Performa Kompetensi Pekerja Teater

I La Galigo Asekku Lebih Terasa Bugis

| dilihat 4140

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

MENONTON teater bagi saya adalah kesadaran untuk beroleh nilai dari cerita dan pertunjukan, yang dikelola secara kolektif oleh para kreator dan aktor, dalam arahan sutradara. Suatu kompleksitas kerja yang mempertemukan fokus pencapaian artistika, estetika, dan etika.

Bagi saya, pertunjukan teater, apapun cerita dan format kemasannya adalah pentas terbuka yang mesti didekati secara multivalenced nilai budaya. Meskipun, misalnya ketika kita menonton teater di Broadway – NewYork, ada sisi lain yang kita dapatkan. Yakni, formasi industrialnya dengan pendekatan ekonomi dan instrumental yang kental.

Ketika menyaksikan pergeralaran teater bertajuk I La Galigo Asekku, di Taman Ismail Marzuki (Jum’at: 13/5/16), saya datang dengan membawa reserve pemahaman komprehensif tentang Sureq I La Galigo.

Epik mitologi masyarakat Bugis, ini seperti tulis Nirwan Ahmad Arsuka – salah seorang sastrawan yang saya hormati,  merupakan bagian dari  kemampuan kanonik (kumpulan naskah yang dikukuhkan sebagai “ukuran,” norma, pegangan yang berwibawa, sukma) bagi kehidupan komunitas yang memegangnya.

Ketika Roberts Wilson mempergelarkan cerita yang sama di berbagai kota di dunia (Singapura, Amsterdam, Barcelona, Madrid, Lyon, Ravenna, Milan, New York, Melbourne, Jakarta dan Taipeh) antara 2004 – 2006, dan saya berkesempatan menonton di Ravenna (Itali) dan Lyon (Perancis), yang saya rasakan adalah eksplorasi kekaguman orang asing terhadap epik Bugis ini.

“Ruh” I La Galigo yang bercerita tentang peristiwa protohistorik Luwu – Sulawesi Selatan, lebih banyak dihantar melalui ungkap lirih pemimpin Bissu. Kala itu saya merasa begitu kuat proses atribusi yang bertolak dari penguasaan individu (secara artistik dan estetik) dari pengalaman fenomenal masyarakat Luwu. Khasnya dalam menghadirkan kisah Patotoqe, sang dewata, menentukan takdir menurunkan Batara Guru sebagai wakil ‘orang dunia atas’ untuk bersinggungan dengan ‘orang dunia di tengah’ dan ‘orang dunia di bawah.’

Dalam mitologi Bali, persis seperti Tri Hita Karana, dan di Batak dengan tokoh yang sama yang menyambungkan Banua Ginjang, Banua Tonga, dan Banua Toru melalui Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan. Hal yang sama juga kita temukan dalam mitologi lain, termasuk Jawa. Dalam Sureq I La Ga Ligo kita mengenalinya melalui Batar Guru, Sawiregading dan I La Ga Ligo.

Malam itu (Jum’at: 13/5/16) proses nilai atribusi itu hadir dalam “ruh” Bugis yang khas. Sepanjang pertunjukan, secara berurutan dan hipodermis, mengalir begitu banyak hal yang mengubah realitas ketiga dan kedua (mitos dan imajinasi) menjadi realitas pertama (pengalaman baru). Kesemuanya menyatu dan berbaur ke dalam diri, dan menjadi agregat individual (setidaknya bagi saya) dan menjadi nilai tambah pengalaman batin. Saya merasakan (dan kemudian menduga) atribusi itu juga menjadi agregat untuk merasakan kontribusi aktivitas budaya (pergelaran) terhadap nilai yang dibawa penonton ke Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki, tempat pergelaran itu dilakukan.

Paduan seni peran, tari, musik, dan puisi yang menyatu dalam pertunjukan yang skenario dan penyutradaraan (juga pemeranan) dilakukan Ilham Anwar, tampil utuh. Supervisi skenario oleh Nirwan, tampak menjaga struktur pertunjukan, narasi, dan juga dialog.

Dinamika Dunia Tengah

PERGELARAN I La Ga Ligo Asekku persembahan Ikatan Alumni (IKA) Universitas Hasanuddin Jabodetabek, ini memikat dan memberi impressi menyegarkan.

Cerita bermula dari keputusan Sang Penentu Nasib untuk mengirim Batara Guru ke bumi dan semayam di dunia tengah, selepas bermufakat dengan permaisurinya Datu Palingeq. Mufakat itu yang kemudian di bawa dalam musyawarah para Dewa, yang juga sepakat memilih Batara Guru untuk dijelmakan sebagai tunas manusia di Bumi, cikal generasi manusia pertama. Batara Guru pun disebut To Manurung atau Mula Tau.

Batara Guru tak hirau lagi dengan negeri di Puncak Langit dan berbahagia di dunia tengah setelah menikah dengan We Nyiliq Timoq, puteri sulung penguasa Dunia di Bawah. Perkawinan yang mempertemuan “Orang Dunia di Atas” dengan “Orang Dunia di Bawah,” yang kelak menyebar manusia di seantero bumi.

Dari Batara Guru dan We Nyiliq Timoq itu lahirlah Sawireigading dan We Tanri Abeng, saudara kembar lelaki perempuan yang dipisahkan. We Tanri Abeng memikat hati Sawerigading, tapi tak mungkin keduanya bersatu sebagai suami isteri.

We Tanri Abeng meminta Sawerigading menjumpai I We Cudai, sepupunya, di Tiongkok – yang kecantikan dan parasnya mirip dengan We Tanri Abeng.

Sawerigading bersumpah tak kan kembali ke kampung halaman, lalu mengembara ke Tiongkok. Setelah melintasi tujuh samudera dan menaklukkan tujuh perompang, dan berbagai tantangan yang membuat dunia tengah gonjang ganjing, akhirnya bertemulah mereka.

I We Cudai, terpaksa menerima pinangan Sawerigading. Dari perkawinan keduanya lahirlah I La Galigo. Lelaki tampan yang cerdas dan perkasa. Lantas, mereka hidup sebagai orang dunia di tengah, dan kemudian menjadi penerus generasi manusia.

Tapi Sawerigading tak kuasa berurusan dengan dirinya sendiri. Dia kembali ke kampung halamannya, hendak menemui We Tanri Abeng. Kepulangan itu menimbulkan bencana, termasuk rutuk kutuk ayahnya sendiri.

Dalam pengantar pergelaran yang ditulis Moch Hasymi Ibrahim, dijelaskan, salah satu wujud aktualisasi ang ingin ditawarkan pergelaran ini adalah I La Galigo  adalah suatu eksistensi dan entitas yang menjadi hulu kebudayaan Bugis. Kisahnya merupakan gambaran seluruh aspek budaya yang melahirkan dan menghidupinya: tata nilai dan susunan sosial, dimana ia hidup, bahkan sampai pada nilai-niulai fundamental yang hadir dalam masyarakatnya.  Nilai yang sampai kini masih diyakini dan dianut.

Hasymi mengungkapkan, teater tari sebagai pilihan bentuk pertunjukan, merupakan pilihan lebih, disebabkan keinginan untuk merangkum tentang penceritaan yang amatlah panjang. Dan gairah untuk mendorong resepsi dan interprestasi yang lebih kaya.

I la Galigo, ungkap Hasymi, berupaya mengucapkan dirinya sendiri dengan segenap elemen kebugisannya: I La Galigo Asekku.

Performa Kompetensi Pekerja Teater

APA yang diungkapkan Hasymi, tercapai dalam pergelaran ini. Ilham Anwar sebagai pemeran  (sekaligus dengan subyektivitasnya sebagai sutradara dalam mengelola seluruh pemain) berhasil menghadirkan sosok Batara Guru dan Sawerigading.

Pemeranannya sebagai Sawerigading dengan segala dinamika kegelisahan, mampu menghadirkan kegelisahan kolektif (mewakili kegelisan manusia) yang tak pernah kuasa mengintegrasikan nalar, naluri, rasa, dan indria dalam satu tarikan nafas.

Dengan stamina yang luar biasa, Ilham menjadi anchor pergelaran yang pantas dipujikan. Sebagai aktor, dia kuasai segala sisi akting (mimik, gerak tubuh, gestur, vocal) dengan pengendalian yang patut dipujikan.

Begitu juga dengan Nur Sekreningsih Marsan yang memerankan sosok We Nyiliq Timo, We Tanri Abeng, dan We Cudai. Pun demikian halnya dengan Suryani Rasyid, pemeran We Datu Sengngeng dan We Tanri Abang.

Aksi Arimbi Budiono juga termasuk yang patut dipujikan. Kemampuan akting dan penguasaan gerak tubuhnya mengimbangi Nur. Dia menghidupkan sosok We Cempau, We Duppa Sugi, dan Miko-miko.

Demikian juga dengan Amar Aprizal (batara Lattuq) dan Abdi Palallo (La Settumpugi), Yusan Budiawan (To Appemanuq). Juga Rudy Wijaya Idris pemeran I la Galigo yang tampil di penghujung pergelaran dengan vocal yang khas.

Pada pertunjukan malam kedua yang saya tonton, seluruh pemain mampu mengeksplorasi perannya secara fungsional dan proporsional. Tentu karena stamina yang bagus. Peran Nur Ihsan sebagai Passureq membuat pergelaran ini mengalir, terutama pada rising step. Dan, Jamal gentayangan sebagai Pa Pananrang, pada media dan jelasng akhir pergelaran, memberi sentuhan ‘segar,’ memberi ruang katarsis bagi penonton.

Meski dua tiga kali terjadi ‘gangguan tata suara’ yang terlampau rendah dimming-nya, secara keseluruhan pergelaran ini tampak utuh. Tata Musik yang digarap Jamal Gentayangan, tata artistik garapan Ferry Gentor, dan tata cahaya garapan Slamet Sopian sangat membantu ‘kesempurnaan’ pergelaran, sekaligus memberi respon apik atas tata kostum dan rias garapan Ichsan Syahban dan Suryani Rasyid. Tentu, pergelaran ini amat sangat terbantu oleh koreografi ang digarap langsung Ilham.

Alhasil, pergelaran teater I La Galigo yang saya tonton kali ini, punya aksentuasi sendiri yang khas, berbeda dengan garapan Robert Wilson. Pergelaran I La Galigo Asekku, lebih karib dengan proksimitas yang lebih kuat. Di sini, Ferry Gentor dengan paduan pendekatan simbolis dan realis, membuat pergelaran ini lebih terasa Bugis-nya.

Manajemen produksi yang dipimpin S. Alam Dettiro, terasa perannya dalam keseluruhan pergelaran yang nampak efisien. Dan Ilham Anwar mengeksplorasi seluruh personil dalam kendalinya secara optimal. Ilham, seluruh aktor – aktris dan kru pergelaran ini menunjukkan performa kompetensi sebagai pekerja teater. Tabik ! | 

Editor : sem haesy
 
Sainstek
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 359
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 798
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1618
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2523
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
Selanjutnya
Seni & Hiburan
06 Sep 19, 22:46 WIB | Dilihat : 208
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy
18 Agt 19, 21:05 WIB | Dilihat : 758
Kemerdekaan Adalah Jiwa Raga Sehat Tegakkan Keadilan
13 Agt 19, 20:56 WIB | Dilihat : 725
Gubernur Anies Undang Warga Jakarta Nonton JMF2019
12 Agt 19, 22:43 WIB | Dilihat : 445
Pesona Lipet Gandes dan Topeng Jantuk
Selanjutnya