Bila Kecerdasan Buatan Lampaui Kecerdasan Manusia

| dilihat 2876

AKARPADINEWS. COM | PENEMU komputer asal Inggris, Alan Mathison Turing melontarkan pertanyaan, "Dapatkah komputer berpikir?" Dalam artikelnya yang ditulis tahun 1950 berjudul Computing Machinery and Intelligence, Alan Turing juga mengurai syarat sebuah mesin yang dianggap cerdas. Dia pun berkesimpulan, sebuah mesin dianggap cerdas jika berperilaku layaknya manusia.

Alan Turing nyatanya tak sekadar mengajukan pertanyaan itu. Dia pun menjawabnya.  Lewat kejeniusannya, dia menciptakan mesin turing yang mampu memecahkan kode enigma Jerman yang turut mengurangi korban perang Dunia II. Mesin Turing dinisbikan sebagai cikal bakal terciptanya kecerdasan buatan (artificial intelligence) disingkat AI.

Di akhir tahun 1955, Newell dan Simon mengembangkan The Logic Theorist, program AI pertama. Program ini merepresentasikan  masalah sebagai model pohon, lalu penyelesaiannya dengan memilih cabang yang akan menghasilkan kesimpulan terbesar. Puncak dinisbikannya AI sebagai masa depan manusia dalam bidang teknologi adalah ketika pada tahun 1956, John McCarthy dari Massacuhetts Institute of Technology yang dianggap sebagai bapak AI, menyelenggarakan konferensi para ahli komputer, The Dartmouth summer research project on artificial intelligence.

Konferensi Dartmouth itu mempertemukan para pengembang AI yang kemudian meletakkan dasar bagi masa depan pemgembangan dan penelitian AI ke depan.  Dalam pertemuan itu, John McCarthy  mengusulkan definisi AI sebagai cabang dari ilmu komputer yang fokus pada pengembangan komputer agar memiliki kemampuan dan  berperilaku  seperti manusia. 

Menurut K.Warwick dalam buku Artificial Intelligence (2012), AI menjadikan komputer atau mesin, dapat berpikir dan berperilaku layaknya manusia. Berbagai aplikasi yang terdapat di komputer, handphone hingga pembuatan robot, menggunakan AI. Konsep AI mengikuti atau mencontoh karakteristik dan analogi berpikir manusia, dan menerapkannya sebagai algoritma yang dikenal oleh komputer.

AI semakin dikembangkan oleh ahli komputer, bahkan dimulai saat mereka masih mahasiswa. AI pun menjadi cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pemanfaatan mesin untuk memecahkan persoalan yang rumit, dengan cara yang lebih manusiawi.

Menurut Warwick, pada awal diciptakan, komputer hanya difungsikan sebagai alat hitung saja. Namun, seiring perkembangan jaman, peran komputer semakin mendominasi dalam kehidupan manusia. Komputer dapat diberdayakan untuk mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan oleh manusia.

Penerapan bidang AI beraneka ragam. Tujuan dari sistem kecerdasan buatan dapat dibagi dalam empat kategori yakni: dapat berfikir seperti manusia (Bellman, 1978), dapat berfikir secara rasional (Winston, 1992), dapat beraksi seperti manusia (Rich and Knight, 1991), dan dapat beraksi secara rasional (Nilsson, 1998).

Sejarah penting pengembangan kecerdasan buatan sebenarnya jauh sebelum Alan Turing mendeskripsikan mesin berpikir. Dimulai pada tahun 1206, diciptakan Robot Humanoid pertama, karya ilmuwan muslim bernama Ibnu Ismail Al-Jazari, insinyur mekanik Kesultanan Turki dari Dinasti Artuqid pada abad ke-13.

Al-Jazari  mampu menciptakan robot manusia (humanoid) yang bisa diprogram, jauh sebelum Leonardo da Vinci dari Italia yang merancang robotnya pada tahun 1478, yang selama ini diklaim sebagai perintis robot pertama.

Mesin robot yang diciptakan Al-Jazari kala itu berbentuk perahu terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat robot pemain musik, di antaranya dua penabuh drum, seorang pemetik harpa, dan peniup seruling. Robot ini diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan.

Untuk menggerakkan robot manusia tersebut, Al Jazari menggunakan tenaga air (hidrolik) dengan cerdik. Lantaran kejeniusannya itu, dunia mengakui penemuannya, hingga ia dikenal sebagai Bapak Robot.

Teknologi robot pun terus berkembang. Pada tahun 1796, lahir Karakuri sebagai rancangan robot  dari Jepang yang mampu menuang air teh. Selanjutnya adalah robot vision yang di dalamnya membutuhkan metode-metode untuk memperoleh, melakukan proses, menganalisa, dan memahami gambar atau image.  Robot   itu membutuhkan informasi untuk memutuskan aksi apa yang akan dilakukan.

Selain robot, kecerdasan buatan turut menciptakan Natural Language Processing (NLP).  NLP mempelajari bahasa alami yang diolah sedemikian rupa hingga user dapat berkomunikasi dengan komputer. Konsentrasi ilmu ini adalah interaksi antara komputer dengan bahasa manusia.

Pada tahun 2010, sistem kecerdasan buatan digunakan untuk pesawat komersial Boing 900-ER. Kini, kecerdasan buatan telah digunakan hampir di semua bidang untuk membantu kerja manusia.

Di balik pencapaian kecerdasan buatan, sejumlah ahli komputer, termasuk Stephen Hawking dari Inggris, telah mengingatkan dampak pemanfaatan kecerdasan buatan dalam kehidupan manusia. Dalam sebuah sesi wawancara, Ask Me Anything di forum online Reddit pada pertengahan tahun 2015, Hawking menjelaskan, tentang risiko dari kecerdasan buatan.

Menurut dia, dampak berkembangnya kecerdasan buatan, bukan memicu tingginya kejahatan. Namun, pada kompetensi atau kemampuan dan kewenangan manusia dalam menguasainya. Hawking mengingatkan, AI yang super pintar akan sangat baik mencapai tujuan. "Jika tujuan tersebut tidak selaras dengan kita, kita berada dalam kesulitan,” ujar Hawking.

Karenanya, dia menekankan penting kontrol ketat dari manusia. Hawking menyakini, pengembangan kecerdasan buatan yang berlebihan, tanpa kontrol, bisa menjadi akhir dari umat manusia. Karena, peranti lunak kecerdasan buatan, berpotensi mengembangkan dirinya sendiri dengan cepat. Sementara manusia dibatasi oleh evolusi biologis dan keberadaannya terancam oleh kecerdasan buatan.

Ratu Selvi Agnesia 

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 208
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 697
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1679
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 380
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 279
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 259
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 335
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya