyat dan keluarganya.

Gairah dan Ghirah Pejuang Iran

Lantas terjadilah serangan zionis Israel ke kediaman Syed Khamenei. Syed Khamenei, cucu dan menantunya gugur. Isterinya, menyusul sehari kemudian. Semuanya menjadi martir.

Peristiwa ini bak memompa gairah dan ghirah pejuang dan rakyat Iran. Jutaan rakyat Iran berduka. Ribuan orang menghantar Syed Khamenei, istri, menantu, dan anaknya ke pemakaman.

Boleh jadi, Donald Trump - Presiden Amerika Serikat (AS) dan penjahat perang - Perdana Menteri zionis Israel Netanyahu bersukacita mendapat kabar gugurnya Syed Ali Khamenei. Lantas beranggapan, gairah para pemimpin perang untuk terus berlaha bakal mengendor.

Kenyataannya berbeda. Iran melakukan serangan balik. Serangan tersebut menyasar ke Israel dan sejumlah pangkalan udara dan laut Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, Doha, Arab Saudi, Yordania, Uni Emirat Arab dan lain-lain. Oman tak disentuh.

Iran yang sudah melakukan pembalasan hanya beberapa jam setelah diserang zionis Israel dan AS, membuat warga Tel Aviv, Haifa, dan sejumlah kota pendudukan zionis Israel lintang pukang menuju bunker dan tempat pelindungan lain.

Selama beberapa hari -- sampai Kamis (05.03.26) Iran seolah-olah sedang menghabiskan stok lama rudal dan persenjataan lainnya. Termasuk menggunakan drone murah untuk menghunjam pasukan AS dan zionis Israel.  Informasi yang belum terverifikasi menyebut tak kurang dari 650 serdadu AS mati.

Tel Aviv dan berbagai kota Israel, juga kota-kota negara Arab pendukung AS - Israel mencekam. Trump panik. Ia mengeluarkan pernyataan, laksana igauan pemabuk, menuding Iran sangat brutal dan  jahat.  Ia terus meracau.

Iran tak hirau. Dukungan kepada Iran terus mengalir. Dari Afrika, Pemimpin Burkina Faso - Kapten  Ibrahim Traoré -- yang anti Barat -- menyatakan siap membantui mengirim pasukan dan senjata bila diminta.

Sejak Kamis, Iran mulai menggunakan senjata anyar hasil memadu-padan kebersihan tauhid, kejernihan sains dan teknologi, serta ketangkasan siyasah (cara dan metodologi) me.

Rakyat Iran Tenang

Sikap Iran sudah jelas, tak kan melanjutkan perundingan yang telah dirusak AS, sebagaimana dikemukakan Menlu Iran Abbas Araghchi. Sikap Iran makin tegas dan keras. Seirama dengan nada pernyataan tersebut, di medan perang, sejak Kamis itu pula Iran mulai mengeluarkan produk anyar sistem persenjataannya.

Meski dalam gempuran AS dan zionis Israel, warga Iran nampak cenderung tenang menghadapi situasi. Berbeda kontras dengan warga zionis Israel yang cemas, was was, dan penuh ketakutan mencari tempat perlindungan.

Di kota utama sasaran serangan Iran (Tel Aviv dan kota-kota lainnya di Israel), sirene peringatan bagi warga kota tak usai sudah meraung dan melaung.

Serangan itu berlangsung hanya beberapa jam setelah upaya untuk mengendalikan kampanye udara AS terhadap Iran, diblokir di Senat.

Para anggota parlemen Partai Republik menolak resolusi yang berupaya menghentikan serangan udara dan mensyaratkan otorisasi kongres secara eksplisit untuk tindakan militer lebih lanjut. Tapi, rancangan tersebut gagal dalam voting: 53 - 47, sebagian besar berdasarkan garis partai.

Trump berusaha menutupi kegusarannya dengan terus menerus meracau di hadapan wartawan Gedung Putih dan akun media sosialnya. Sedangkan Iran, terus bergerak kian bersemangat dan bergairah memenangkan perang -- sejak gugurnya Syed Ali Khamenei.

Di tengah situasi demikian, tak sedikit negara - tanpa kecuali yang berada di 'pojokan' dalam percaturan dan belum menjadi aktor utama di panggung global ingin memediasi Iran dengan USA dan zionis Israel. Iran menolak. Bagi Iran, negara-negara yang tak jelas sikapnya lebih baik berkonsentrasi mengurusi rakyat saja..

Irama perang Iran vs AS - zionis Israel --  sendiri, bakal melandai pada saatnya, bila AS dan Israel tahu diri pada kelakuannya yang pongah. Meningkatnya eskalasi perang udara, meluasnya pertempuran laut, dan kian goyahnya upaya diplomatik, perang tersebut bakal membuat AS menyiapkan serdadunya untuk perang.

Iran tak mudah terpancing oleh muslihat AS dan zionis Israel. Apalagi, Selasa (03.02.26) malam, Komando Serangan Global Angkatan Udara - AS, meluncurkan Minuteman III, rudal balistik antarbenua (ICBM) Minuteman III tanpa hulu ledak dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg di California.

Minuteman III dapat membawa hulu ledak hingga 20 kali lebih kuat daripada bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima. Karenanya, rudal ini dijuluki juga sebagai 'Rudal Kiamat.'  Jadi? Perang Iran bakal berkepanjangan? |

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
10 Mar 26, 09:41 WIB | Dilihat : 216
Mengenang Profesor Diraja Syed Muhammad Naquib Al Attas
18 Feb 26, 13:51 WIB | Dilihat : 565
Selamat Tiba Ramadan
04 Feb 26, 08:06 WIB | Dilihat : 318
Sebagai Agen Perubahan Guru Wajib Sejahtera
Selanjutnya
Sporta