Trump Anggap Penyerangnya Preman Sakit

| dilihat 98

WASHINGTON DC | SUARA letusan senjata sebanyak lima kali yang terjadi pada saat berlangsung acara Makan Malam Gala Wartawan Gedung Putih bersama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Ibu Negara Melanie Trump, Wakil Presiden JD Vance dan sejumlah Menteri di Washington - Hotel, Sabtu malam (Ahad pagi waktu Indonesia) 26/4/26), itu mengejutkan.

Makan Malam Gala yang digelar Asosiasi Wartawan Gedung Putih itu pun ternoda. Petugas keamanan berhasil menyelamatkan Trump, Melanie, Vance, para menteri dan sejumlah tokoh lainnya. Al Jazeera, C-Span, dan sejumlah media mengabarkan, tak ada petinggi AS itu yang terluka. Disebutkan juga, penembakan terjadi di luar tempat acara makan malam gala, itu.

Trump dan para petinggi AS tersebut, bahkan melakukan konferensi pers di Gedung Putih, beberapa waktu kemudian. Presiden AS itu tampil dengan gayanya yang khas dan menyampaikan informasi hiperbolis.

Trump mengatakan, letusan senjata itu berasal dari senjata seorang lelaki yang telah menyerbu pos pemeriksaan keamanan. Petugas  Secret Service dengan cepat, 'melumpuhkan'-nya.

Trump menganggap dan menggambarkan tersangka pelaku penembakan malam Ahad, itu seorang 'preman' yang 'sangat sakit,' dan serangan tersebut terbilang sebagai serangan atas Konstitusi AS.

Kendati demikian, salah seorang petugas Secret Service tertembak dalam serangan itu, namun selamat berkat rompi anti pelurunya dan "dalam keadaan baik."

Trump mengemukakan, peristiwa  terhadap dirinya sejak masa kampanye Pemilihan Presiden AS 2024. Pada saat itu, Thomas Crooks menembakkan delapan tembakan ke arah Trump selama acara kampanye di Butler, Pennsylvania, menewaskan seorang warga sipil dan melukai telinga kanan Trump, sebelum ia ditembak mati oleh Secret Service

“Seperti yang Anda ketahui, ini bukan pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir republik kita diserang oleh calon pembunuh yang berusaha membunuh,” kata Trump.

Ia lantas mengemukakan, “Mengingat peristiwa malam ini, saya meminta semua warga Amerika untuk kembali berkomitmen sepenuh hati menyelesaikan perbedaan kita secara damai."

Trump Jadi Target Serangan

Dinas Rahasia mengatakan penembakan itu terjadi di “area pemeriksaan” dan satu orang telah ditahan. “Kondisi mereka yang terlibat belum diketahui, dan penegak hukum sedang aktif menilai situasi,” kata pimpinan dinas rahasia itu.

Menjawab pertanyaan seorang reporter, Trump merasa yakin dirinya menjadi target serangan tersebut.

Sebelum acara jumpa pers tersebut, Trump memposting gambar di akun Truth Social-nya, seorang yang disangka pelaku  tergeletak di lantai.

Ia juga memposting cuplikan video pengawasan yang menunjukkan seorang pria berlari melewati petugas keamanan, kemudian mengeluarkan senjata, lalu melepaskan tembakan.

Rekaman dari tempat makan malam menunjukkan Trump dan peserta lainnya berlindung di balik meja mereka setelah tembakan terdengar.

Pada saat bersamaan terdengar sejumlah orang berteriak, “Bersembunyi!” dan “Tetap bersembunyi!” Lantas, Trump dilarikan dari tempat kejadian. Sejumlah pengawalnya, dengan senjata lengkap mengerumuni meja tersebut.

Al Jazeera menukil keterangan Jeanine Ferris Pirro, jaksa Distrik Columbia. Menurut Pirro, tersangka akan didakwa mernggunakan senjata api selama kejahatan atau kekerasan dan penyerangan terhadap petugas federal dengan menggunakan senjata berbahaya.

Tak Ada Tempat bagi Kekerasan

Diberitakan pula, Direktur FBI Kash Patel mengatakan petugas mulai memeriksa latar belakang tersangka dan meminta anggota masyarakat yang memiliki informasi relevan untuk melapor.

“Tidak ada informasi yang terlalu kecil. Tidak ada informasi yang tidak memadai. Kami akan mengevaluasi semuanya,” kata Patel.

Beberapa media AS mengidentifikasi tersangka sebagai Cole Tomas Allen, 31 tahun, dari Torrance, California.

Selama ini, hubungan Trump dengan kalangan Pers tidak baik-baik saja. Ia telah menggugat beberapa media dan menuding sejumlah media di AS yang dianggapnya tidak menyampaikan informasi secara benar dan akurat. Terutama terkait dengan berbagai aksi dan pernyataan dia tentang Palestina dan perang AS - Zionis Israel versus Iran.

Malam itu, untuk pertama kalinya sebagai Presiden AS, ia memenuhi undangan Asosiasi Wartawan (yang bertugas) di Gedung Putih yang menyelenggarakan acara makan malam gala untuk perayaan tahunan kebebasan pers.

Peristiwa Sabtu malam tersebut beroleh reaksi sejumlah Kepala Negara dan Pemerintahan, termasuk Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, Perdana Menteri India Narendra Modi, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, yang mengutuk serangan tersebut.

“Kekerasan tidak memiliki tempat dalam demokrasi dan harus dikutuk tanpa syarat,” kata PM Modi dalam sebuah unggahan di X.

“Hari ini, kita membutuhkan tingkat keamanan yang mungkin belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya,” kata Trump pada konferensi pers hari Sabtu, sebelum berjanji untuk menjadwal ulang makan malam pers.

“Kita tidak akan membatalkan acara, karena kita tidak bisa melakukan itu,” kata Trump.

“Kami ingin tetap di sini malam ini. Saya akan memberi tahu Anda, saya berjuang mati-matian untuk tetap di sini… Tapi protokol tak memungkinkannya,’” kata Trump.

Karpet Merah

Acara Makan Malam Gala tersebut agak tak biasa. Digelar dengan format acara yang istimewa, semacam acara yang biasa digelar bagi kalangan selebriti Hollywood. Acara malam itu menjadi istimewa karena karena kehadiran Presiden Trump, Melanie Trump dan Wakil Presiden JD Vance yang melangkah di atas karpet merah,

Makan Malam Gala yang digelar di hotel ikonik Washington DC tersebut mengagendakan pidato apresiasi dan pernyataan Trump.

Acara tersebut juga nampak istimewa, karena terbilang sebagai acara yang dihadiri banyak pejabat pemerintahan Trump, termasuk penasehat Presiden dan anggota Kongres AS. Kehadiran mereka, menurut sejumlah wartawan yang hadir, sebagai pertanda baik bagi hubungan Trump dengan media dan wartawan.

Trump, Vance, dan para petinggi pemerintahan Trump yang hadir dikomentari sebagai para 'gentleman' yang menjaga Amandemen Pertama Konstitusi AS ihwal kebebasan Pers. Karenanya, kehadiran Trump cum suis dipandang sebagai awal untuk mengubah hubungan tak baik selama ini.

Jelang acara dimulai, pembawa acara menginformasikan kehadiran Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih, Trevor Honeycutt (Reuters), Courtney (Bloomberg News), Brian Bennet (Times), dan tentu Weija Jiang (Presiden Asosiasi Wartawan Gedung Putih dari CBS News), dan lain-lain.

Ketika Trump (Presiden ke 45 dan 47 AS) dan Melanie melangkah di karpet merah menuju ruangan Makan Malam gala tersebut, terdengar lagu 'Hail to the Chief' yang disambut tepuk tangan undangan yang hadir.

Lantas, pasukan pengibaran bendera negara dari pasukan gabungan tentara AS memasuki ruangan membawa panji-panji, Kemudian lagu kebangsaan AS dinyanyikan bersama dengan iringan korps musik - band korps marinir.

Tak berapa lama dari mulainya acara, terdengar lima letusan senjata. Presiden, Ibu Negara, Wakil Presiden, dan para petinggi pun dilarikan dari ruangan untuk diselamatkan.  | jeanny

Editor : haedar | Sumber : C-SPAN, Al Jazeera, PBS, WH dan berbagai sumber
 
Lingkungan
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 797
Jangan Pernah Menentang Semesta
04 Agt 25, 02:48 WIB | Dilihat : 1475
Almaty Kazakhtan Sentra Suara Akal Sehat
16 Jun 25, 13:19 WIB | Dilihat : 1694
JFF 2025 Menyegarkan Imagineering Jakarta
Selanjutnya
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 353
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 661
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 763
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya