AKARPADINEWS.COM | TIDAK banyak yang menyangka bila di antara himpitan perumahan, terdapat ruang inspiratif bernama Ladang Tari Nan Jombang. Tahun ini, di studio tari yang memiliki dua panggung indoor dan outdoor, untuk kedua kalinya, Nan Jombang Dance Company, menghelat Kaba Festival, 11-13 Desember 2015 lalu.
Menurut Erry Mefri, pimpinan Nan Jombang, event ini digagas untuk memunculkan pasar dalam mengangkat potensi lokalitas Minangkabau, Sumatera Barat. “Pasca reformasi, potensi besar selalu dipandang dari pusat seperti Jakarta atau Bali. Di daerah Minangkabau, potensi tidak kalah banyak,” tutur Erry yang mendirikan Nan Jombang sejak 1 November 1983.
Festival ini menarik lantaran bertolak dari keyakinan bahwa proses yang dilakukan seniman adalah hal yang terpenting dibanding hasil. Selain itu, potensi Minangkabau memang tak kalah memukau dengan seni pertunjukan dibandingkan kota-kota besar lainnya, bahkan di negara-negara barat.
Dalam festival tersebut, juga tidak mengulas tema khusus, yang dikhawatirkan mengkerdilkan kreativitas seniman. Proses kurasi pun dilakukan bersama-sama, dari hasil karya Festival Nan Jombang yang dipentaskan setiap bulan di Ladang Tari Nan Jombang. Dari hasil kurasi tersebut, tahun ini, terdapat enam kelompok yang unjuk panggung. Lima kelompok sama dengan tahun 2014, lalu ditambah La Paloma sebagai kelompok tambahan.
Bagi Erry, mayoritas seniman kita selalu menunggu event dan di Kaba Festival diciptakan ruang untuk mereka yang berproses, tidak hanya satu kali saja, sembari menunggu karya selanjutnya.
Di mulai pertunjukan pertama, alunan saluang bergema dengan lirih di seluruh ruang. Sementara di luar, terdengar rintik gerimis, yang menggiring penonton pada atmosfer yang sublim. Bunyi pengantar ini adalah ungkapan Rindu Bagumam sebagai puncak kerinduan yang menyiratkan kedalaman kasih sayang seorang ayah pada puteranya yang telah tiada.
Penghayatan rasa kehilangan ini ditransformasikan Hasanawi sebagai komposer bersama Langkok Grup pada karyanya berjuluk Dendang Rindu dan Dalam Doa Rindu Dikirimkan.
Mencari inspirasi ke dalam diri itulah yang dilakukan Hasan. Kehilangan seorang anak, serupa bumi dan langit menyatu. Yang ditinggalkan terasa terhimpit di tengahnya. Apalagi, kehilangan akibat kecelakaan tragis. Sebagai seniman, Hasan mengungkapkan kerinduannya melalui musik.
Komposisinya tidak hanya melalui instrumen saluang dan rabab. Lantunan dendang syair yang digubahnya sendiri turut menjadi pelengkap. Sedangkan pada komposisi kedua, barisan zikir dan doa, melantunkan shalawat dulang dengan diiring beberapa pemusik dengan khusu, tempo yang cepat dan berulang.

Sebagai pertunjukan pertama, membuka perhelatan Kaba Festival pada 11 Desember lalu, Hasan menjadikan musik menjadi media paling intim untuk mengekspresikan perasaannya yang kehilangan. Menariknya, komposisi musik ini turut menggugah jiwa spiritual, di mana seni menyerupai sebuah ritual untuk media memanjatkan doa dan penyampaikan pesan serta mendekatkan diri pada sesuatu yang lebih transendental.
Berbeda dengan penampil kedua, Impresa Dance Company, dengan koreografer Joni Andra, yang mengisahkan kisah hidup orang-orang yang terjangkit HIV/AIDS (ODHA). Karya berjudul Sembilan Perjanjian Darah ini cukup mengejutkan. Sebab, hanya segelintir koreografer seperti Andra yang mengangkat tema yang mewakili isu yang sensitif, nyata yang terjadi di sekitar masyarakat Minang yang kuat dengan adat-istiadatnya.
Kebanyakannya, para koreografer dan sutradara mengambil tema-tema yang berpijak pada tradisi Minang sebagai inspirasi karyanya. Namun, serupa dengan Hasanawi, Andra mengangkat tema yang paling dekat dengan pergumulan kehidupan kesehariannya. Selain koreografer, Andra bersama Erry Mefri, adalah pendiri Yayasan Lentera yang fokus menangani para penderita HIV/AIDS. Mereka adalah manusia-manusia yang diasingkan, sebelum menghadapi kematian.
Sembilan Perjanjian Darah akan menjadi karya pamungkas Andra yang menyoal tema HIV/AIDS setelah Nyanyian Kematian, Darah Jantan, dan Ratak Nyao. Judul pertunjukan ini terasa cukup sadis dengan simbolisasi kata darah, dan semakin menggelitik imajinasi karena narasi tari ini berkisah tentang sembilan tahapan yang harus dilalui penderita HIV/AIDS yaitu: vonis, dilema, stigma, infeksi oportunistik, terapi, frustasi, diskriminasi, depresi, dan kematian.
Penjelasan siklus ini sepertinya bertujuan untuk merangsang empati dan menanamkan harapan pada penderita, sekaligus membuka mata penonton bila kasus HIV/AIDS tampak seperti puncak es, namun di bawahnya begitu dalam kasus dan penderitaan tersebut.
Sayangnya, eksekusi karya Andra tidak lebih mengejutkan dari judulnya. Sembilan Perjanjian Darah adalah tarian yang manis. Refleksi luka batin dan keterasingan dari lima penari yang berbalut kostum hitam tidak terlalu tampak dari tubuh para penari yang keseluruhannya laki-laki. Bahkan, cenderung memperlihatkan erotisme, terutama ketika dua penari saling meraba, berpelukan, dan bergumul.
Tatapan beberapa penari pada penonton serupa mewakili tubuh yang ingin ditonton. Sementara pola lantai, kesadaran tubuh akan pencahayaan, dan ruang, masih kurang membumi pada panggung. Ditambah insiden matinya tata cahaya yang menyurutkan psikologis penari saat bermain.
Daya pukau dalam tarian ini adalah teknik tari yang matang dan keintiman para penari mengeksplorasi tiga drum kosong berwarna merah. Dan, lebih menarik lagi, latar belakang salah satu penari yang berangkat dari break dance, mempengaruhi dinamika gerak dalam tari dan lainnya adalah orang-orang biasa, pekerja harian, bukan seniman tamatan kampus seni. Lima penari itu, tampil professional, enerjik, meski kurang maksimal untuk mengawali hari pertama Kaba Festival.
Minangkabau adalah masyarakat yang istimewa karena adat dan agama (Islam) dapat saling berkelindan menjadi laku hidup. Dalam Kaba Festival, penonton bisa disuguhi kekayaan tradisi Minang, bahkan sebelum Islam masuknya, melalui kesenian Sirompak. Sirompak adalah salah satu pertunjukan musik tradisional Minangkabau yang berasal dari 50 kota Payakumbuh.

Irmun Krisman pimpinan Parewa Limo Suku cukup sukses mementaskan Dek Garah Cakak Tumbuah, kesenian musik Sirompak yang sudah langka ini digubah menjadi pertunjukan segar dan menarik.
Komposisi musik ini diawali ketika cahaya menyorot kumpulan pemain yang duduk melingkar di panggung belakang, mereka meniup saluang sebagai instrumen khas musik sirompak.
Selanjutnya Dek Garah Cakak Tumbuah menawarkan peristiwa dramatik menyerupai teater. Para penonton di luar Minang pun mampu memahami isi pertunjukan, meski teks-teks dilantukan dengan bahasa Minang.
Penonton pun sesekali tertawa dan tidak menyangka bila para pemain adalah anak-anak dari SMKI Padang, lantaran mereka dapat mendalami peran dan mewujudkan pertunjukan yang cair. Semoga anak-anak ini kelak dapat menjadi bibit-bibit seniman baru dan menuai optimis bahwa Minang tidak pernah kekurangan seniman lintar generasi bila mereka disiram dan dipupuk dengan baik.
Ranah Teater adalah satu-satunya yang mewakili pertunjukan teater di Kaba Festival. Mite Kudeta, sutradara S Metron Masdison mengisahkan kaba Cindua Mato sebagai Raja Pangaruyung. Bagi masyarakat Minang, kisah ini begitu populer, yang mungkin dapat menjadi refleksi melihat arsip masa lalu untuk masa depan. Cindua Mato dihadirkan dalam relasi kekuasaan dan kental dengan nafas politik.
Serupa di kisah-kisah folklore atau naskah-naskah teater Indonesia maupun Barat seperti Caligula atau Hamlet, seringkali dihadirkan tokoh-tokoh yang paling berkuasa, namun yang yang paling gelisah dan kesepian sebagai manusia.
Mungkin, serupa juga dengan kisah sejarah bapak bangsa di akhir usianya. Serupa dengan Cindua Mato. Ia mengungkapkan pengakuan pada Anggun Nan Tongga (Raja Pesisir), bahwa dirinya membunuh Bundo Kaduang, Dang Tuanku, dan Puti Bungsu untuk mendapatkan salah satu, kekuasaan atau cinta. Cindua Mato memilih kekuasaan. Politik dan kekuasaan memang tidak pernah mengenal zaman.
Sebagai sutradara, Metron melakukan transformasi dalam berbagai hal di karya ini, seperti narasi Kaba dan teater. Ia menceritakan kegelisahan yang mengganggu sekaligus menginspirasi dalam delapan bulan menjalani latihan. Mengubah narasi teks menjadi teater bunyi adalah kerja kreatif yang tidak mudah.
Terutama dengan memaksimalkan fungsi kursi yang seharusnya diperlakukan tidak hanya sebagai artistik dan properti yang dipukul berturut-berturut oleh kelihaian tangan aktor. Sebab, ketika teater melekat dengan simbol, maka kehadiran kursi berfungsi sebagai aktor kedua, bahkan diperlakukan utama di atas panggung.
Di Mite Kudeta, Ranah Teater tidak hanya mengunggulkan bunyi melalui lantunan tetaluan. Ranah Teater turut memasukan unsur dendang, tari piring hingga silat dalam pertunjukannya sebagai elemen keaktoran untuk mengusung bentuk tradisi baru atau post tradisi dalam pertunjukan ini. Menariknya, terdapat latar belakang kebudayaan dan geografis baik agraris dan pesisir di balik elemen-elemen tersebut.
Sayangnya, terlalu banyak elemen cenderung mengurangi bangunan struktur dramatik untuk lebih meruncing pada pesan. Bagi orang awam, pertunjukan ini masih di ambang pilihan antara bahasa bunyi atau bahasa teks. Belum melebur dan cenderung berdiri masing-masing.
Sepertinya Ranah Teater belum ajeg dengan teknik yang dapat menjadi ciri khasnya, selain terdapatZZ pengaruh gaya dari kelompok lain. Kegetiran dalam bentuk pembunuhan simbolik masih kurang menggigit dan cenderung melelahkan. Kerja penjelajahan eksplorasi ini sepertinya masih panjang dan harus ditempuh dengan semangat gagasan, kreativitas, dan intensitas berkarya.

La Paloma dan Nan Jombang Dance Companny sebagai tuan rumah menjadi penutup Kaba Festival. La Paloma dengan pertunjukan Mamilin Nan Tigo Sapilin, khas keroncong Minang dan Nan Jombang melalui Sang Hawa, yang memperlihatkan karya estetik dua panggung antar generasi.
La Paloma yang digawangi komposer Alex Gondrong dan kawan-kawan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang membawakan kesenian musikal Sijobang dari daerah pesisir Payakumbuh menyerupai bentuk orkestra. Awalnya, mereka berusaha menghancurkan jarak antara pemain dan penonton dengan muncul di antara penonton.
Namun, setelah di panggung, musik yang ditampilkan terlihat rapi sehingga menghasilkan bunyi yang tertib khas para akademisi. Sedangkan bila mengacu pada Sijobang sebagai tradisi, idealnya tidak terbangun jarak rasa musik antara pemain dan penonton.
Bahkan, beberapa pemain memperlihatkan ekspresi yang datar dan cenderung asyik dengan alat musiknya, tanpa memperhatikan penonton. Kerapihan dan banyaknya intrumen musik modern dan tradisi dalam komposisi ini berimbas pada kurang kentalnya rasa bunyi keroncong.
Pada Sang Hawa, koreografer Erry Mefri, meskipun hanya menyajikan dua penari, namun memperlihatkan intensitas proses latihan yang tidak main-main. Tentu menjadi kewajaran bila proses latihan sekitar enam jam setiap hari akan mewujud menjadi karya yang anggun dan cantik serupa pengertian arti Nan Jombang.
Berkisah tentang pergolakan emosi antara anak yang izin merantau dan ibu yang kehilangan, disimbolisasikan melalui gerak, teknik tari yang matang dan mengejutkan, namun sublim. Meskipun tata cahaya yang sedikit kacau untuk menegaskan antara perpindahan dramatik ruang gelap dan terang.
Sebuah pertunjukan dapat dikatakan berhasil, apabila pertunjukan itu mampu membawa penonton merefleksikan pengalamannya. Gerakan seorang ibu yang memeluk puteranya di pangkuan, dan seorang putera yang berjalan begitu lambat ketika akan meninggalkan sang ibu, membawa penonton merenung kembali pada kehidupan kultural masyarakat Minang.
Sebagai manusia, tidak ada seorang ibu yang ingin ditinggalkan anaknya. Namun, tradisi yang mengharuskan kewajiban merantau agar anak dapat mandiri dan maju di dunia luar.
Kaba Festival yang bermakna memberi kabar pada orang, bahkan diharapkan oleh Erry, agar kabar potensi Minangkabau sampai ke dunia menjadi sebuah festival untuk merayakan sebuah proses, terlepas proses tersebut masih dalam tahap uji coba atau sudah matang seperti yang disaksikan penonton. “Proses itu pencapaian tertinggi seniman, bukan hasil karyanya,” ucap Erry menjelaskan landasan digelarnya Kaba Festival.
Ratu Selvi Agnesia