
Nahel Merzouk nama lelaki belia usia 17 tahun itu. Warga Nanterre, pinggiran kota Paris. Selasa (27.6.23), dia meninggalkan rumah untuk belanja makanan di kedai McDonald.
Hari itu, hari yang na'as buat Nabil. Polisi Prancis menembaknya. Lelaki belia yang sedang bertumbuh itu tewas mengenaskan, hanya karena pelanggaran lalu lintas.
Reuter mengabarkan, malam itu Nabil mengemudi secara ilegal. Ia masih terlalu muda untuk mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi) di Prancis.
Malam itu juga, kematian Nabil memantik amarah. Khasnya kalangan muda sebayanya. Khasnya, setelah banyak kalangan di seluruh wilayah Republik Prancis menyaksikan cuplikan video dalam platform tik tok yang tular ke ribuan smartphone.
Di video itu, seorang perempuan, yang dipahami sebagai ibu Nahel meratap.
"Saya kehilangan seorang anak saya. Mereka mengambil anak saya," seru perempuan itu dalam ratapan.
"Dia masih anak-anak, dia memerlukan ibunya. Pagi tadi dia memberi saya ciuman dan mengatakan dirinya mengasihi saya. Saya mengatakan kepadanya untuk berhati-hati dan saya mencintainya."
Sebelum dipisahkan oleh ajal, Nahel dan ibunya sama meninggalkan rumah dan berpisah. Nahel membeli makanan di kedai McDonald, dan ibunya berangkat kerja.

"Kemudian saya diberi kabar, mereka (polisi) menembak anak saya.. Apa yang bisa saya lakukan," kata perempuan yang lara, itu.
"Saya hanya punya dia. Saya tidak punya sepuluh orang seperti dia. Dia adalah hidup saya, sahabat saya. Dia adalah anak saya, dia adalah segalanya bagi saya," ratap sang ibu.
Reaksi kemarahan membara di dada neneknya, begitu tahu cucunya mati ditembak polisi.
"Saya tidak akan pernah memaafkan mereka. Cucu saya meninggal, mereka membunuh cucu saya. Kami sama sekali tidak senang, saya menentang pemerintah," ujar sang nenek yang tak disebutkan namanya.
"Mereka membunuh cucu saya... Sekarang saya tidak peduli dengan siapa pun. Mereka mengambil cucu saya dari saya, saya tidak akan pernah memaafkan mereka seumur hidup, tidak akan pernah, tidak akan pernah..., " ujar sang Nenek berulang.
Tak hanya video tentang ratapan ibu dan neneknya yang beredar. Lewat ribuan smartphone, tular cuplikan video yang menunjukkan dua petugas polisi di samping sebuah mobil Mercedes AMG, dengan satu orang menembaki pengemudi remaja (Nahel) itu dari jarak dekat saat ia menjauh.
"Saya akan menembak kepalamu," seru salah seorang polisi kepada Nahel.
Jaksa Nanterre menyatakan, Nahel meninggal tak lama kemudian, karena luka-lukanya. Polisi menembak dia, karena Nahel tak mematuhi perintah petugas polisi.
Keluarga Nahel, imigran asal Afrika Utara, itu menunjuk Yassine Bouzrou sebagai pengacara, dan segera menuntut polisi dengan tuduhan pembunuhan.
Pengacara tersebut, atas nama keluarga Nahel membentuk "Comité Vérité et Justice" ("Komite Kebenaran dan Keadilan") dengan bantuan Assa Traoré (yang saudara laki-lakinya dibunuh secara brutal oleh polisi pada tahun 2016) dan mantan anggota militan "Mouvement de l'Immigration et des Banlieues" (MIB).
Kematian Nahel menimbulkan reaksi khalayak, khasnya kaum muda yang selama ini hidup dalam tekanan sosio ekonomi dan psikososial. Kematian itu laksana gas yang cepat menyulut api kemarahan dan menjalar di berbagai kota di Prancis.
Selasa malam, di Nanterre, anak-anak muda bergerak dan melakukan aksi anarkis. Kerusuhan terjadi. Suasana menjadi kacau. Polisi menghalau mereka yang berunjuk rasa dan menuntut keadilan atas kematian Nahel.
Mereka tak lagi hirau dengan imbauan ibu Nahel yang meminta mereka melakukan aksi damai 'marche blanche' di Nanterre pada Kamis (29.6.23). Kerusuhan dan aksi anarkis kadung sudah menjalar.
Mereka pun mengabaikan seruan pemerintah dan kelompok moderat sayap kiri untuk perdamaian pada 28 .06.23. Juga seruan dari Dewan Ibadah CFCM (Conseil Français du Culte Musulman), Jum'at 29.06.23 yang meminta masjid-masjid mendampingi umat meredakan ketegangan sosial dan bersikap tenang.
Gerakan aksi yang disertai bentrokan dengan polisi pun terus menyebar merambah kota-kota, mengikuti isu yang terus menjalar bagai lidah api perlawanan terhadap pemerintah Republik.

Kemarahan dan aksi kekerasan menjadi reaksi yang sekaligus memicu meledaknya situasi understress akibat kemiskinan, diskriminasi, pengangguran, dan kurangnya kesempatan di lingkungan sekitar Paris dan berbagai kota.
Khasnya masyarakat imigran asal negara Afrika Utara, bekas jajahan Prancis di masa kolonial, seperti Nanterre, kota kelahiran dan tumbuh kembangnya Nahel.
Sejak malam 27 Juni, kerusuhan dan bentrokan massa dengan polisi terus menjalar di berbagai kota, seperti : Mantes-la-Jolie, Boulogne-Billancourt, Clichy-sous-Bois, Colombes, Asnières, Montfermeil) dan di seluruh Prancis, seperti di Roubaix, Lille, Bordeaux, Neuilly sur Marne, Clamart, Wattrelos, Bagnolet, Montreuil, Saint Denis, Dammarie les Lys, Toulouse, Marseille...termasuk di kota wisata Nice, Prancis Selatan.
Pemakaman jenazah Nahel sendiri tertunda, dan baru berlangsung pada Sabtu di pemakaman komunitas muslim, dekat rumahnya. Tak jauh dari tempat dia ditembak. Para pelayat yang emosional memberikan penghormatan di pemakaman Nahel.
Kerusuhan terus menjalar dan menimpa kota Paris. Toko-toko di pusat kota, termasuk rumah mode di pusat kota, seperti Champ Elysees tutup dan menjadi sasaran amuk massa yang sulit terkendali.
Sejak Selasa malam sampai Sabtu malam, polisi telah menahan sekitar lebih dari 2.800 orang pelaku aksi massa.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengadakan rapat krisis menghadapi situasi Prancis yang dicengkeram aksi kekerasan tersebut pada hari Kamis.

Di pinggiran kota lainnya, Clichy-sous Bois, anak-anak muda merangsek dan melakukan aksi kekerasan dengan memilih korban apa saja. Mereka tak peduli dengan tembakan polisi.
"Kisah Nahel adalah pemantik yang menyulut api kemarahan. Anak-anak muda yang putus asa sedang menunggunya. Kami tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan, dan ketika kami memiliki (pekerjaan), upah kami terlalu rendah," ungkap Samba Seck, seorang pekerja transportasi berusia 39 tahun di Clichy-sous-Bois, seperti diberitakan Independent.
Clichy mudah terpantik kerusuhan. Di sini, pada tahun 2005, berlangsung aksi kerusuhan massa berminggu-minggu, yang mengguncang Prancis. Kala itu, kerusuhan terjadi, dipicu oleh kematian dua remaja yang tersengat listrik di gardu listrik saat melarikan diri dari polisi. Salah satu anak laki-laki itu tinggal di proyek perumahan yang sama dengan Seck.
Seperti kebanyakan penduduk Clichy, Sech menyesalkan kekerasan yang menimpa kotanya, di mana sisa-sisa mobil yang terbakar berada di bawah gedung apartemennya, dan pintu masuk balai kota dibakar dalam kerusuhan pekan ini.
"Anak-anak muda merusak segalanya, tapi kami sudah miskin, kami tidak punya apa-apa," ujarnya, seraya menambahkan, sebenarnya "anak-anak muda itu juga takut mati di tangan polisi."
Presiden Emmanuel Macron telah mengerahkan sekitar 45.000 tentara di seluruh Prancis, termasuk pasukan elit yang dilatih untuk menghadapi serangan terorisme.
Para kritikus mengatakan bahwa respon keras ini hanya memicu ketegangan dan sekarang memicu seruan besar untuk melakukan reformasi yang serius. Macron, dinilai menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya diskriminasi dan konflik sosial yang disebabkan isu-isu sensitif. Termasuk isu-isu seputar ras dan agama.
Bagaimanapun, aksi anarkis tak dapat diterima, dan sangat disesali, seperti juga mengemuka dalam berbagai seruan di tengah kerusuhan sudah menjalar selama lima hari. Prancis unrest ! Api dan asap membara di mana-mana. | tique florence