Obituari

Bulan Trisna Jelantik Pejuang Seni Tari Menari untuk Semesta

| dilihat 360

Endang Caturwati

Rabu 24 Februari 2021, pukul 02.00 dini hari, saya menerima kabar duka dari Miranda Risang Ayu, bahwa ibu dan sahabat kami tercinta Dr. dr. Ayu Bulan Trisna Jelantik, telah dipanggil oleh Allah SWT.

Saya terhenyak beberapa saat,  antara percaya dan tidak percaya. Masih terbayang senyum yang selalu menghias wajahnya yang cantik ayu.

Terakhir kali, kami 'bertemu' secara virtual pada acara International Webinar on Mask of Global Society & and Dance of Maestro, sebagai narasumber dan penari Topeng. Bulan Trisna sebagai penari Topeng Candrakirana, saya berduet dengan Een Herdiana (Rektor ISBI Bandung) menari Topeng Purbasari dan Pubararang.

Miranda, adalah sahabat  lama, yang saya kenal sejak dia masih remaja SMA. Beberapa kali  kami menari bersama dengannya  pada  acara penting,  terakhir pada Konferensi Negara-negara Non Blok (tahun 1983) di Gedung Merdeka.

Dari 12 penari Merak gaya Sunda binaan Irawati Durban,  hanya Miranda dan Laksmi yang  berusia paling belia, 16 tahun,  sedangkan para penari lainnya berusia di atas 20 - 28 tahun.  Karenanya, layak, apabila Miranda terpilih menjadi penari yang mewakili Indonesia. Selain murid Irawati Durban, Miranda juga murid Bengkel Tari Bali Bulan Trisna Jelantik, dengan tari Legong Kuntul sebagai tarian utama dan andalan.

Kesedihan Miranda nampak begitu dalam, dalam komunikasi via  Whatshapp, yang dikirim kepada saya banyak emoticon berlinang air mata.

Ketika kami berbicara melalui telepon, juga masih terdengar suara yang pilu. Saya merasakan kesedihannya.

Hubungan pribadi Miranda dengan Bulan Trisna begitu dekat. Bagi Miranda, Bulan Trisna seolah ibunya sendiri. Miranda selalu menyebutnya dengan  panggilan ‘Biyang.’

Miranda mempunyai kenangan tersendiri dengan almarhumah Bulan Trisna atau Biyang, khususnya pengalaman unik yang tidak hanya dilibatkan  menari di panggung-pangung in door atau out door dalam acara-acara formal, tetapi -- yang mungkin tidak pernah dilakukan oleh penari  atau maestro tari lain -- beberapa kali Biyang membawa Miranda serta para muridnya menari secara spiritual di tempat-tempat khusus (bukan acara pergelaran), antara lain di Candi Sukuh Yogyakarta, dan Gua Sunyaragi Cirebon (bangunan berbentuk candi berbatu karang - salah satu bangunan cagar budaya Cirebon).

Penari lain menari secara rampak (kelompok), sedangkan Miranda dan Biyang menari sendiri secara personal. Semua penari, mengenakan kostum lengkap, Tari Legong Putih (Kuntul), dan Legong Kupu Carung, sebagaimana layaknya akan pergelaran yang akan dipertontonkan kepada banyak orang.

Pernikahan Adat

Bulan Trisna terasa lebih istimewa bagi Miranda, karena berkenan hadir dan menari -- bersama murid-muridnya -- di Tuntas Belis Sumba, 2017. Sebelumnya, Miranda dengan suaminya Rato Rumata, menggelar prosesi pernikahan adat di salah satu kampung adat asal suaminya di Sumba, tahun 2015.

Ketika itu, Biyang bersama para penari binaannya  menari Legong di atas batu kubur (makam) zaman  megalitikum, lengkap dengan busana tari Legong. Kehadiran dan performa Biyang  dan para muridnya, itu membuat Miranda bahagia dan terharu. Miranda ikut menari bersama Biyang Bulan di atas batu kubur. Apalagi Biyang dan para penari binaannya, hadir ke Kampung Tuntas Belis Sumba, itu atas biaya sendiri. Mereka menari Tari Legong dan Tari Rejang.

Selain para penari dari Bandung dan Jakarta, Biyang juga melatih para penari dari kampung itu, hanya 1 hari untuk berkolaborasi.  Mereka cepat beradaptasi dan mengikuti tarian yang diajarkan Biyang. Terutama, karena mereka menari dengan tulus dan bahagia, disaksikan oleh masyarakat Sumba setempat.

Mereka menari di atas makam leluhur di depan rumah Adat Sumba. “Biyang sangat paham  akan ‘duka’ terdalam saya, maupun ‘suka’ atas kebahagiaan saya,"  ujar Miranda.

Bagi yang belum pernah mengunjungi kampung Tarung di Sumba, akan merasa heran, mengapa makam berada di halaman rumah adat, bahkan ada yang di dalam rumah huni. Seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak tidak takut untuk duduk atau berdiri di atas batu kubur, karena terbiasa hidup dalam sistem kepercayaan khas komunitasnya.

Sistem kepercayaan masyarakat Kampung Tarung disebut ‘Marapu,’ suatu sistem kepercayaan masyarakat yang meyakini,  bahwa arwah nenek moyang atau leluhur yang telah meninggal,  tetap hidup di tengah-tengah mereka.

Inti kepercayaan Marapu,  adalah kepercayaan akan adanya eksistensi Ilahi yang disebut  “Mawolu Marawi” atau “Pencipta segala sesuatu,” yang berkuasa atas hidup matinya manusia,  serta seluruh alam dan termasuk leluhur. Kuburan ditutup batu megalitik, seolah bagian dari bangunan yang ada di rumah pribadi, atau rumah adat.

Miranda berceritera melalui telpon sambil tak henti menahan isak tangis,  mengenang ketulusan ‘Biyang Bulan’ pada semua anak didiknya, yang selalu mengajarkan menari dengan hati, dengan ihklas, dan mendidik murid-murid binaannya menyerahkan diri kepada semesta, kepada alam, dan  kepada Tuhan. Itu sebabnya Biyang sering mengajak mereka menari  di tempat sunyi, bahkan di atas bukit, dan tempat lainnya, secara spiritual.

Miranda sering diminta untuk menari sendiri, hingga merasakan adanya ekspresi, getaran rasa, ketenangan  batin,  dan ketenangan pikir, bahkan sampai trance. Biyang mengajarkan  kepada anak didiknya, menari adalah meditasi. Di tengah hiruk pikuk, serta kesibukan, diperlukan ketenangan sejenak, terutama pikiran dan hati.

Pejuang Tari dan Perintis Berdirinya ASTI Bandung

Lain Miranda, lain dengan saya. Saya mengenal Bulan Trisna Jelantik pada tahun 1976, ketika  menjadi mahasiswa  Akademi Seni  Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Bulan Trisna mengajar  tari Bali.

Bulan Trisna,  tak hanya sebagai dosen, tetapi salah seorang yang mempunyai andil dalam mendirikan ASTI Bandung, bersama dengan tokoh lain, seperti Irawati Durban, Enoh Atmadibrata, Karna Yudibrata, Makmur Danasasmita, dan beberapa orang lainnya. 

Tampilan Bulan sangat cantik, kala itu berusia 29 tahun, seorang dokter muda -- kemudian menjadi dokter spesialis THT - telinga hidung tenggorokan -- yang diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) justru sebagai dosen tari, di ASTI Bandung, sebagaimana juga Irawati Durban seorang desainer interior lulusan ITB, yang juga sama diangkat  sebagai PNS karena sebagai pengajar tari Sunda di ASTI Bandung.

Saya sangat bersemangat diajar oleh pengajar yang cantik, ramah, baik hati dan memotivasi. Beberapa tarian saya peroleh dari Bulan Trisna, mulai dari tari Pendet, Panji Semirang, Margapati, dan tari Tenun. Sayangnya, belum sampai ke tahap tari Legong, karena Bulan Trisna mengambil cuti melahirkan ( saat itu sedang hamil 8 bulan).

Pada bulan ke tujuh kehamilan, Bulan Trisna masih mengajar, sehingga saya sangat trenyuh, melihatnya menari dengan posisi agem, ngeseh, atau gerak ngegol, dengan bentuk perut hamil besar.  Bahkan  saya mersa cemas, kuatir perutnya  kesakitan,  dan takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan dengan bayinya. Namun Bulan Trisna malah tersenyum dan menjelaskan, “dengan bergerak menari, kehamilan saya menjadi sehat, si bayi juga olah raga, ikut menari.”

Saya beruntung dan merasa bahagia, walaupun  ibu Bulan Trisna belum sempat  mengajarkan tari Legong, karena sebelumnya saya sering melihat Bulan Trisna menarikan Tari Legong, baik di kampus  ASTI maupun luar kampus, secara atraktif dan indah.

Saya melihat Bulan Trisna menari dengan gesit dan ekspresif, menarikan tarian yang sangat langka untuk bisa dilihat di kota Bandung, tetapi saya bisa melihat berulang kali dengan gratis, tanpa harus pergi ke Bali.

Direktur ASTI  Karna Yudibrata, sangat suka melihat Bulan Trisna menari Legong dan Irawati Durban  menari Kandagan. Ketika itu saya belum ‘ngeh’, kalau kedua perempuan cantik yang mengajar tari Bali dan tari Sunda di ASTI Bandung, itu merupakan penari Istana.

Bulan Trisna menjadi penari istana kepresidenan sejak masa pemerintahan Presiden Republik Indonesia  Soekarno, Suharto. Di masa pemerintahan Presiden Jokowi gelar tari yang biasa ditarikannya,  ditampilkan oleh murid binaannya.

Guru Tari Perempuan

Saya tersadar dan merasa, ternyata Bulan Trisna dan Irawati Durban, yang 'mengolah dan membentuk' tubuh saya menjadi penari perempuan sesungguhnya.  Sebelumnya,  semua guru tari saya, baik tari Sunda maupun tari Jawa  adalah laki-laki, seperti,  Pak Takim (Tari Jawa). Untuk tari Sunda saya dilatih oleh Pak Kodir Ilyas, Pak Tarya, Pak Yoesuf Tejasukmana, Pak Yuyun Kusumadinata, Pak Enoh Atmadibrata, dan Pak Uba.

Di tatar Sunda, penari perempuan boleh menari di muka umum, beberapa tahun setelah Indonesia Merdeka, sekitar dekade 1950-an, dipelopori oleh tokoh pembaharu tari Sunda Tjetje Somantri. Itu pun karena ada permintaan dari Presiden Soekarno, bahwa Istana Jakarta harus mempunyai penari perempuan, sebagaimana Istana Tapak Siring Bali di Bulan Trisna salah satu penarinya.

Irawati pun menjadi penari Istana Negara Jakarta di bawah Badan Kesenian Indonesia (BKI), pimpinan Tb. Oemay Martakusuma, jadi Bulan Trisna pun perintis guru tari perempuan, yang kala itu masih langka.

Bulan Trisna tidak mengajar lagi di ASTI Bandung karena melahirkan, dan kemudian pindah ke Jakarta. Sejak saat itu, lama sekali saya tidak pernah bertemu.

Awal tahun 2000-an, baru  saya sering bertemu pada  acara-acara seni budaya, baik sama-sama sebagai peserta seminar, saresehan, atau sebagai apresiator pertunjukan, atau menyaksikan Bulan Trisna menari bersama murid-muridnya. Ciri khas Bulan Trisna yang ramah, semangat, tidak pernah lepas dari senyum, serta selalu mengenakan kain dan kebaya (kain bercorak Bali), 'abadi' dalam kenangan saya. 

Masih  terbayang dalam ingatan, ketika bertemu di Taman Ismail Marjuki pada Festival Tari 2015,  juga di Denpasar Bali dalam Acara World Culture Forum (2016), dengan penuh semangat Bulan Trisna menceritakan aktivitas sanggar tarinya, karya-karya tarinya, serta tentang murid-muridnya, yang membuat dirinya sangat bangga dan bahagia. 

Ketika saya mendapat amanah mengabdi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), setidaknya ada dua peristiwa yang membuat dia bahagia, dan bangga.

Pertama ketika diundang untuk mengadakan pergelaran menari bersama, tari Pendet di Kemdikbud, dengan mengajak masyarakat Jakarta menari bersama,  melibatkan  hampir 1000 penari dengan busana, kebaya, kain tenun batik. Kedua, ketika diundang untuk menampilkan tari Legong Kuntul, yang dipergelarkan pada Pembukaan Kongres Kesenian Indonesia (KKI) III, di  Hotel Panghegar Bandung (2015), yang dibuka oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan. Tak henti-hentinya Bulan Trisna mengucapkan terimakasih. Pada saat itu saya masih menjadi Direktur Kesenian Kemdikbud.

Pejuang Seni Tari

Bulan Trisna, merupakan Pejuang  Tari  Bali  yang gigih mempertahankan tari Bali tetap eksis di Jakarta. Selama 63 tahun Bulan Trisna mengabdikan  hidupnya untuk menari  dan mengajar Tari Legong. "Legong adalah akar tari Bali, yang  usianya  telah  mencapai 200-300 tahun.”  

Bulan  Trisna, bercita-cita ingin mempertahankan keaslian Tari Legong, selain juga menata  Tari Legong, lainnya untuk kepentingan pergelaran atau apresiasi.  Untuk  mempertahankan Tari Legong, Bulan Trisna rela meninggalkan kariernya sebagai  Dokter  THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan), sejak tahun  2004.

Bulan Trisna berhenti praktik sebagai dokter.  Bulan Trisna juga tidak  lagi mengajar  di Fakultas Kedokteran Unversitas Padjadjaran, Bandung. Semua itu, hanya karena lebih fokus pada dunia seni tari, menari, dan mengajar tari Legong.  Bahkan Bulan Trisna mengajarkan tari Legong kepada koleganya, sesama dokter spesialis THT.  

Menurut Bulan Trisna, tidak  semua perempuan penari Bali atau penari  daerah lain yang belajar tari Bali  bisa menari Legong. Ada ciri fisik khusus,   terutama, "Badannya tidak bisa terlalu panjang, kurus, atau gemuk. Wajahnya harus  bulat,  supaya cocok mengenakan hiasan kepala." Tubuh penari Legong juga harus lentur, tetapi bukan berarti tidak kuat atau lemah. Tubuh penari Legong justru harus kuat.  

Ekpresi tari Legong penuh dinamika, kadang tarian Legong  menuntut penarinya berperan sebagai tokoh yang maskulin, selain harus anggun dan gemulai. "Cerita pada tari Legong bisa bermacam-macam”. Tergantung dari  ceritera  yang akan dibawakan atau mengambarkan sosok atau tokoh siapa. Bulan Trisna dikenal sebagai penari Legong, sejak usia remaja, genre tari Bali klasik yang membutuhkan teknik tingkat tinggi, sebagaimana tari Ballet. Memerlukan waktu bertahun-tahun untuk berlatih  dengan  tekun hingga  dapat menarikannya dengan baik.

Duta Negara

Selain menjadi penari Istana,  Bulan Trisna pun sering dipilih menjadi penari 'Duta Negara' untuk kunjungan ke luar negeri. Pada 1964, Presiden Sukarno melakukan diplomasi budaya. Bulan Trisna, terpilih menjadi anggota rombongan penari.

Bulan Trisna, dikirim ke Pakistan, Thailand, Singapura, dan Kamboja. Selanjutnya Bulan sering menari atas undangan  di berbagai acara  negara, atas hubungan persona, atau juga  undangan-undangan formal seminar sambil menari.

Tahun 2018, Bulan  Trisna baru menikah kembali dengan laki laki pilihan hatinya di usia senja,  tatkala keduanya berstatus lajang. Bulan Trisna pindah ke rumah suaminya,  Martiono Hadianto. Beruntung Suaminya sangat mendukung kegiatan Bulan Trisna. Rumah tempat tinggalnya sering digunakan untuk latihan tari Legong hingga akhir hayatnya.

Cita-citanya untuk tetap mempertahankan tari Legong, tari klasik Bali, sebagai tari warisan budaya daerah dan budaya bangsa, berhasil diraih. Bulan Trisna telah mengubah nilai tari daerah Bali, tari klasik Legong, tidak hanya ditarikan di Pura, di Banjar, atau di tempat-tempat pertunjukan formal, tetapi menjelajah sampai ke tempat yang tidak terfikirkan oleh banyak orang, tanpa penonton, termasuk di atas kuburan. Bulan Trisna mengajarkan menari dengan tulus, dengan hati, dengan rasa, dan diekspresikan secara total untuk alam semesta.

Selamat jalan Biyang Bulan, guruku, sahabatku. Semoga tenang di alam barzah, tersuluh karya-karya keikhlasanmu. Kami tetap mengenang jasamu,  sebagai sosok yang pantang menyerah, tak pernah lelah menghidupkan seni tari. Ia selalu tersenyum dalam menghadapi apapun. Amor ing Açintya, semoga husnul khatimah. Astungkara.  |

Penulis adalah Guru Besar Seni Pertunjukkan - Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) - Bandung

Editor : eCatri | Sumber : foto-foto berbagai sumber
 
Sporta
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 566
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1477
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2364
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 252
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 422
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 416
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 352
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya