Presiden Iran Masoud Pezeshkian: AS + zionis Israel adalah Teroris

Jangan Biarkan Abad 21 Kembali ke Era Kekuatan yang Menindas

| dilihat 49

KOTA NEWYORK | Presiden Republik Islam Iran dr. Masoud Pezeshkian menegaskan, Iran harus teguh dan kuat. Ia menyeru, negara-negara anggota Persarikatan Bangsa Bangsa (PBB) jangan membiarkan abad ke-21 kembali ke era yang hanya didominasi oleh kekuatan-kekuatan yang berkuasa, kekuatan-kekuatan yang menindas, dan kekuatan-kekuatan hegemonik.

"Kita tidak boleh membangun dunia di mana kekuatan militer menggantikan legitimasi. Terorisme menggantikan politik dan negosiasi, dan perang menggantikan dialog dan diplomasi. Iran mengulurkan tangannya ke dunia," serunya, ketika bicara dalam sesi debat terbuka Majelis Umum (MU) PBB ke 81 di Markas Besar PBB, New York (23/9/26).

MU PBB itu berlangsung sejak 22-26 dan 28 September 2026. Perhelatan yang digelar setiap bulan September, ini selalu ditunggu, karena berbagai isu mutakhir dunia, khasnya dinamika kehidupan bangsa-bangsa dan bagaimana pandangan para pemimpin dari 193 negara di seluruh dunia, bicara. Kali ini, mereka akan bicara ihwal kebersamaan , "81 tahun Lebih untuk Perdamaian, Pembangunan, dan Hak Asasi Manusia."

Debat Umum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah kesempatan bagi Kepala Negara dan Pemerintah untuk berkumpul di Markas Besar PBB dan membahas isu-isu dunia. Kepala Negara dan Pemerintah serta para menteri akan mengeksplorasi solusi untuk tantangan global yang saling terkait untuk memajukan perdamaian, keamanan, dan pembangunan berkelanjutan.

Majelis Umum PBB (UNGA) merupakan organ pembuat kebijakan utama melalui diskusi multilateral mengenai seluruh spektrum isu internasional yang tercakup dalam Piagam PBB. Setiap dari 193 Negara Anggota PBB memiliki hak suara yang sama.

PBB sendiri merupakan organisasi internasional yang didirikan pada tahun 1945. Saat ini terdiri dari 193 Negara Anggota, PBB dan pekerjaannya dipandu oleh tujuan dan prinsip yang terkandung dalam Piagam pendiriannya.

AS dan Zionis Israel Adalah Teroris

Selepas mengucapkan basmallah, Presiden Iran Masoud merespon pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menggambarkan Iran sebagai teroris. Padahal, Iran yang telah menjadi korban terorisme.

"Saya berasal dari Iran dimana pemimpin tertinggi kita yang terhormat dibunuh tanpa kerangka hukum atau alasan apa pun. Saya berasal dari Iran di mana sebenarnya mereka membom sebuah sekolah," ujarnya, sambil memperlihat foto Allahyarham Ayatullah Ali Khamenei dan foto siswa-siswa sekolah yang diogempur AS dan zionis Israel, 28 Februari 2026. Juga gambar sport center khalayak di Lammer.

"Anda lihat anak-anak ini. Anak-anak ini tewas di bawah bom dengan senjata yang digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel. Mereka tidak bersalah. Tidak melakukan kejahatan apa pun. Lammer, salah satu kota kecil di sebuah provinsi di Iran, sebuah aula olahraga tempat anak-anak sibuk bermain," ungkapnya secara ekspressif.

Amerika Serikat, dengan menggunakan senjata berhulu-ledak ganda, kata Presiden Pezeshkian, menargetkan aula olahraga itu. "Mereka membunuh, memartir para ilmuwan, pria, wanita, dan anak-anak tak berdosa, yang sebenarnya tidak melakukan kejahatan, tidak berdosa."

Tegas Presiden Pezeshkian menyatakan, mereka (AS dan zionis Israel)  yang merupakan teroris dan melatih serta melindungi teroris. "Mereka menyebut kami sebagai teroris. Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris," ungkap dokter ahli bedah jantung, itu.

Rakyat Iran yang tak berdosa telah menjadi sasaran serangan dan agresi pengecut yang dilakukan terhadap negara Iran. "Kami membela diri dengan sekuat tenaga. AS dan zionis Israel menyerang kami dengan teknologi dan sistem senjata terbaru. Dan rakyat kami berdiri teguh," ungkapnya.

"Ya, mereka menyerang kami, tetapi kami tidak bertekuk lutut. Kami tidak menundukkan kepala. Kami membalas, tetapi kami tidak menyerang penduduk sipil," lanjut Pezeshkian.

Mereka Lakukan Genosida

Lebih jauh Presiden Pezeshkian menyatakan, "Mereka (AS + zionis Israel) memasuki wilayah sekitarnya dan menargetkan universitas kami, pusat perawatan kesehatan kami, sekolah kami, rumah sakit kami, infrastruktur kami. Semua itu bertentangan dengan hukum internasional."

Diungkapkannya, ketika mengambil alih tanggung jawab sebagai presiden, mereka (AS + zionis Israel) membunuh Ismael Haniyeh di Iran pada hari pelantikannya. Zionis Israel menargetkan lingkungan mana pun di kota mana pun di provinsi mana pun, melakukan pembunuhan laiknya teroris sejati di Gaza. Lebih dari 80.000 warga sipil tak berdosa telah dibunuh secara brutal.

"Ratusan ribu orang telah mengungsi. Mereka melakukan genosida dengan menggunakan apa yang disebut teknologi yang mereka miliki. Kemudian mereka melabeli orang lain sebagai teroris. Apakah kita sumber ketidakstabilan?" ungkap presiden Iran, itu.

Pada bagian lain pidatonya yang menggugah kemanusiaan, itu Presiden Pezeshkian mengungkapkan, "Kami hanya ingin hidup mandiri. Kamilah yang (dituduh) menyebabkan ketidakstabilan. Mereka yang melakukan terorisme dan kejahatan ! Apakah mereka pelindung perdamaian dan stabilitas?"

Dengan irama yang menggugah rasa, Presiden Pezeshkian menyatakan, "Tidak satu pun hukum internasional yang dipatuhi oleh mereka. Inilah yang kita hadapi. Kita tidak menginginkan apa pun. Kita telah menerima serangannya. Kita memerlukan kekuatan karena suatu bangsa yang tidak mampu membela diri akan diinjak-injak di dunia saat ini."

Presiden Pezshkian mengingatkan, "Kita hidup di dunia dimana orang-orang yang berkuasa, alih-alih memikirkan kemanusiaan, keadilan, kewajaran, dan demokrasi, tampaknya menjadi pelindung dan pencipta ketidakstabilan dan kehancuran. Siapa pun yang ingin mereka diskreditkan, mereka labeli sebagai teroris."

Mereka Hadir di Jalanan

Dikemukakannya, selama 200 tahun, selama dua abad terakhir, Iran tidak pernah menyerang negara atau wilayah mana pun. "Namun kami selalu membela diri dengan teguh. Sekarang kami dituduh sebagai sumber ketidakstabilan di kawasan ini. Kami dicap sebagai teroris."

Itulah sebabnya, Republik Islam Iran telah  memilih jalan,  memerlukan kekuatan untuk membela diri. "Kami tidak mencari kekuatan untuk menyerang atau melakukan agresi. Kami mencari energi untuk kemajuan, bukan untuk mengancam masyarakat dengan senjata. Dan kami ingin bekerja sama dan berkolaborasi untuk keamanan rakyat Iran," tegasnya.

Diungkapkannya, selama tujuh bulan terakhir, rakyat Iran telah turun ke jalan setiap malam, berdemonstrasi untuk mendukung tanah air mereka, agar tidak membiarkan mereka yang dipersenjatai, dilatih, dan didukung oleh zionis Israel dan AS menyebabkan gangguan terhadap keamanan negara. Selama 7 bulan, siang dan malam, mereka hadir di jalanan.

"Mereka adalah sumber kekuatan dan dukungan kami. Dan itulah mengapa kami teguh. Iran harus kuat agar terhindar dari ancaman, agar masa depannya tidak terancam. Kami tidak ingin menggunakan kekuatan kami untuk hegemoni. Dan kita tidak mencari keamanan kita sendiri dan ketidakamanan orang lain," urainya.

Tentang pertahanan Iran, Presiden Pezeshkian menjelaskan, "Sistem pertahanan kami telah dibangun sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang dapat berpikir bahwa pemboman kota-kota Iran akan dibiarkan tanpa balasan. Itulah mengapa kami memiliki kekuatan militer untuk pertahanan."

Presiden Pezeskian menyatakan, "Kami mengatakannya dengan jelas, untuk membela negara kami, kami tidak meminta izin atau persetujuan siapa pun. Kami mencari energi untuk kemajuan. Selama bertahun-tahun telah ada label sentrifugal, sanksi internasional, dan label lain terkait teknologi nuklir kami, tetapi bagi negara kami, teknologi nuklir damai adalah bagian dari kemajuan inheren kami; bagi orang sakit, ini adalah penyembuhan dan perawatan; bagi sektor pertanian, ini adalah ketahanan pangan; bagi industri, ini adalah kemajuan dan pasokan energi listrik. Iran tidak menerima teknologi nuklir berada di bawah kendali eksklusif segelintir orang."

Dengan bahasa yang lugas, Presiden Iran Pezeshkian menyatakan, "Kami tidak akan menundukkan kepala dan menyerahkan hak yang secara inheren menjadi milik kami. Kami mengatakannya dengan jelas, tidak ada senjata nuklir dan tidak ada batasan untuk teknologi nuklir damai."

Kedamaian kami tidak akan datang di medan perang, tegasnya kemudian, tetapi kami harus memberikan keamanan yang diperlukan rakyat dan bangsa Iran. "Kami mencari kerja sama untuk mencapai keamanan. Kami hidup di wilayah di mana peperangan tidak mengenal batas. Krisis di satu wilayah akan meluas ke negara-negara sekitarnya," ungkapnya lantang.

Palestina Luka nan Terbuka

Dijelaskan oleh Prseiden Pezeshkian, Iran tidak melihat negara - negara tetangganya sebagai saingan keamanan. Kami ingin memiliki tetangga yang kuat di perairan di selat Hormuz. Kami tidak bisa membiarkan sebagian orang memiliki akses bebas dan mendapatkan keuntungan dari jalur air, sedangkan pada saat yang sama mereka menggunakan jalur air itu untuk memaksakan agresi mereka kepada kami, untuk menimbulkan ketidakamanan kepada kami, untuk melarang kami mengakses jalur air kami sendiri.

"Mereka menutup akses kami ke jalur air kami sendiri. Namun mereka terus memasok rudal dan teknologi militer mematikan untuk membawa keamanan ke semua wilayah di sekitar jalur air itu. Kami tidak akan menyerah pada hal itu," ujar Presiden Pezeshkian.

"Perluasan peperangan tidak akan menghasilkan keamanan. Kita tidak dapat menciptakan kekacauan bagi negara-negara pesisir yang mencari keamanan maritim," lanjutnya.

Tentang Palestina, bangsa Iran berpandangan, bahwa Palestina tetap menjadi luka terbuka pada hati nurani komunitas internasional dan Gaza tetap menjadi simbol kegagalan mekanisme internasional untuk mencegah penderitaan warga sipil.

Selama beberapa dekade, ungkapnya, resolusi telah diadopsi. Namun pendudukan dan kekerasan terus berlanjut. "Kita tidak dapat berbicara tentang perdamaian sambil mengabaikan Palestina," tegasnya.

Menurut Presiden Iran yang sederhana, itu perdamaian abadi di Asia Barat tidak mungkin tanpa keadilan bagi Palestina. "Selama pendudukan, agresi, dan ketidakadilan masih ada di dunia, perlawanan akan terus berlanjut. Jika melemah dalam satu bentuk, perlawanan akan muncul kembali dalam bentuk lain, mungkin bahkan lebih kuat," ungkapnya.

Gaza -- meskipun terjadi pembunuhan tanpa henti dan kehancuran yang meluas, telah memperkuat keyakinan rakyat akan perlawanan. "Perlawanan tidak dapat dihancurkan oleh bom dan pengepungan. Ini adalah sifat manusia."

Lebih lanjut Presiden Pezeshkian mengemukakan, "Jika seorang manusia diusir dari tanahnya, mereka akan melawan. Jika rumah mereka menjadi sasaran pemboman, agresi, dan serangan, mereka akan melawan. Pilihan apa lagi yang mereka miliki?"

Dengan bahasa lugas, Presiden  Iran ini menyatakan, "Menyerah pada intimidasi akan diusir dari rumah mereka, dari tanah mereka... lantas tetap diam menghadapi ancaman dan bahaya ini. "Ketika mereka membela diri, mereka dicap sebagai teroris."

Bahasa tersebut, ungkap Presiden Pezeshkian, memperjelas jenis dunia tempat kita hidup saat ini. Masalah regional kita harus diselesaikan di kawasan ini oleh negara-negara di kawasan ini tanpa menjadi mainan di tangan agresor asing.

Tidak ada hubungan dengan kekuatan asing yang dapat menjadi alat untuk mengancam negara-negara tetangga di kawasan ini. Dan sekarang beberapa kata untuk mereka yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pelaksanaan agresi terhadap negara kita.

Rakyat kita telah mengalami sendiri akibat dari agresi mematikan mereka. Dan mereka telah menguji kekuatan dan keteguhan Iran dan mereka telah belajar bahwa Iran tidak dapat dipaksa untuk menyerah. Iran tidak pernah menjadi agresor, tidak pernah memulai perang dan selalu menunjukkan komitmennya pada meja perundingan.

Sampai Nafas Terakhir

Dalam pidatonya yang kadang melodius, itu Presiden Iran mengemukakan, "Kami mencari energi untuk kemajuan. Selama bertahun-tahun telah ada label sentrifugal, sanksi internasional, dan label lain terkait teknologi nuklir kami, tetapi bagi negara kami, teknologi nuklir damai adalah bagian dari kemajuan inheren kami. 

Bagi orang sakit, ini adalah penyembuhan dan perawatan; bagi sektor pertanian, ini adalah ketahanan pangan; bagi industri, ini adalah kemajuan dan pasokan energi listrik. Iran tidak menerima teknologi nuklir berada di bawah kendali eksklusif segelintir orang.

Perluasan peperangan tidak akan menghasilkan keamanan. Kita tidak menciptakan kekacauan bagi negara-negara pesisir yang mencari keamanan maritim.

"Rakyat kami telah mengalami sendiri akibat dari agresi mematikan mereka. Dan mereka telah menguji kekuatan dan keteguhan Iran dan mereka telah belajar bahwa Iran tidak dapat dipaksa untuk menyerah. Iran tidak pernah menjadi agresor, tidak pernah memulai perang dan selalu menunjukkan komitmennya pada meja perundingan.

"Mereka memaksakan perang kepada kita. Tetapi kita telah membuktikan bahwa kita tidak takut berperang. Kita memenangkan perang yang bersifat defensif dan kita akan membela Iran tercinta kita, tanah air kita, sampai napas terakhir kita," tegas Presiden Pezeshkian.

"Saling percaya yang tidak dapat dicapai hanya melalui kata-kata, tetapi dengan menghindari standar ganda. Bom atom dan nuklir berada di tangan rezim zionis< ujarnya. Israel, tetapi inspektur diminta untuk datang ke Iran.

Israel telah membunuh secara brutal lebih dari 70.000 orang tak berdosa di Gaza, tetapi Iran,  ketika sedang berada di balik meja perundingan, dibom. "Zionis Israel memiliki bom, memiliki senjata pemusnah massal, tidak satu pun anggota perjanjian non-proliferasi selama keberadaannya yang memalukan tidak mengizinkan satu pun inspeksi, tetapi mereka diberi imbalan dengan segala cara agar mereka dapat membom ibu kota mana pun di wilayah tersebut sesuka hati.

"Saya ulangi, senjata nuklir ada di Israel, tetapi inspektur berada di Iran. Israel membunuh, tetapi Iran dikenai sanksi Ini adalah tragedi sejati, yang paling banter akan membuat siapa pun yang mendengarnya tertawa. Mereka membunuh, kita dikenai sanksi, kita dihukum. Mereka yang sakit, orang-orang yang tidak bersalah, orang miskin, orang-orang yang paling tidak beruntung di masyarakat kita menjadi sasaran sanksi ini," ujar.

Tak Ada Lagi Orang Terpinggirkan

Inilah yang ingin dilakukan AS terhadap semua negara, mengorbankan penduduk suatu negara untuk mencapai tujuan-tujuan yang tidak sah. Jika kita menginginkan perdamaian dan stabilitas sejati, kita harus menerapkan standar yang sama untuk semua.

"Iran tidak mencari perlakuan khusus. Kami menginginkan hak yang sama. Kami memikul tanggung jawab dan menerima tanggung jawab yang menyertainya.... Kami mengundang dunia, bukan karena kelemahan, tetapi karena keyakinan yang mendalam akan kekuatan kami sendiri dan keteguhan untuk bekerja sama dan berkolaborasi karena keyakinan yang mendalam bahwa tidak seorang pun di kawasan ini akan memiliki keamanan sendirian...

Dijelaskannya, Iran berupaya memikirkan masa depan yang layak di mana keamanan, keadilan, martabat manusia akan menjadi hak yang tidak dapat dicabut bagi semua orang. Bagi semua manusia. Masa depan dimana tidak ada orang yang terpinggirkan.

"Tidak ada suara yang hilang dalam kekacauan kekuasaan dan tidak ada kekuatan yang berhak menentukan masa depan suatu bangsa selain bangsa itu sendiri.  Jika kita benar-benar ingin memiliki tatanan yang didasarkan pada hukum dan standar internasional, tatanan itu harus didasarkan pada keadilan, kehendak manusia bersama, dan menjunjung tinggi martabat manusia... karena perdamaian yang tidak mencakup semua bukanlah perdamaian, dan keadilan yang tidak mencakup semua tidak layak disebut keadilan," tegas Presiden Pazashkian lagi.

Tetapi kembali pada kata-kata presiden AS kemarin menunjukkan kepada mereka yang ahli dalam hukum internasional, dialog, diplomasi, dan standar dasar kemanusiaan bahwa semua yang diucapkan tentang negara kita bertentangan dengan esensi, piagam, dan semangat PBB.

"Dia harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran hanya akan meningkat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan peningkatan intimidasi. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau berlutut," ungkapnya lugas.

"Trump dan mereka yang berusaha mengintimidasi kami harus tahu, bahwa kami siap untuk dialog, diplomasi, dan negosiasi tanpa menerima bahasa kekerasan." seru Presiden Republik Islam Iran, Masoud Pezeshkian | jeanny

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
26 Agt 26, 12:25 WIB | Dilihat : 300
PM Wong Ungkap Peran Besar Puak Melayu Muslim Singapura
23 Agt 26, 12:57 WIB | Dilihat : 292
Keterbatasan Bukan Penghalang
11 Jul 26, 22:56 WIB | Dilihat : 575
Daya Cinta Rakyat kepada Ayatollah Ali Khamenei
Selanjutnya
Sporta