Makna Teguran Dewan Bahasa kepada Menteri Tengku Zafrul

| dilihat 2059

Nota Bang Sém

Bukan berita terkini tak juga berita besar. Direktur Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia, Hazami Bin Jahari, 31 Maret 2023 lalu melayangkan surat resmi berisi teguran kepada Menteri Pelabjuran, Perdagangan Antarabangsa dan Industri, Tengku Zafrul ihwal penulisan istilah "insya-Allah" di akun twitter-nya.

Zafrul menerima teguran itu. Lalu dia muat naik surat teguran itu di akun IG (instagram)-nya pula dan tular pada 6 Juli 2023.

Mantan Menteri Keuangan Malaysia tersebut menulis, "InsyaAllah? Insya-Allah? Insyaallah? Apa ejaan yang betul? Selama ini saya guna InsyaAllah, tapi sekarang saya dah tahu ejaan sebenar ialah insya-Allah."

Lantas, Senator anggota Dewan Negara tersebut mengungkapkan, "Terima kasih DBP kerana menegur ejaan saya. Lepas ni, saya akan lebih teliti dengan penggunaan istilah ini, insya-Allah."

Zafrul tergerak hatinya untuk memuat-naik surat teguran DBP tersebut di akun salah satu platform media sosialnya.

Dalam surat tegurannya, Direktur DBP menyebut, pihaknya menerima aduan dari pengguna bahasa Melayu tentang kesalahan ejaan pada akun  twitter Tengku Zafrul.

Nampaknya sepele. Kekhilafan Zahrul hanya tidak menggunakan tanda baca yang memisahkan kata 'insya' dan 'Allah' dalam ejan 'Insya-Allah' di media sosial, yang mencerminkan kebiasaan menggunakan istilah yang dianggap lazim, dan kerap dimaklumi oleh khalayak, termasuk para petinggi.

Bahasa Kebangsaan

"Kami yakin bahawa pihak tuan prihatin terhadap perkara ini, namun mungkin kerana kebiasaan penggunaannya dalam kalangan masyarakat, hal ini terlepas daripada perhatian pihak tuan," tulis DBP dalam surat berkenaan," tulis DBP dalam surat teguran tersebut.

Hazami menjelaskan, DBP berperan memberikan masukan dan saran kepada semua pihak agar bahasa nasional digunakan secara baik dan benar serta seluas-luasnya untuk kepentingan resmi sebagaimana diatur dalam Pasal 152 Konstitusi Federal dan Undang-Undang Bahasa Nasional 1963/67.

DBP yang semula bernama Balai Pustaka didirikan pada 22 Jun 1956 di Johor Bahru, Johor sebagai sebuah kantor kecil di bawah Kementerian Pelajaran, yang berkedudukan di Bukit Timbalan, Johor Bahru.

Pendirian DBP dimaksudkan untuk mengembangkan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan dan bahasa rasmi negara yang akan merdeka ketika itu. Pada peringkat awal, DBP mengorak usaha murninya di Bukit Timbalan, Johor Bahru.

Hasil Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu III yang berlangsung di Singapura dan Johor Bahru pada 16-21 September 1956, pemerintah telah menerima rancangan kongres yang mau menamakan Balai Pustaka dengan nama Dewan Bahasa dan Pustaka. Di samping itu juga, DBP ditingkatkan kedudukannya sebagai badan yang mempunyai anggota lembaga sendiri.

DBP pindah ke Kuala Lumpur pada tahun 1957, untuk memudahkan segala pelaksanaan tugasnya yang selaras dengan pengisytiharan bahasa Melayu, yaitu bahasa kebangsaan akan menjadi bahasa resmi negara satu-satunya.

Sampai kini, DBP merupakan satu-satunya lembaga di Malaysia yang aktif mengembangkan bahasa negara, berdasarkan falsafah, "Pembinaan Negara Bangsa melalui Bahasa Melayu."

Bahasa Jiwa Bangsa

Visi DBP adalah "Bahasa Melayu Salah Satu Bahasa Dunia," dengan misi "Meningkatkan Penggunaan Bahasa Melayu." Motto yang diusungnya adalah "Bahasa Jiwa Bangsa."

Dari keragaman etnis, ras, dan suku, sampai kini Malaysia tanpa henti bersikap dan bertindak sangat serius dalam meningkatkan dan memperluas penggunaan Bahasa Melayu. Bahkan menjadi bagian dari politik kebangsaan yang utama.

Karena keragaman etnis, ras, dan suku di Malaysia, sampai kini membawa serta keragaman penggunaan bahasa (terutama bahasa Melayu, bahasa China, bahasa India, dan bahasa Inggris) dalam komunikasi antar masyarakat, sehari-hari.

Penggunaan bahasa yang beragam, bahkan dalam persidangan di parlemen (Dewan Rakyat) seringkali memantik perdebatan tentang kode etik dan kode perilaku yang berdampak pada politik perkauman.

Seringkali parlemen gaduh karena terpantik oleh penggunaan istilah dalam bahasa yang dipergunakan sehari-hari dan memakan waktu dalam membahas persoalan rakyat. Termasuk dalam pembahasan rancangan undang-undang.

Ketika Tun Mahathir (PM 4) dan Tun Abdullah Badawi (PM5) memerintah, upaya meningkatkan dan memperluas penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa Negara dalam kegiatan resmi penyelenggaraan pemerintahan dan negara sangat intens. Bahkan, setiap tahun, pada saat bulan bahasa (Oktober) dilakukan penilaian atas para petinggi di seluruh peringkat. Termasuk penilaian yang akan berhubungan dengan peningkatan dan perkembangan karir mereka.

Ekspresi Laku

Makna teguran DBP kepada Menteri Zafrul meski hanya terkait dengan penulisan dan penggunaan ejaan dan istilah bahasa, adalah contoh penting, bagaimana lembaga pemerintah yang mengurusi bahasa negara memainkan perannya secara konsisten dan konsekuen.

Petinggi yang mengemban amanah dalam keseluruhan strata kepemimpinan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan negara adalah sosok yang harus menjadi contoh dan teladan. Termasuk dalam hal menggunakan bahasa.

Tak hanya karena 'bahasa menunjukkan bangsa,' jauh dari itu adalah karena penggunaan bahasa, secara lisan dan dalam tulisan menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan kehidupan antar kelompok dan golongan dalam masyarakat.

Pernah dalam penyelenggaraan Pilihan Raya Umum (PRU) ke 12 (2008) pendukung Ketua Menteri Penang, Lim Guan Eng (pimpinan Partai Aksi Demokratik) menggunakan istilah 'gua' dalam spanduk bertuliskan, "Penang Gua Punya." Kata ganti orang pertama -- yang lazim digunakan dalam masyarakat Betawi di Indonesia -- dianggap sebagai ekspresi laku yang pongah, congkak, dan sok berkuasa.

Ihwal penggunaan ejaan dan istilah, Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah salah seorang pemimpin yang sangat teliti dalam membaca dan memeriksa tulisan. Bahkan sangat teliti dalam memeriksa tanda baca. Juga dalam percakapan lisan, sehingga dapat dikenali konteksnya, pada saat mana dirinya sebagai Presiden RI dan pasa saat mana sebagai seorang SBY.

Bagaimana di Indonesia? Kapan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melakukan teguran resmi kepada petinggi yang masih sering dan banyak keliru dalam menggunakan Bahasa Indonesia? |

Editor : delanova