
SERDADU Amerika Serikat (AS) dan rezim zionis Israel melakukan agresi besar-besaran atas infrastruktur, rakyat, pemerintah, serta para pemimpin Yaman.
Tujuan agresi tersebut dilakukan untuk memaksa Ansarallah guna menghentikan dukungan geopolitik dan militer Yaman bagi Palestina. Akan halnya rakyat Palestina menyatakan solidaritas mereka terhadap rakyat Yaman, yang pengorbanannya telah menyatu dengan pengorbanan rakyat Palestina.
Pandangan tersebut mengemuka dalam artikel jurnalis Iran, Ali Minabi dalam artikelnya (Tehran Times, 16/9/2026) ihwal sikap Palestina terhadap perkembangan situasi di Yaman.
Minabi mengemukakan, pasukan perlawanan Palestina bersama dengan sebagian besar rakyat Palestina, secara terbuka menunjukkan apresiasi mendalam mereka terhadap Ansarallah.
Hal ini didasari oleh sikap geopolitik, dukungan rakyat, dan langkah militer yang diambil oleh pemerintah di Sanaa selama perang genosida yang dilancarkan rezim Israel terhadap Gaza. Mendiang syahid Abu Ubaida, yang menjabat sebagai juru bicara militer Palestina, menyebut mereka sebagai "saudara dalam ketulusan."
Seluruh kekuatan Palestina secara luas memuji operasi militer yang dilakukan oleh Ansarallah Yaman di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, serta serangan rudal balistik mereka terhadap berbagai lokasi milik Israel.
Menurut Minabi, rakyat dan seluruh kekuatan Palestina memandang tindakan berani Yaman tersebut sebagai upaya memberikan tekanan strategis terhadap rezim Israel dan sekutunya, sekaligus memberikan dukungan nyata dan pengorbanan bagi rakyat Palestina di Gaza.
Pasukan perlawanan Palestina menganggap Yaman dan Ansarallah sebagai mitra sejati dalam menghadapi musuh nyata di kawasan ini: rezim Zionis.
Mobilisasi massa rakyat Yaman yang masif—melibatkan jutaan orang dan terus berlangsung tanpa henti maupun tanda-tanda frustrasi atau kelelahan selama genosida di Gaza yang didukung AS—tidak mungkin terhapus dari ingatan atau kesadaran rakyat Palestina.
Rakyat Palestina sering kelelahan akibat perang, dan kelaparan, dan perasaan sering ditinggalkan oleh sebagian besar dunia Arab dan Islam. Karenanya, seringkali, menggambarkan dan memahami sepenuhnya perasaan tersebut adalah hal yang mustahil.

Dalam artikel tersebut, Minabi mengemukakan, kemarahan dan kekecewaan mereka tidak hanya ditujukan kepada lembaga resmi dan pemerintah. Rasa kepahitan terdalam justru tertuju pada masyarakat itu sendiri, serta pada gerakan-gerakan Islam, nasionalis, dan Pan-Arab. Harapan sempat disematkan kepada mereka.
Ihwal para penguasa, sikap mereka sudah diketahui sejak awal; rakyat Palestina tidak mengharapkan apa pun dari mereka, selain kata-kata kecaman dan kutukan yang selama ini selalu mereka lontarkan.
"Oleh karena itu, sungguh mengherankan jika ada yang mengharapkan rakyat Palestina mengambil sikap menentang pihak-pihak yang telah mendukung mereka, khasnya di saat-saat sulit, yang memiliki tekad dan kemauan untuk terus mendukung mereka di masa depan.
Di mata rakyat dan kekuatan Palestina, Ansharallah dan pejuang Yaman tidak sekadar mengandalkan slogan dan pidato tentang perlawanan terhadap rezim pendudukan. Para pejuang Yaman mewujudkan kata-kata menjadi tindakan nyata perlawanan.
Karena itu, Minabi menegaskan, sungguh mencengangkan jika ada yang mengharapkan rakyat Palestina bersimpati kepada para pihak yang telah menelantarkan mereka — termasuk yang menikam dari belakang dan bahkan berupaya, mencelakai mereka dengan berbagai cara.
Kenyataan yang tidak perlu mengejutkan atau menggusarkan bahwa mayoritas rakyat Palestina, terlepas dari afiliasi politik mereka, mendukung dan berdiri di belakang Yaman serta kepemimpinan Ansarallah.
Ini adalah sikap yang didasari prinsip, bukan sikap yang dipolitisasi atau diarahkan oleh pihak mana pun. Sikap ini muncul secara spontan, tulus, dan alami.
Minabi menyatakan dalam tulisannya, "Siapa pun yang mengharapkan hal sebaliknya berarti gagal memahami betapa dalamnya penderitaan yang dialami rakyat Palestina di Jalur Gaza, akibat tindakan berbagai gerakan, penguasa, dan institusi yang menelantarkan mereka justru pada saat mereka paling membutuhkan dukungan."
Setelah perang genosida, rakyat Palestina tidak lagi bisa membuang waktu untuk berbasa-basi demi menyenangkan pihak manapun. Mereka menyadari bahwa menjaga ikatan dengan orang-orang yang tulus di Yaman, Lebanon, Iran, dan Irak — serta dengan individu, tokoh, dan gerakan yang tulus di seluruh dunia — jauh lebih baik bagi mereka, daripada menggantungkan harapan pada pihak-pihak yang hanya pandai mengumbar slogan.
Dengan bahasa satire, Minabi mengemukakan, "Pihak-pihak yang bersikap bak singa di medan tempur konflik sektarian dan internal, justru tampak tak berdaya layaknya bebek saat berhadapan dengan rezim zionis Israel.

Rakyat Palestina memandang dengan penuh kebanggaan dan kehormatan setiap pihak yang berani melawan musuh dunia Arab/Islam dan musuh kemanusiaan; melawan rezim yang secara terbuka menyatakan tujuannya untuk merampas tanah Arab, mulai dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat.
Mereka memandang sebagian besar kepemimpinan yang ada tak lebih dari sekadar cerminan dan bentuk ketundukan terhadap skema rezim zionis Israel maupun kolonial. Cukup banyak pihak yang dilabeli sebagai ulama, intelektual, dan komentator politik yang — baik secara sadar maupun tidak — telah melibatkan diri untuk mendukung agenda rezim Zionis beserta sekutu-sekutunya.
Alih-alih berperan menyatukan Asia Barat dan penduduknya untuk melawan musuh bersama yang permusuhannya tak terbantahkan lagi, mereka justru melakukan hal sebaliknya: mereka turut memecah belah kawasan ini berdasarkan garis sektarian dan perbedaan aliran.
Peran mereka baru terlihat jelas dalam konflik internal. Mereka menghilang saat rezim Israel dilawan. Dan ketika mereka muncul, tujuannya adalah untuk menebar keraguan, menikam dari belakang, melontarkan tuduhan, serta melemahkan perlawanan anti-Israel beserta para pendukungnya, sehingga perlawanan heroik ini justru semakin terabaikan.
Hal lain yang memperkuat orientasi Palestina terhadap Yaman adalah kekhawatiran mendalam pihak Israel atas perkembangan situasi yang berlangsung cepat di sana serta kemajuan yang dicapai oleh Ansarallah.
Perkembangan ini memicu kecemasan yang kian meningkat di kalangan aparat keamanan rezim tersebut, terutama terkait konsekuensi dari penguasaan Ansarallah atas Selat Bab al-Mandab yang strategis serta kemampuan mereka memengaruhi lalu lintas maritim di sana. Di beberapa titik, lebar selat ini tidak lebih dari 18 kilometer, sehingga gangguan terhadap pelayaran di wilayah tersebut lebih mudah dilakukan dibandingkan di jalur maritim yang lebih luas.
Rezim pendudukan tersebut telah mengalami blokade Laut Merah terhadap kapal-kapalnya yang dilakukan oleh Ansarallah. Di tengah genosida Gaza, Ansarallah menyebabkan pelabuhan Eilat di wilayah selatan rezim itu mengalami kebangkrutan.
Aparat keamanan Israel meyakini bahwa perkembangan di Laut Merah dapat menandai pergeseran strategis yang dampaknya melampaui kawasan tersebut, khususnya di tengah krisis yang dihadapi AS di Selat Hormuz dan perang ilegal melawan Iran. Rezim tersebut sangat bergantung pada jalur laut untuk sekitar 98% kebutuhan impornya, sehingga setiap ancaman terhadap rute maritim menjadi tantangan strategis baginya.
"Situasi ini terjadi di saat pemerintah AS enggan terlibat langsung dalam konfrontasi dengan Yaman dan Ansarallah, yang mendorong kepemimpinan Arab Saudi untuk meminta dukungan dari pihak-pihak di kawasan," tulis Minabi kemudian.
Sudah sewajarnya dan logis jika rakyat Palestina menilai apa yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri. Mereka dikenal memiliki kesadaran politik yang tinggi, yang terbentuk oleh berbagai pengalaman serta perjuangan politik dan militer melawan rezim pendudukan, para pendukungnya, kolaborator, maupun pihak-pihak yang telah menormalisasi hubungan dengannya.
Bagi rakyat Palestina, sikap mereka terhadap peristiwa di Yaman didasari oleh dua hal: di satu sisi, kesetiaan kepada pihak-pihak yang telah berdiri bersama mereka; dan di sisi lain, pemahaman yang sadar mengenai konflik tersebut, pihak-pihak yang terlibat, serta kekuatan-kekuatan yang akan diuntungkan maupun dirugikan karenanya. | jeahan