Menyikapi Peradaban Medeni

| dilihat 1427

Nota Bang Sèm

Peradaban medeni (bahasa Jawa) yang mengerikan bukanlah peradaban madani yang menjanjikan harapan yang inklusif, setara, berkesetaraan, berkeadilan, demokratis, terbuka dan memungkinkan setiap manusia melihat dengan cinta.

Peradaban medeni adalah peradaban yang dihidupkan oleh kebencian, seperti diisyaratkan Jacques Marie-Émile Lacan (Jacques Lacan) psikoanalis Prancis terkenal (1901-1981) yang sezaman dengan Roland Barthes, Michel Foucault, dan Derrida.

Lacan mengembangkan psikoanalisis berbasis semiologi Sigmund Freud, yangdan memusatkan perhatian utama pada kajiannya tentang ketidaksadaran, yang sebelumnya pernah diperkenalkan Freud.

Sejak pertengahan abad 20 (awal 1950-an), Lacan sudah memprediksi, kita akan memasuki suatu zaman, dimana kebencian menjadi ciri utamanya.

Peradaban yang melemahkan kesadaran akal budi dan menyeret manusia ke dalam situasi paradoks, dihadapkan oleh kebiasaan pro - kontra dalam menyikapi sesuatu, tanpa mau melakukan verifikasi,konfirmasi, dan rekonfirmasi tentang sesuatu.

Dalam pandangan Lacan, "benci adalah hasrat." Hasrat inilah yang memicu hasad, hasud, yang dikemas melalui ghibah (rumors), buhtan (hoax), dan fithan (fitnah), sebagaimana sudah diingatkan Rasulullah Muhammad berabad-abad sebelumnya.  

Apa yang berulangkali terjadi di Prancis (terakhir kasus kematian Nahel Merzouk, 17 - baca: Nahel Merzouk Ditembak, Rusuh Menjalar Prancis). Juga kejadian rusuh dan gaduh di berbagai negara di seantero dunia sejak dua dasawarsa terakhir, adalah fakta.

Belakangan diperkuat oleh kekuatiran James Martin (2007) ihwal ketidak-mampuan mengendalikan kemajuan cepat teknologi informasi yang menyeret manusia ke dalam keadaan singularitas (amat sangat dipengaruhi oleh gadget).

Suatu keadaan di mana manusia hilang keseimbangan akal budi untuk meletakkan kecerdasan - keterampilan - kearifan secara proporsional pada tempat dan posisinya yang pas. Yang lantas mengemuka adalah kuatnya pengaruh presumsi dalam berpikir yang dianggap sebagai suatu kebenaran.

Gadget menebar kebencian antar personal dan kaum menjadi tular, hanya karena dipicu oleh potongan-potongan video, dan media mainstream mem-follow-up informasi (menggoreng)nya menjadi opini khalayak, tanpa lebih dulu menguji kebenaran informasi sebagaimana mestinya.

Tragisnya, informasi sumir yang tak terkonfirmasi dan sumbernya tak terverifikasi, menjadi rujukan. Lantas terjadilah penghakiman publik atau trial by the press -- yang di masa lampau merupakan pantangan, karena merupakan bagian dari kejahatan kemanusiaan. Penghancuran nalar publik.

Lacan, seperti dikutip Marie - Jean Sauret (Universitas Jean-Jaurès, Toulouse, Prancis) - (2019), mengemukakan, mungkin lebih sulit untuk membuat mereka (yang mudah terpanggang oleh kebencian) memahami dampak kehancuran kemanusiaan - personal dan sosial - kita tahu lebih sedikit tentang perasaan benci pengalaman kebencian yang lebih bersemangat secara tanpa disadari.

Kebencian, dalam percakapan sehari-hari kita, menurut Lacan, menutupi dirinya dengan banyak dalih, dikemas dalam rasionalisasi yang sangat mudah. ??Mungkin keadaan kumpulan kebencian yang membaur inilah yang memenuhi, dalam diri kita, panggilan untuk penghancuran makhluk. Seolah-olah objektifikasi manusia dalam peradaban kita berhubungan persis dengan apa - dalam struktur ego - adalah kutub kebencian."

Inilah yang menurut Sauret, kita berada dalam peradaban kebencian, terlepas dari fakta, bahwa hari ini kita akan mengetahui lebih sedikit daripada di waktu lain, "perasaan benci."

Situasi ini sangat menggusarkan, terutama ketika dalam mekanisme religius, konflik-konflik berbasis kebencian yang melumatkan simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta lantas menyeret manusia ke dalam ideologi dan gerakan kekerasan. Khasnya, ketika manusia tak peduli, bahwa dirinya dan semesta adalah fana. Hidup berada di antara pengetahuan tentang kematian di satu sisi dan kematian konkret di sisi lain.

Khasnya, ketika kesadaran ontologis tentang kefanaan insaniah tidak lagi dipahami dan dimanifestasikan dalam, kehidupan sehari-hari, antara lain karena sindrom eksistensialisma yang mengabaikan keselarasannya dengan eksistensi ilahiah yang baka.

Kebencian ini lantas menjadi pasangan ontologi -- terutama berkaitan dengan klaim tentang sifat eksistensi Tuhan, manusia, dan semesta. Apalagi, menurut Martin,  di Abad XXI kita akan harus menjawab tantangan tentang risiko eksistensial manusia.

Akankah kita terseret ke dalam arus besar degradasi peradaban dari peradaban Madani ke peradaban medéni? Semua akan berpulang kepada manusia dan kaumnya. Seberapa jauh, kita sungguh gigih dan peduli untuk terus merawat dan memelihara kehidupan budaya dan agama sebagai basis kehidupan?

Dalam konteks ini, peran dan fungsi pemimpin (formal, informal, dan non formal, ulama - umara dan pemimpin kaum) sebagai pemandu jalan peradaban menjadi penting. Terutama dalam memainkan kembali peran dan fungsi kepemimpinan sebagai penentu haluan kehidupan yang bahagia, sejahtera, adil dan terhindar dari petaka.

Caranya, kembali kepada kesadaran untuk terus merawat kemauan dan kemampuan berfikir dan beraksi dalam keseimbangan akal budi. Berteguh sikap dan berani melawan arus besar pragmatisme (pun transaksionalisma kehidupan politik dan sosial). Mau, mampu dan berani menegakkan prinsip prinsip dasar kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa dalam keseluruhan konteks kemanusiaan. Sekaligus menjadikan kekuasaan hanya sebagai alat untuk mewujudkan cita-cita kolektif, bukan hanya cita-cita kelompok dan golongan.

Setarikan nafas, menjadikan seluruh anasir kaum sebagai mitra setara dalam membangun negara - bangsa. Bukan sebagai lawan politik dan kompetitor. Landasannya adalah keadilan, tanpa kecuali, keadilan gender yang mesti ditegakkan dari dalam lingkungan sosial terkecil bernama keluarga. Di atasnya, dibangun kesadaran, bahwa demokrasi merupakan cara mencapai harmoni - keseimbangan sosial dan kebangsaan.

Beranjak dari pandangan inilah, penting mengkaji dan memahami ulang pemahaman tentang kehidupan sosial dan kebangsaan dengan melihat realitas terkini. Mulai dari hakikat kemanusiaan sebagai keandalan kualitas insaniah (secara nalar, nurani, rasa, raga) untuk menghidupkan kemuliaan bersama.

Kemuliaan yang ditandai oleh kemauan dan kemampuan memperkecil friksi dan konflik, dengan mendahulukan kewajiban menghimpun yang terserak, mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang dekat, untuk memelihara komitmen secara konsekuen dan konsisten untuk saling memuliakan.

Beranjak dari pandangan ini, dalam konteks kekinian, nasionalisme tidak lagi merupakan narrow nationalism, melainkan nasionalisme mondial. Takaran-takarannya jelas, yakni kesadaran religius (sebersih-bersih iman, ilmu pengetahuan, dan formula) dalam berkehidupan.

Budaya dialog yang menjadi ciri peradaban masa lampau mesti dihidupkan kembali dengan kesadaran mengelola seluruh perangkat mutakhir kehidupan (gadget), produk artificial intelligent (AI) dan habitus baru internet on think sebagai perangkat mencapai keseimbangan (untuk kebahagiaan hidup) kolektif, dan memuliakan manusia. Kedati, para pelopor AI sudah mulai terkepung oleh ketakutan akan dampak AI terhadap kemanusiaan.

Dalam konteks ini, setiap pemimpin mesti menyadari tugas utama mereka menghidupkan kreativitas untuk melakukan berbagai inovasi (bukan sekadar renovasi) dalam mewujudkan pencapaian nilai-nilai kemanusiaan baru.

Tidak mudah memang. Namun, harus ada kesadaran kolektif manusia untuk menghadang dan menaklukan peradaban medeni. Antara lain dengan menghidupkan kesadaran bersama melakukan upaya-upaya merancang peradaban baru. Termasuk memanfaatkan keunggulan sains dan teknologi untuk membalik kemiskinan, mengatasi berbagai krisis, menaklukan pandemi penyakit (tak terkecuali kesehatan mental), mencegah perang dan terorisma (termasuk teror yang virusnya menyebar melalui media sosial), menghidupkan keseimbangan kecerdasan - keterampilan - dengan kearifan, dan menghidupkan budaya kreatif berbasis sains dan teknologi.

Di sini, siapapun pemimpin dan apapun klasemennya, mesti memaknai hakikat perubahan yang bertumpu pada budaya, adab dan keadaban. Sesuatu yang tercermin dalam perilaku, termasuk perilaku dalam beradaptasi dengan kebiasaan budaya baru, serta memahami hakikat pemahaman tentang: satu tujuan kehidupan; tiga relasi manusia dengan sesama, semesta, dan Tuhan; dan tujuh langkah peradaban: keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, keseimbangan (mental-spiritual, ruhani-jasmani), kenyamanan, keamanan, dan kebahagiaan.

Peradaban medéni akan mampu dicegah, bila manusia sadar untuk mengambil jarak dengan berbagai aspek kehidupan palsu (termasuk media sosial, AI, dan medium lainnya), sekaligus terus bersekutu dengan kesadaran imani (bertelekan collective order, norma, nilai, resam), dan menempatkan diri sebagai subyek kehidupan.

Dalam konteks ini, kemandirian berfikir sebagai haluan dalam mengarungi gelombang perubahan dramatik yang bakal terus terjadi, disertai kemauan dan kemampuan menghargai pikiran, sikap dan pandangan orang lain (merayakan perbedaan dan keragaman), adalah dua sisi 'mata pisau' yang penting dalam membedah fenomena, lantas melahirkan paradigma baru dalam memandang kehidupan.

Kita wajib mencegah peradaban medéni dari cara kita berpikir. |

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1124
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3255
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya
Polhukam
13 Jun 26, 06:26 WIB | Dilihat : 428
Langkah Berani Dato Onn Hafiz
08 Jun 26, 09:46 WIB | Dilihat : 319
Gelombang Biru di Negeri Johor
03 Jun 26, 10:21 WIB | Dilihat : 325
Cabaran Kewartawanan Era Baru
30 Mei 26, 04:47 WIB | Dilihat : 375
Kampanye Humor Kemerdekaan Pers
Selanjutnya