Pantun Transformatif Meranggas di Tangan Kreatif Millenial BUMN

| dilihat 210

catatan sém Haésy

 

Bekerja untuk Nusa dan Bangsa

Harus amanah dan penuh karya

Lestarikan Pantun Budaya Bangsa

Budaya Terjaga, Jayalah Indonesia

Pantun bertendens penggugah semangat ini, diucapkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, Kamis (10/6/21) ketika memberikan sambutan secara daring pada momen penyerahan penghargaan Pemenang Lomba Berbalas Pantun Balai Pustaka - Tingkat Nasional 2021, yang digelar Balai Pustaka.

Ini, lomba berbalas pantun pertama yang menempatkan pantun tidak hanya sebagai produk budaya literatif, melainkan pantun sebagai produk budaya seni pertunjukkan yang memadu-harmoni karya sastra dengan seni pertunjukan (musik, tari, silat, teater, film, dan media baru).

Nafasnya tak hanya melestarikan, melainkan pengembangan. Ada dinamika, termasuk transformasi dari budaya bertutur dan tulis ke budaya digital secara multimedia, multi channel, dan multi platform.

Transformasi yang membuka  ruang kreativitas dan inovasi secara luas untuk menemukan formula yang paling kompatibel untuk beradaptasi dengan budaya digital.

Erick mengatakan, "Keberlangsungan warisan budaya bangsa, termasuk berpantun, ada di tangan kita semua. Kita harus lestarikan budaya sambil mengadaptasikannya dengan perkembangan jaman."

Komitmennya jelas, seperti tersirat dalam pantun sukahati yang dibacanya kemudian,  "Kalau kita pergi ke Medan / Pasti mampir beli manisan / Kalau bukan kita yang lestarikan / Pantun hilang dimakan jaman."

Erick menilai, lomba  berbalas pantun ini, sebagai  ikhtiar kita untuk melestarikan warisan budaya berpantun. Ia yang sempat menyaksikan beberapa video finalis, bahagia, karena kegiatan ini diikuti para milenial BUMN, perusahaan BUMN, dan berbagai komunitas di Indonesia. Menjadi wadah ekspresi kreativitas berbasis budaya, lebih dari seribu tim peserta.

Kebahagiaannya beralasan, seperti ungkapnya, "Tidak disangka. Luar biasa kreativitas dan inovasinya. Saya yakin pasti semua peserta membuatnya dengan sungguh-sungguh, dan menikmati proses kreatifnya."

Karenanya, tak keliru ketika dia menyatakan, "Semuanya saya anggap sebagai pemenang, karena telah ikut melestarikan budaya berpantun." Untuk itu, dia menginisiasi, agar lomba ini menjadi event tahunan,  dengan format, dan hadiah yang semakin menarik.

Erick juga mengemukakan, "Kesungguhan, kreativitas, inovasi dan semangat untuk menang ini juga saya harap menjadi spirit untuk Direksi dan tim Balai Pustaka. Agar melakukan inovasi, memproduksi konten yang menarik serta menghidupkan Intellectual Property yang dimiliki Balai Pustaka, agar bisa dibuat  kekinian, jika perlu membeli konten dari Luar Negeri agar ke depan Balai Pustaka bisa semakin hidup dan berkembang."

Lomba berbalas pantun yang memperebutkan Piala Menteri BUMN dan sejumlah hadiah menarik, itu diikuti lebih 1085 peserta dari Aceh sampai Papua. Meliputi 297 tim millenial BUMN dan anak perusahaan BUMN, dan 788 tim komunitas dan umum.

Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji, ketika mengantar pemberian piala pemenang lomba mengemukakan, Balai Pustaka didukung Kementerian BUMN menyelenggarakan lomba ini, merespon keputusan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) mengukuhkan pantun sebagai Warisan Budaya Tak Benda  dari Indonesia pada Kamis, 17 Desember 2020.

Fachrodji mengemukakan, kondisi pandemik Covid-19, membuka ruang kreatif dan inovasi  untuk menyelenggarakan lomba pantun ini. Sekaligus relevan dengan perkembangan arus besar konten kreatif bagi seluruh peserta.

Selaras dengan perkembangan perubahan cepat dan anomali pandemi yang sekaligus mengubah berbagai anasir budaya masyarakat, para juri utama (Dewi Yull, Rendra Setiadiharja, saya) dan juri kehormatan Sandiaga Uno - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menilai para finalis dengan perspektif yang lebih kompleks.

Tak hanya berpijak pada struktur, kaidah dan norma yang menjadi ruh seni pantun, termasuk keseimbangan nalar, naluri, rasa dan dria yang menyertainya. Melainkan juga mencermati konteks pantun dengan ruang kreatif dan inovasi yang memungkinkannya adaptabel dengan medium dan platform seni pertunjukkan yang mewadahi ekspresi, sekaligus reposisi pantun dalam perkembangan transformasi menuju budaya digital.

Dari apa yang disajikan seluruh peserta, saya terusik untuk melihat pantun dalam perkembangan dinamis, termasuk dalam konteks diseminasi memetika (virus akal budi, untuk menjaga keseimbangan ketrampilan yang ditimbulkan oleh perkembangan modernitas dengan kearifan warisan budaya).

Pantun dengan segala keragaman struktur dan formatnya (panton, boligoni, rejong, umpasa, pari'an, susualan,  siloka, ende-ende, dan lain-lain), keragaman medium ungkap dan kompatibelitasnya (madihin, palang pintu, dermuluk, ronggeng deli, dondang, rongeng, pakacaping, dan lain-lain), seperti pandangan Winsted, memang bukan sekadar gubahan kata-kata yang mempunyai rima dan irama.

Di dalam pantun (yang juga kita pahami dari petuntun), mengalir kesadaran, antusiasme, simpati, empati, apresiasi, respek, kehangatan cinta, kasih sayang, rindu, juga renjana. Bahkan, gagasan kreatif dan ekspresi pandangan kritis dengan kecerdasan akalbudi.

Berbalas pantun sendiri, tak berhenti hanya dalam konteks gunemcatur, bapicik, atau dialektika para telangkai dalam tradisi dan adat perkawinan, karena pantun itu sendiri merupakan dialektika. Seperti yang terekam dalam karya-karya Hamzah Fansuri Asrar al Arifin, Tengku Amir Hamzah, atau Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda.

Diskusi ketat dan silang pendapat karena titik pandang, sudut pandang, dan cara pandang para juri, baik  Dewi Yull (penyanyi, aktris, produser audiovisual), Rendra Setiadiharja (akademisi dan praktisi seni pantun - pemecah rekor MURI Berbalas Pantun Terlama tanpa henti di Taman Ismail Marzuki 2008), dan saya, sampai pada titik kesepahaman untuk melihat seluruh materi peserta lomba pantun secara dimensional dan komprehensif. Pun, begitu halnya dengan juri kehormatan Sandiaga Uno - Menteri Periwisata dan Ekonomi Kreatif beserta tim-nya.

Titik kesepahaman itu, yang oleh Dewi Yull disebut pertimbangan obyektif diperkaya dengan pertimbangan subyektif sesuai dengan latar empirisma (termasuk pengalaman kreatif melakukan konvergensi media untuk pantun), pengetahuan (termasuk pengetahuan akademik), dan proyeksi pengembangan pantun sebagai esensi produk budaya yang bersifat fleksibel dan adaptabel, bergerak ke ranah kontemporer. Seperti pernah dialami produk budaya Batik, yang ketika keluar dari pakem (jarikan) malah berkembang terus, tanpa mesti kehilangan 'ruh budaya' asalnya.

Rendra mencatat, pantun yang disusun relatif cukup baik, namun ada beberapa catatan sebagai pembelajaran ke depan yaitu kaidah pantun yang harus dipatuhi oleh peserta. Termasuk diksi-diksi yang mesti memenuhi unsur diksi pantun, baik di sampiran maupun isi. Paling tidak mengacu pada pantun mulia dan pantun tak mulia, meski jenisnya bisa berkembang sesuai tema lomba. Tak sedikit diksi yang belum sepenuhnya mencerminkan pantun, atau hanya menyerupai pantun hanya kata berima.

Dalam konteks berbalas pantun, Rendra mencatat, anasir berbalas pantun, yakni adanya interaksi antar pemantun atau pantun yang disusun harus memiliki keberkaitan pantun baik secara isi dan makna pantun yang disampaikan oleh para pemantun, harus dipenuhio. "Berbalas" dalam hal ini, dapat dinilai dua hal. Pertama, interaksi langsung antar pemantun dan secara jelas pantun yang diucapkan harus memiliki keberkaitan; dan, Kedua jika berbalas pantun disampaikan ditempat berbeda dalam artian tidak interaksi face to face, maka pantun yang diucap atau dilantun harus memiliki keberkaitan isi dan makna.

Rendra, yang juga penerima Anugerah Gelar Tok dalam Bidang Budaya dari Dewan Pemuda Melayu Propinsi Kepulauan Riau Tahun 2010, itu juga memberi catatan tegas, dalam konteks berbalas pantun (apapun formulanya),  pantun harus tetap berbalas, tidak berdiri sendiri.

Saya, yang sejak dekade 1980-an menyelami budaya Melayu dan kearifan lokal Indonesia, melakukan konvergensi pantun ke dalam programa radio dan televisi (dekade 1990-an), dan bergiat (bersama Geisz Chalifah, Anies R. Baswedan, Ferry Mursidan Baldan, dan sejumlah teman lain) dalam Jakarta Melayu Festival (sejak 2011), melihat dari proses creativity kick off sampai lompatan inovasi, kaum millenial peserta lomba ini menunjukkan daya kreatif yang luar biasa.

Daya fantasi dan imajinasi kreatif mereka dalam menafsir sekaligus menerjemahkan pesan pantun ke dalam genre musik dan teknik audio visual, sangat kaya, beragam, dan relevan dengan perkembangan transformasi menuju budaya digital. Pemanfaatan animasi, chroma key, memberi aksentuasi tersendiri. Termasuk bagaimana memadu padan beragam jenis seni pertunjukan sebagai medium ungkap pantun.

Hasilnya?  Tuah Pujangga Pekanbaru, Riau, meraih Juara Pertama Kategori Umum, disusul  Sanggar Selembayung SMAN 4 Tanjungpinang, Kepulauan Riau sebagai juara kedua; Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara sebagai juara ketiga; dan, Sanggar Seni Budaya Wanua Masengereng sebagai juara favorit. Pada ketagori Millenial BUMN, tim Kantor Cabang BRI Bengkulu meraih juara pertama sekaligus juara favorit. Disusul Sinergi Pekanbaru PLN sebagai juara kedua; dan Karsa Telkom meraih juara ketiga sekaligus tim paling kreatif dalam melakukan konvergensi media. PLN beroleh penghargaan khusus, karena hadir dengan tim terbanyak dalam lomba ini, dan potensial.

Saya gembira, kaum millenial mampu dan tangkas menghadirkan pantun menjadi warisan budaya yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di tangan millenial BUMN, pantun transformatif meranggas. Balai Pustaka kembali memainkan perannya sebagai garda depan literasi Indonesia menuju zaman baru.  |



Artikel terkait : UNESCO Tetapkan Pantun sebagai Warisan Tak Benda Indonesia 

Editor : eCatri
 
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 140
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 634
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1542
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya
Polhukam
10 Jul 21, 07:47 WIB | Dilihat : 143
Politik Tahu Diri Tun Mahathir dan Parti Pejuang
06 Jul 21, 05:38 WIB | Dilihat : 834
Melihat Ketegasan Gubernur Anies Baswedan
05 Jul 21, 21:17 WIB | Dilihat : 123
Siasat Lewati Masa Darurat
03 Jul 21, 15:35 WIB | Dilihat : 181
Siasat Cirit Birit Bendera Putih Politik Darurat
Selanjutnya