
MANHATTAN, NEW YORK CITY | Ketua Yayasan Nelson Mandela, Grace Nali Mandisa Pandor, tampil dengan sepenuh keyakinan di balik mimbar utama di markas besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Jum'at (18/7/25).
Di balik mimbar itu, tempat para para Kepala Negara / Pemerintahan, Duta Besar dan Perwakilan Tetap, dan kalangan tertentu dari seluruh dunia menyampaikan gagasan-gagasan berskala dunia.
Pandor berseru, "Keberanian itu.. Keberanian itu.. semakin diperlukan saat ini.. Kami berharap , saat menghormati Presiden Mandela, kita mengingat kata-katanya itu. Semuanya ada di tangan Anda !"
Penyataan itu disampaikannya setelah sebelumnya ia berterima kasih, beroleh kesempatan unit menyampaikan pidato utama pada Hari Internasional Nelson Mandela. Ia juga menyampaikan, Presiden Mandela -- yang juga biasa dipanggil Madiba -- sangat menghargai peran berani PBB memajukan perjuangan pembebasan Afrika Selatan beberapa tahun lalu.
"PBB membimbing kita menuju kebebasan, menentang dominasi apérat, bukan dengan senjata, tetapi dengan mengerahkan kekuatan moral yang tak terbantahkan dalam memerangi ketidakadilan," ungkapnya.
"Hari ini, di Hari Internasional Nelson Mandela, seruan kami kepada Anda semua adalah mengingat dan menyelesaikan masalah secara baik. Seruan ini terinspirasi oleh sosoknya sendiri." ujarnya.
Pandor berkata mengurai ringan ihwal Presiden Mandela. "Meskipun kita semua menyebut Presiden Mandela dengan nama depannya, Nelson, nama yang sebenarnya diberikan kepadanya saat lahir adalah Kolifata."

Mengguncang Pohon
Ia menjelaskan kemudian. "Dalam isixhosa yang merupakan bahasa ibu Mandela dan merupakan salah satu bahasa utama di negara kami, Afrika Selatan. Arti sehari-hari dari Kolifata adalah pembuat onar. Dalam Xhosa yang sebenarnya, berarti mengguncang pohon."
Mandela adalah seorang pembuat onar, tutur Pandor. Jenis pembuat onar yang baik, yang lebih kita perlukan di dunia saat ini dan jenis yang akan terus kita perlukan di masa depan. Tipe pembuat onar yang tidak selalu disukai sebagian orang, karena ia memperjuangkan kesetaraan yang seharusnya kita semua nikmati.
Juga untuk mengatasi sistem penindasan yang bagi sebagian ORANG menyamankan, tetapi tidak bagi sebagian yang lain. "Sistem penindasan yang akhirnya dikalahkan di Afrika Selatan, tetapi belum diberantas secara global."
Ia mengemukakan, yayasan yang sekarang dipimpinnya sering ditanya, "apa yang akan dikatakan atau dilakukan Mandela tentang isu-isu tertentu jika ia masih hidup saat ini." Kita sering mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri.
Pertanyaannya memang muncul, dunia seperti apa yang akan ia persiapkan untuk mengatasi masalah? Berdasarkan kehidupan, karya, dan berbagai refleksi pribadinya, ungkap Pandor, "kami percaya bahwa dunia itu akan adil."
Dunia dimana keadilan tidak bertekuk lutut pada orang kaya dan berkuasa. Dimana kemajuan kolektif kita didahulukan daripada hak istimewa individu. Dimana manfaat dan beban masyarakat kita dibagi secara merata. Dimana hak istimewa dan bias pribadi tidak menghalangi kita untuk bersikap adil.
Dimana suka atau tidak suka kita terhadap seseorang, tak menghalangi kita untuk melakukan apa yang benar dalam hubungannya dengan mereka." Presiden Mandela adalah orang yang gigih dalam masalah keadilan, tetapi saya tidak ingat satu kali pun ia bersikap tidak hormat atau kasar kepada orang lain," jelasnya.

Bertanya pada diri sendiri
Jadi, ungkap Pandor, dunia dimana keadilan dihormati dan ditegakkan adalah dunia yang kami diminta untuk berbuat baik. Sekarang, beberapa orang mungkin bertanya, "Saat Anda duduk di sini bahwa saya seorang akuntan, saya hanya seorang guru, saya hanya seorang manajer. Seperti apa perbuatan baik bagi saya? Meskipun dapat terwujud dalam berbagai bentuk, izinkan saya menyarankan, bagaimana kita dapat mewujudkannya dan mengekspresikannya dalam kehidupan kita sehari-hari."
Lalu Pandor mengemukakan, "Pertama, berbuat baik berarti benar-benar unggul dalam apa yang kita lakukan. Kita harus memiliki pengetahuan, bahwa mengerjakan tanggung jawab dengan sangat baik berkontribusi pada peningkatan mutu kolektif. Terlepas dari apakah orang-orang memperhatikan atau tidak. Terlepas dari seberapa besar tindakan tersebut, apa yang terkadang kita sebut sebagai hal biasa, memiliki makna tersendiri."
Pun, ketika dilakukan sebaik mungkin, hal ini dapat memberikan dampak positif pada kehidupan orang lain dan berkontribusi pada proses, sistem, dan fungsi kelembagaan yang lebih baik.
Kedua, ungkapnya, "menciptakan sesuatu yang baik berarti selalu bertanya pada diri sendiri, bagaimana saya bisa membuat perubahan di tempat saya berada? Karena sungguh luar biasa kita bisa berada di tempat yang signifikan namun tidak mencapai apa pun."
Jadi, bagaimana kita menggunakan tempat untuk membuat perbedaan? Menunjukkan apa yang diungkapkan oleh pertanyaan itu. Inilah hal-hal yang dilakukan Nelson Mandela.
Ia bertujuan untuk menjadi luar biasa dalam hal-hal yang ia lakukan dan ia menunjukkan diri pada pertanyaan tentang bagaimana ia bisa membuat perubahan di tempat ia berada dengan seluruh dirinya, bukan hanya sebagian dari dirinya.
Dua penerima Penghargaan Nelson Mandela PBB tahun ini -- Brenda Reynolds dan Kennedy Odada --, memberi kita contoh lebih lanjut tentang orang-orang yang bersemangat dalam mengejar dan mengatasi masalah yang baik.

Kontribusi Membangun PBB
Tadi malam, jelas Pandor, ia dan yayasannya meluncurkan pameran yang sangat penting bagi semua di PBB. Pameran ini bertajuk, "Kemanusiaan Kita Bersama dalam Aksi." Pameran ini berfokus pada peran penting komite khusus PBB melawan aparatur di Afrika Selatan.
Komite ini dibentuk oleh Majelis Umum PBB, pada tahun 1962. Kiprahnya selama beberapa dekade menunjukkan, apa yang bisa dilakukan ketika orang-orang bersatu untuk memperjuangkan keadilan global.
Komite ini menunjukkan apa yang bisa dilakukan ketika para diplomat bersatu, bangkit pada kesempatan tersebut, dan mendedikasikan diri untuk mengangkat derajat orang-orang yang memerlukan -- dengan kesadaran bahwa meskipun mungkin bukan sesama warga negara, tetapi adalah sesama manusia.
Yang membawa kebebasan bagi Afrika Selatan adalah masalah yang baik, katanya. Dan meskipun menciptakan masalah yang baik untuk kesetaraan global, memerlukan banyak hal pada titik ini dalam ranah geopolitik kita,
Salah satu hal yang diperlukan sekarang adalah kontribusi kita untuk membangun PBB yang lebih kuat, direformasi, dan cakap. Sebagai fondasinya, kami percaya PBB harus tetap menjadi badan multilateral utama di dunia kita dan kita harus mendukungnya untuk menjalankan mandatnya yang sangat penting.
Kita perlu mendemokratisasi strukturnya. Kita perlu membuatnya lebih efisien. Kita memerlukan Dewan Keamanan untuk melakukan tugas yang menjadi tujuannya.
"Namun, kita harus mempertahankan PBB. Ini harus terjadi demi komunitas global, kita harus melakukan perubahan demi kredibilitas organisasi ini," cetusnya. "Saat kita merayakan 80 tahun PBB, mari kita pikirkan dan bangun yang lebih baik untuk 80 tahun ke depan," lanjutnya.

Merasakan Kelegaan Bersama
Pandor bercerita singkat. Ketika Presiden Mandela datang ke PBB untuk pertama kalinya (3 Oktober 1994), ia mengatakan bahwa selama PBB sedang bersidang, orang-orang akan menghampirinya dan berjabat tangan dengannya, dan bahwa beliau tidak dapat memaksakan diri karena sopan santunnya untuk berjabat tangan dengan orang-orang sambil duduk.
Maka, Mandela secara naluriah akan berdiri ketika para duta besar menghampirinya dan berjabat tangan dengannya. Namun, hal ini tidak disukai delegasinya yang mengatakan kepadanya, "Tuan Presiden, Anda mengganggu konferensi." Mereka memintanya untuk pergi dan kembali ke hotelnya. Mandela, pun melakukannya.
"Saya juga teringat betapa beratnya beban yang ia tanggung saat pertama kali datang ke PBB, mengingat tantangan transisi Afrika Selatan menuju demokrasi dan warisan yang diwariskannya," cerita Pandor lagi.
Bisa dibayangkan saat berbicara dengan rekan-rekannya di majelis ini, meski nampak leganya ia di hadapan begitu banyak perwakilan negara yang berkomitmen pada solidaritas internasional dan mendukung Afrika Selatan yang merdeka.
"Marilah kita merasakan juga kelegaan bersama kita semua yang berkumpul di sini, hari ini. Namun, marilah kita pulang dengan mengingat pekerjaan yang harus kita sumbangkan. Saya percaya bahwa kenangan kita akan Nelson Mandela akan terus menginspirasi kita semua untuk melakukan pekerjaan transformasi dan untuk tidak pernah menyerah pada impiannya tentang masyarakat yang adil dan dunia yang adil," ungkapnya.
Pandor lantas mengmukakan, ia akan mengakhiri pidatonya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Presiden Mandela pada tahun 1990. Ketika itu Presiden Mandela berpidato di hadapan komite khusus yang menentang apartheid di ruangan ini.
Presiden Nelson Mandela mengatakan, "Kami juga memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan salam hangat kepada semua pihak yang berjuang demi pembebasan dan hak asasi manusia mereka, termasuk rakyat Palestina dan Sahara Barat. Kami mengapresiasi perjuangan mereka, yakin bahwa kita semua tergerak oleh kenyataan bahwa kebebasan tidak dapat dibagi, yakin bahwa pengingkaran hak seseorang mengurangi kebebasan orang lain."
Pandor menutup pidatonya. Khalayak memberi applause. "Saya berharap, kelak kita meninggalkan ruangan ini dengan tekad untuk berbuat baik." | jeanny
Artikel terkait : Kekuasaan Bukan Milik Pribadi yang Bisa Ditimbun