Cahaya Kebajikan dan Tamaddun Melayu dan Islam

Mengenang Profesor Diraja Syed Muhammad Naquib Al Attas

| dilihat 215

Notasungkawa Bang Sèm

CAHAYA kebajikan dan tamaddun berkurang, acap seorang ilmuwan wafat. Kendati demikian, warisan ilmu pengetahuan dan kearifan yang ditinggalkannya bakal terus 'menyala' bagi khalayak / ummat. Khasnya, kala para murid-murid penerusnya terus merawat, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang diajarkannya.

Kita (di Malaysia, Indonesia dan di mana saja) patut berduka seiring wafatnya pemikir, ilmuwan, akademisi, dan suluh peradaban Professor Diraja Tan Sri Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Atas (94) di Kuala Lumpur (Ahad, 8 Maret 2026, pukul 18.47 waktu tempatan).

Kabar wafatnya epistemolog Allahyarham Syed Naquib datang dari Menteri Agama di Kantor Perdana Menteri (PM) Zulkifli Hasan, yang segera tular ke para murid-muridnya di berbagai negara.

Mangkatnya gurutama Allahyarham Syed Naquib Al-Attas di tengah bulan Ramadan, merupakan kehilangan sangat besar bagi dunia Melayu - dunia Islam yang mumpuni. Tak hanya bagi Malaysia, Indonesia, Asia Tenggara, dan bahkan Asia.

Bersama kakaknya -- mendiang Syed Husain Al-Attas, sosiolog kenamaan -- dan adiknya, Syed Zaid al-Attas -- Insinyur Kimia -- berasal dari lingkungan keluarga ilmuwan yang disegani di dunia keilmuwan dan pendidikan, serta peradaban Melayu.

Allahyarham lahir di Bogor - Jawa Barat, dari rahim cinta dan kasih sayang ayahnya, Syed Ali Al-Attas dari Johor dengan ibunya, Sharifah Raquan binti Syed Muhammad al Alaydarus - dari Singaparna, Jawa Barat.

Allahyarham sempat mengenyam pendidikan di ‘Urwah al-Wusqa, Sukabumi, Jawa Barat. Kemudian hijrah ke Johor Baru (1946) dan tinggal di kediaman pamannya, Engku Abdul Azis (Menteri Besar Johor Baru) dan Datuk Onn (Menteri Besar Johor dan Presiden UMNO -- United Malay Nation Organization).

Kemudian Allahyarham melanjutkan pendidikan di Bukit Zahrah School, kemudian di English School Johor Baru (1946-1949 M). Lantas memasuki dinas tentara sebelum melanjutkan pendidikan dan latihan ketentaraan di Eaton Hall, Chester Inggris.

Mendalami Filsafat dan Budaya

Allahyarham juga mengenyam pendidikan di Royal Militery Academy Sandhurst Inggris (1952-1959 M), lalu beroleh pangkat letnan di lingkungan ketentaraan Malaysia.  

Keluar dari dinas Militer, Allahyarham melanjutkan lagi kuliah di Fakultas Kajian Ilmu-ilmu Sosial (social sciences studies) Universitas Malaya (1957-1959). Setelah itu melanjutkan lagi pendidikan Mc. Gill University, Montreal, Kanada di bidang studi teologi dan metafisika Islam.

Setelah itu, Allahyarham menggeluti lebih dalam ilmu pengetahuan dan filsafat - tasawuf. Pemikirannya tentang banyak hal, jernih, sehingga ternama sebagai epistemolog. Allahyarham berhasil memadu-padan teologi Islam dan ilmu pengetahuan.

Ini merupakan pencapaian luar biasa yang jarang ditempuh para ilmuwan. Sesuatu yang mesti dipahami sebagai ikhtiar dalam memilin harmoni daya nalar di satu sisi dengan naluri, nurani, dan rasa di sisi lain. Integralisasi irrasionalitas dan rasionalitas yang jarang dilakukan ilmuwan, sebagaimana dilakukan Al Farabi berbilang masa sebelumnya.

Maknanya adalah, Allahyarham berhasil menempatkan secara tepat hakikat sains dan religi, minda dan jiwa dalam satu nafas. Inilah agaknya yang melandasi pencapaian keilmuannya dalam merintis pencapaian lanjut bagi pengembangan wawasan Universiti Nasional Malaysia menjadi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan invensi Institut Alam dan Peradaban Melayu (ATMA)  dari semula institut Bahasa, Sastra, dan Budaya Melayu (1 Desember 1972).

Secara formal, ATMA diperuntukan bagi program studi pascasarjana:  Magister Sastra dan Doktor Filsafat, dengan titik berat penelitian dalam ilmu Bahasa, Sastra, dan Budaya Melayu. serta menjadi pusat rujukan di bidang-bidang tersebut.

ATMA (1992) kemudian memperluas studi ihwal Alam dan Peradaban Melayu dengan penajaman focal concern pada aspek spiritual filsafat, pengetahuan dan pemikiran, adab (tata krama dan kesopanan), budaya material, dan semua aspek kehidupan dalam kosmologi Melayu. Integralitas aqidah, syari'ah, muamalah dan akhlaq yang menjadi payung utama nalar dan moralitas (batin) Melayu.

Contoh Utama

1987 di lingkungan Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), Allahyarham Syed Muhammad Naquib al-Attas merintis dan berperan sebagai pendiri Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (The International Institute of Islamic Thought and Civilisation - ISTAC). Allahyarham juga merancang bangunan kampus ISTAC - UIAM bergaya Andalusia.

Allahyarham juga merupakan salah seorang pendiri ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) yang melatih para calon pemimpin di Malaysia. Salah seorang aktivis ABIM adalah Anwar Ibrahim (Perdana Menteri X Malaysia, kini).

Tak berhenti di situ.  Gairah dan ghirah keilmuan Allahyarham memandu ilmuwan (khasnya mahasiswa dan pensyarah)  mengembangkan dimensi manusia sebagai inti peradaban Melayu yang kompetitif, dinamis, inovatif, sekaligus sopan dan peka terhadap agama dan tradisi (tanpa kecuali adat resam budaya Melayu).

Hal ini yang kemudian membedakan Allahyarham dengan ilmuwan budaya - humaniora lainnya, terutama Sultan Takdir Alisjahbana tentang dimensi kedalaman dan keluasan manusia.

Ketika disandingkan dengan pemikiran ilmuwan James Martin (Universiti Oxford - United Kingdom) ihwal cabaran Abad XXI dan berbagai pemikiran ilmuwan Jared Diamond, pemikiran Allahyarham menjadi sangat relevan dalam menjawab berbagai persoalan aktual - kontemporer, khasnya singularitas, transhumanitas, harmoni tradisi kecerdasan budaya lokal dengan arus besar budaya global. Khasnya dalam konteks kerja budaya merancang peradaban baru dengan kreativitas - inovasi - invensi  (berpijak sains dan teknologi) yang kompatibel dalam memahami relasi ekologi, ekosistem, dan ekonomi secara luas.

Kekhasan Allahyarham dalam 'mempertemukan' arus besar perubahan budaya secara dimensional (termasuk dinamika orientasi hidup pragmatis) dengan teologi rasional klasik. Pun kekhasannya dalam mengembangkan epistemologi tafsir al Qur'an sebagai panduan hidup asasi yang menyediakan ruang perspektif filsafat, sufistik, linguistik dan metafisika.

Bagi saya, Allahyarham merupakan ilmuwan humaniora yang menyediakan 'laman luas' bagi berbagai kemungkinan pemikiran dalam memformulasi dimensi keilmuan kontemporer - islamisasi ilmu pengetahuan.

Allahyarham juga merupakan contoh utama dalam  orientasi pemusatan kajian mendalam tentang berbagai paradigma Islam : terutama aksi perubahan revolutif menyempurnakan law enforcement menjadi prioritizing justice; aksi perubahan dramatik (transformasi) dalam menyempurnakan artistika - estetika - etika menjadi keadaban (sebagai ruh tamaddun); dan perubahan atraktif dalam menyempurnakan rahmah - mahabbah menjadi humanitas.

Penyangga Kebudayaan dan Tamaddun

Dalam konteks keilmuan, tiada sangkalan, bahwa untuk menyatakan, bahwa Allahyarham merupakan ilmuwan, sekaligus pemikir, cahaya kebajikan dan tamaddun Melayu yang mampu merespon dan menjadi bagian dari penggerakan perubahan besar tata kehidupan umat manusia.

Paling tidak, memaknai isyarat dari Rasulullah Muhammad SAW, ihwal akan tiba masa 'matahari terbit dari barat'  - dinamika pergerakan Islam di Barat (Eropa - Amerika), justru kala para penista ajaran Islam dan penganut islamophobia kehilangan daya dan orientasi nilai kehidupan. Kala 'intuitive reason' sebagai jalan metode yang tak mampu mengikuti percepatan Islam sebagai way of life.

Terlalu banyak hal yang melekat kuat pada keberadaan Allahyarham sebagai mercu suar benderang tentang Islam yang menerangi dan mengingatkan marka perubahan (transformasi - reformasi) di lapangan ilmu-ilmu humaniora sebagai penyangga kebudayaan dan tamaddun.

Sebagai perintis Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC) di lingkungan Universiti Islam Antarabangsa Malaysia, keberadaan Allahyarham sebagai seorang cendekiawan ( intelektualisma ), filsuf, dan tokoh peradaban yang mampu mendudukan Islam sebagai cara hidup modern.

Karenanya, kala Yang di-Pertuan Agong ke 17 - Sultan Ibrahim bin Sultan Iskandar menganugerahkan gelar Profesor Terpuji Diraja (Royal Laureate Professor), di Istana Negara Kuala Lumpur (Oktober 2024), kita ikut gembira. (Baca juga : Sultan Malaysia Kukuhkan Syed Muhammad Naquib Al-Attas sebagai Royal Professor )

'Gelar jabatan' akademik tertinggi di Malaysia, itu  hanya disandang 2 cendekiawan Malaysia. Sebelumnya, gelar yang mencerminkan kefasihan tersebut disandang Prof. Ungku Abdul Aziz bin Ungku Abdul Hamid ( wafat pada 15 Desember 2020).

Saya menaruh rasa hormat yang tinggi kepada Sultan Ibrahim yang melekatkan 'gelar jabatan' keilmuan kepada  Allahyarham  Syed Muhammad Naquib. Apa yang dilakukan Sultan Ibrahim tersebut, merupakan teladan bagi siapa saja yang menyandang kekuasaan untuk selalu peduli, santun dan sadar, bahwa memuliakan ilmuwan (khasnya yang sesungguh cendekiawan) merupakan cermin adab sebuah bangsa. |

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 823
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 2960
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya
Sporta