Etika Mendaki Gunung

| dilihat 4336

AKARPADINEWS.COM | Kegiatan mendaki gunung (hiking) bukan sekadar hobi atau olahraga semata. Namun, hiking merupakan wujud kedekatan seseorang dengan alam yang dicintainya. Kegiatan itu menjadi tren yang digandrungi banyak orang. Tidak hanya para pendaki dan pecinta alam saja.

Orang tua, anak sekolah, hingga pekerja kantoran yang ingin melepas penat, turut menggemari aktivitas alam ini. Tetapi, sekedar menggemari saja tidak cukup. Dan, tujuan mendaki gunung tidak hanya mencapai puncak untuk sekedar menikmati keindahan.

Gunung adalah alam liar yang harus dijaga dan dirawat ekologinya. Karenanya, terdapat etika bagi mereka yang bersahabat dengan gunung. Di antaranya, "Jangan ambil sesuatu kecuali gambar. Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu. Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak.”

Sayang, etika itu seringkali dilanggar, khususnya bagi para pendaki pemula. Akibatnya, semakin rusak alam. Tumpukan sampah sering kali ditemui, hingga terjadinya peristiwa-peristiwa kecelakaan yang dialami para pendaki. Kecelakaan ini, bukan karena jalur pendekian yang kejam. Tetapi, lebih pada sikap apatis para pendaki itu sendiri. Contohnya terjadinya kebakaran hutan pada Minggu (18/10/2015) pukul 13.40 WIB di petak 73 Gunung Lawu, Magetan-Jawa Tengah.

Menurut laporan tim Search and Rescue (SAR), kebakaran tersebut diduga akibat perapian atau api unggun yang tidak dipadamkan para pendaki gunung. Dalam insiden itu, tujuh pendaki ditemukan tewas. Korban ditemukan di antara pos 3 dan 4 jalur pendakian Cemoro Sewu.

Dari ketujuh korban tersebut, baru empat yang berhasil diidentifikasi: Rita Septi Nurika, 21 tahun, warga Paron (Ngawi), Nanang Setia, 16 tahun, warga Beran (Ngawi), Marwan warga Beran (Ngawi), dan Joko Prayitno, 31 tahun, warga (Kebun Jeruk, Jakarta). Selain tujuh pendaki tewas, kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu juga menyebabkan dua pendaki lainnya kritis akibat luka bakar di atas 50 persen.

Tim SAR juga mengungkapkan bahwa para pendaki korban tewas dan luka tersebut tidak tercatat di buku pendaftaran pos Cemoro Sewu. Sebenarnya, jalur pendakian Lawu ditutup sejak 16 Oktober 2015 karena satu bulan sebelumnya, di sekitar jalur terjadi kebakaran hutan yang ditakutkan dapat mengancam keselamatan pendaki.

Miris pula bila para pendaki melakukan cara yang ilegal untuk mendaki gunung Lawu dengan melewati jalur lain dengan cara tersembunyi, tanpa sepengetahuan petugas. Apalagi kebakaran terjadi akibat ulah para pendaki (human error).  Tim SAR menduga, jumlah pendaki yang tewas akibat kebakaran di Gunung Lawu kemungkinan bertambah. Karena tak diketahui jumlah pasti pendaki yang naik ke Puncak Lawu.

Peristiwa ini dapat menjadi refleksi untuk para pecinta alam jika sebelum memulai perjalanan penting mematuhi tata tertib pendakian. Di antaranya: melapor atau meminta izin pada Kantor Balai Taman Nasional atau Kantor Polisi terdekat, membawa penunjuk jalan yang sudah berpengalaman, membawa perlengkapan atau perbekalan secukupnya, dan membawa kembali sampah non organik saat kembali ke kaki gunung. Selama berada di atas gunung, dilarang mengambil tumbuhan, binatang atau barang-barang lain yang ada di gunung.

Dilarang pula mencoret-coret, merusak pohon, bangunan dan bebatuan yang ada di gunung. Dan, menjaga kesopanan di gunung. Selain itu, mendirikan tenda pada tempat-tempat yang telah ditentukan dan membatasi penggunaan api untuk mencegah terjadinya kebakaran. Apalagi, saat ini musim kemarau.

Insiden yang memakan korban jiwa itu bukan kali ini saja terjadi. Sudah banyak kabar buruk yang dialami para pendaki. Kasus lain yang menarik perhatian khalayak adalah yang dialami Eri Yunanto (21 tahun), mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta. Usai berfoto selfie di puncak Gunung Merapi (bekas puncak Garuda), Eri tergelincir ke kawah Merapi pada Sabtu (16/5) lalu. Karena medan bibir kawah yang begitu berat, jasadnya berhasil dievakuasi beberapa hari setelahnya.

Lalu, Dania Agustina Rahman (19 tahun), mahasiswa Universitas Pasundan, Bandung, yang tewas tertimpa longsor ketika mendaki bersama tiga rekannya dari Kalimati, menuju puncak Gunung Semeru setinggi 3.676 meter dari permukaan laut pada Agustus 2015 lalu. Kematian Dania yang bertepatan sehari setelah ulang tahunnya menuai simpati dan belasungkawa sejumlah khalayak di media sosial, termasuk pihak kampusnya.

Peristiwa itu membuktikan, alam tidak pernah bisa ditaklukan. Karenanya, yang penting bagi para pendaki adalah mengantisipasi berbagai hal dan mempersiapkan berbagai bekal sebelum memulai pendakian. Selain mempersiapkan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan, yang ingin mendaki gunung, harus memiliki mental berani dalam arti sanggup menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan.

Lalu, mengatasinya dengan cara bijaksana dan mengakui keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Selanjutnya, membekali diri dengan pengetahuan tentang alam dan teknik hidup di alam bebas, dan fisik yang kuat untuk melakukan perjalanan yang cukup berat. 

Seorang pecinta alam tentu memahami dan mentaati etika mendaki gunung, yang juga menekankan pentingnya perlindungan dan pelestarian gunung. Dan, jangan lalai pula itu mengikuti safety prosedur agar terhindar dari kejadian tidak diinginkan. Ingat, keluarga menunggu para pendaki pulang dengan selamat di rumah.

Ratu Selvi Agnesia 

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Energi & Tambang
Humaniora
26 Mei 26, 06:53 WIB | Dilihat : 414
Dimensi Haji
21 Mei 26, 21:54 WIB | Dilihat : 432
Jamaah Haji Syarikat Islam Apresiasi Peningkatan Layanan
11 Mei 26, 09:34 WIB | Dilihat : 681
Sandal dan Kain Ihram Gratis
Selanjutnya