
Catatan Kenangan Bang Sém
menjemput pagi
o pejuang budaya
husnul khatimah
Pagi baru beranjak. Rabu, 26 Juli 2023. Saya baru usai mereview butir-butir pemikiran 'Ihwal PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)' karena jelang siang akan ada rapat hibrid Dewan Penasehat PWI Pusat tentang Kongres PWI yang akan diselenggarakan di Bandung. Pesan whatsapp masuk ke bimbit saya. Saya baca. "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Mengabarkan, Pak Yayat Hendayana wafat subuh tadi di rumah sakit Al Ihsan."
Karena tak ada namanya dalam bimbit (handphone) saya, saya segera menghubungi Sekretaris Jendral PWI Pusat, Mirza Zulhadi. Panggilan tak tersahut. Saya segera menghubungi Yesmil Anwar, penyair - aktor - dosen - kriminolog. Kabar terkonfirmasi, informasi yang masuk bimbit saya benar. Setelah itu, Mirza menghubungi saya, lagi.., mengkonfirmasi kesahihan kabar tersebut. Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun.
Karena berbagai kesibukan dan agenda yang relatif padat, cukup lama tak ada komunikasi saya dengan Allahyarham. Terakhir kali komunikasi via sambungan bimbit, ia mengabarkan sedang 'tidak enak badan.' Ketika itu, ia bicara, "Kapan kita kumpul lagi.. Luangkan waktu kumpul lagi dengan Diro, Yesmil, Sis dan kawan-kawan. Jung... hadir lagi di kegiatan Haikuku Indonesia."
Saya salah seorang yang amat respek dan kagum dengan Allahyarham, Dr. Yayat Hendayana, SS., M.Hum (07.06.43 - 26.07.23) sejak dekade 1970-an. Selain Endang Caturwati - Guru Besar Ilmu Seni Pertunjukan - ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) - Bandung, Allahyarham adalah salah seorang 'pemantik' perhatian saya atas budaya Sunda. Terutama ketika kian karib dengannya.
Tulisannya bersama Suyatna Anirun (Pengaruh Kesenian Daerah Pasundan pada Perkembangan Teater Indonesia, Budaya Jaya, No. 100, September 1976) salah satu yang mengusik perhatian saya.

Fokus, Jernih, Proporsional
Dalam tulisannya tersebut, Allahyarham yang biasa saya panggil Kang Yayat, mengungkap, bagaimana khalayak Pasundan di Jawa Barat, sudah lama karib dengan cabang kesenian teater. Setidaknya, sejak dikenal sebagai tonil, sandiwara, drama, dan kemudian teater. Dalam tulisannya, Allahyarham menyebut tradisi 'dolanan anak-anak,' seperti pring-pring, gondang, calung, oray-orayan adalah bentuk lain dari teater alam.
Kang Yayat, mengenyam pendidikan di Akademi Teater dan Film - Bandung, Sastra Sunda dan memungkas studi program doktor di UNPAD(Universitas Padjadjaran). Ia juga beroleh bea siswa dari UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) mengikuti program pendidikan jurnalistik di Internationales Institut für Journalistik, Berlin - Brandenburg.
Dalam interaksi dengan Allahyarham, khasnya sejak dekade 1980-an (ketika saya bersama Allahyarham Nang Wahid dan Allahyarham Bambang Boedi Asmara sering bersembang-sembang (ngobrol) dengannya, saya lebih mengenalnya sebagai seorang pejuang budaya dan kemanusiaan.
Pun dalam konteks profesionalitasnya sebagai jurnalis. Allahyarham yang merupakan salah seorang wartawan ulung Bandung, kala bekerja di Harian Pikiran Rakyat, telah menghadirkan formula penulisan jurnalisme sastra yang tak penah mengabaikan dimensi manusia dan kemanusiaan.
Perspektif kemanusiaannya kuat, meski point of view dan angle penulisannya beraneka, tergantung pada peristiwa dan masalah yang menjadi titik dan simpul kepeduliannya. Formula penulisan Allahyarham pada masa itu memikat. Tak hanya naratif dan aksentuatif dengan stel Sunda (andap asor) dalam merangkai kalimat dan memilih kata. Menegaskan sikap dan mampu memandu pembaca mengenali perbedaan antara fakta, subyektivitas, dan opini. Kritis, tanpa harus 'menghantam.'

Keseimbangan Wartawan
Performanya sebagai sosok yang sublim dengan keaktorannya, pula sebagai deklamator andal, serta kepiawaiannya sebagai penyair berbasis sastra Sunda, menghadirkan mutu dan kepiawaian jurnalistik dalam memainkan retorika atas diksi dan narasi dalam tulisannya. Membaca artikelnya, seketika dapat membayangkan dia berbicara. Fokus, jernih, dan proporsional.
Meski dia mengalu-alu eksistensinya sebagai "Saya hanyalah kuli tinta," (sebagai ekspresi sikap andap asor) sesungguhnya dia adalah jurnalis - sastrawan yang 'bukan sekadar kuli tinta.' Saya banyak belajar kepadanya tentang mengelola pikiran dan rasa dalam mencermati sesuatu. Menjernihkan pikiran dan membersihkan rasa sebelum menulis.
Ketika menerima amanah sebagai Ketua PWI Jawa Barat (1984-1989), Allahyarham konsisten dan konsekuen meneruskan pencapaian pengurus sebelumnya (khasnya Memorandum Dawuan, yang dibacanya pada penutupan Konkerda PWI Jabar di Hotel Patra Jasa Cirebon, 1982). Daya diri sebagai deklamator, membuat pesan di dalam Memorandum Dawuan sampai dengan jelas. Antara lain, ihwal tekad mendudukkan fungsi dan peras pers secara optimal dalam Pemilu 1982. Pun, desakan kepada para petinggi pemerintah daerah untuk memberikan latar informasi tentang masalah-masalah penting.
Ketika menjalankan amanah sebagai Ketua PWI Jabar tersebut, Allahyarham dalam kesempatan berbincang dengan saya dan beberapa kolega di Kantor PWI Jabar - Jalan Asia Afrika, mengungkapkan berbagai pandangan tentang profesionalitas wartawan berbasis pendidikan. Pun, keseimbangan antara sikap kritis yang beranjak dari relasi kuat jurnalis dengan khalayak di tengah dinamika sosial kemasyarakatan, yang diperkuat dengan kearifan dalam menerima dan mengolah beragam isu aktual. Titik beratnya adalah kemauan dan kemampuan menguji kebenaran informasi.
Salah satu hal yang selalu saya ingat adalah sikap dan pandangannya tentang kebebasan dan tanggung jawab pers dalam praktik kerja jurnalistiknya. Dalam konteks ini, wataknya sebagai pendidik mengemuka dan terasa. Memandu dan menunjukkan jalan. Karena tugas jurnalis, diibaratkannya sebagai pembawa suluh yang menerangi jalan setapak ketika melintasi rimba.

Kerapihan
Sikapnya yang egaliter, membuka jalan bagi generasi baru wartawan untuk bergerak dan berkembang lebih baik dan lebih bernas dari generasi wartawan sebelumnya. Allahyarham, kala itu, sudah mengisyaratkan, "setiap masa dan zaman berbeda peluang dan tantangannya."
Dalam konteks itu, kecerdasan, keterampilan, dan ketangkasan wartawan dalam memainkan perannya, termasuk menegaskan komitmen ketaatannya pada kode etik jurnalistik secara konsisten dan konsekuen diperlukan. Bahkan, Allahyarham tak lupa mengingatkan tampilan (termasuk kerapihan dalam banyak hal) wartawan. Kala itu sedang mengemuka isu 'wartawan klombrot' yang dikemukakan salah seorang petinggi pemerintah di Jakarta.
Pada masa kepemimpinannya juga relasi wartawan - seniman kian 'tak terpisahkan.' PWI Jabar, kala itu menggelar pameran karya-karya terbaru 14 seniman Bandung di gedung PWI - Asia Afrika 67-69 Bandung, selaras dengan pemakaian kembali gedung Sekretariat PWI Jabar, selain seminar tentang profesi wartawan di Hotel Panghegar. Kegiatan semacam ini, bisa juga diubah-suai konsepnya dan digelar, ketika Kongres PWI berlangsung kelak.
Allahyarham Yayat Hendayana yang juga aktif mengajar mata kuliah Kajian Drama Indonesia di Fakultas Sastra UNPAD, mengelola Majalah Sunda 'Mangle,' Direktur Pusat Pembinaan Apresiasi Budaya, anggota Dewan Pendidikan Kota Bandung, Dewan Pembina LBSS (Lembaga Basa jeung Sastra Sunda), Ketua Harian KWS (Komunitas Wartawan Senior) Jawa Barat, Ketua Yayasan Kebudayaan “Natrat Artistika,” memimpin Akademi Sunda - UNPAS, dan anggota Dewan Kebudayaan Jawa Barat (2014-2019), juga penulis yang bukunya relatif banyak diterbitkan, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.
Ia menulis buku, Peranan Kebudayaan dalam Era Otonomi Daerah (2000); Kumpulan Sajak Katiga, Sasambat, Kiceup Bandung, Surat keur Bandung, Sajak Sunda, Surat Cinta Pangarang Sunda, Mangsi Asih Kalam Tresna; Antologi Sajak Empat Puluh Sajak, Doa Angkatan Kami, Senandung Bandung, Di Atas Viaduct. Pula, Sawidak Carita Pondok. Ia menerima Hadiah Sastra LBSS untuk Puisi, 1999.

Terasering
Disertasi pada ujian doktor-nya (ilmu Sastra) di UNPAD, bertajuk "Hadiah Sastra 'Rancage' dalam Dinamika Kesusastraan Sunda: Dimensi Kesejarahan, Pragmatis, dan Eksistensi," pun menarik bila diterbitkan. Terutama, karena penelitiannya mengungkap, bahwa kegiatan pemberian Hadiah Sastra Rancage mempunyai makna yang besar dalam menunjukkan, bahwa kesusastraan daerah masih hidup dan berkembang. Meskipun belum bermakna dalam menumbuhkan kesadaran untuk melakukan kegiatan nyata bagi upaya pemeliharaan bahasa daerah, baik oleh masyarakat maupun pemerintah.
Sebagai penggiat literasi, tulisannya banyak dimuat di berbagai penerbitan, seperti Pikiran Rakyat, Budaya Jaya, Horison, Majalah Sunda, Manglé, Gondéwa, dan lainnya. Allahyarham menulis pengantar yang menarik pada buku kumpulan puisi saya, "Renjana Tanah Bertuah," yang terkait dengan Banten.
Allahyarham, antara lain menulis: "Menjadi provinsi adalah kesadaran untuk menyerahkan diri pada sebuah peradaban yang seringkali harus menjauhi adab. Menjadi provinsi adalah penyerahan diri secara total pada keterlibatan adu kekuatan dalam perebutan kekuasaan, baik pada tingkat gubernur maupun pada tingkat bupati/walikota. Adu kekuatan dan rebutan kekuasaaan adalah permainan politik, yang tidak harus mengenal keadaban." Ia memberi aksentuasi, "Setelah menjadi provinsi banyak ulama dan jawara yang karena pengaruhnya dipaksa atau memaksa diri untuk terlibat dalam permainan politik, yang sesungguhnya tak dikenalnya. Maka, perlahan tapi pasti Banten yang sakral berubah menjadi profan."
Dalam suatu perbincangan berdua, Allahyarham mengatakan, sesungguhnya di dalam dirinya mengalir rantai molekul berisi materi genetrik yang khas alias deoxyribonucleic acid (DNA) Banten. Dua kali Allahyarham menegaskan hal tersebut, yakni ketika berkunjung ke kediaman Runi Palar di Ubud - Bali, dan ketika melakukan perjalanan dari Jember ke Batu - Malang dalam program DKJB.
Sepanjang perjalanan, Allahyarham menghadirkan sosoknya yang riang dan inteaktif. Di bandara Ngurah Rai, tetiba dia mendekati patung barong dan seolah berdialog dengan patung itu. Juga, tekun mengamati relik pada ukiran batu. Lantas, ketika melewati pesawahan dengan pola terasering yang dikelola sedemikian rupa menjadi obyek wisata, mencuat pertanyaan spontan ihwal keindahan terasering pesawahan di Pasundan yang belum sepenuhnya diolah secara baik. Tentu tanpa mengabaikan dimensi ekologisnya.

Karib dengan Cucu
Di Batu - Malang, selain riang -- bersama Ubun Kubarsah -- memijat betis dan kakinya, Allahyarham tak kalah riang, kala saya ajak berjoget mengikuti aksi musikal a la kabaret di Museum Pengangkutan.
Di Trowulan, peninggalan Majapahit, berlatar patung budha yang terbaring, Kang Yayat intens bicara tentang relasi budaya dan reliugisuitas. Ia mengemukakan pandangannya, bahwa relasi religi dan agama merupakan sesuatu yang menjadi khasanah penting. Khasnya dalam konteks merawat, memelihara dan mengembangkan dimensi norma dan nilai dalam tradisi dalam keseluruhan konteks budaya. Tak hanya dalam lingkup artistika, estetika, dan etika.
Kang Yayat juga bicara tentang 'kemauan dan kemampuan' membaca tradisi dan aplikasinya dalam kehidupan kini dan nanti. Tak perlu ada dikotomi antara tradisionaliutas dengan modernitas, karena nilai tradisi yang sering disebut sebagai habitus dan budaya kelokalan dengan modernitas sebagai ekspresi keglobalan saling mengisi satu dengan lainnya.
Kang Yayat mengapresiasi kecenderungan saya untuk menyandingkan budaya tradisional dan modern dalam satu tarikan nafas. Termasuk dalam menggunakan produk teknologi supra-modern (kelak) dalam melestarikan, merawat, dan mengembangkan produk budaya Sunda. Termasuk keberanian dalam memilih dan memilah, mana yang harus dilestarikan (ke dalam microfilm dan arsip digital kebudayaan), mana pula yang harus dirawat melalui rekonstruksi (termasuk dalam sastra dan seni pertunjukan), mana pula yang harus dikembangkan, melalui interaksi kreatif dan inovatif dengan media baru. Karena itu Allahyarham sangat mengapresiasi upaya digitalisasi budaya Sunda yang dilakukan UNPAD.
Pandangan ini juga yang mengemuka, ketika Allahyarham melihat relasi lembaga pendidikan tinggi yang memusatkan perhatian pada seni, sastra, dan budaya dalam merespon perkembangan cepat dan dinamis sains dan teknologi.
Dalam hal hubungan personal, saya merasakan, Allahyarham Yayat Hendayana laiknya seorang ayah dan kakak yang peduli. Secara personal, kami sering berbicara tentang keindahan dinamika hidup domestik. Tentang anak dan cucu. Allahyarham termasuk aki (kakek) yang sangat karib dengan cucu. Ia bangga dan gembira, kala bercerita tentang cucunya yang mulai karib dengan sastra dan seni. Allahyarham pribadi yang baik, cermin kebajikan yang menyimpan begitu banyak pelajaran kehidupan. Allahyarham Kang Yayat mengingatkan saya untuk menerbitkan kumpulan haiku yang saya tulis dan ekspresikan di berbagai platform. "Jangan biarkan karya-karya itu terserak," ungkapnya. Ini.. belum kesampain. Hapunteun Kang Yayat. |