
Tak ada angin dolak-dalik atawa wolak-walik, sebentar ke utara, sebentar ke selatan alias 'angin-anginan.' Angin selatan equator, khasnya di Kalimantan, punya lini masa pergerakan yang khas. Apalagi di musim 'tengkujuh kemarau.'
Angin inilah yang menghantarkan jerebu (debu kabut) meluasnya titik api kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Penyebabnya adalah ulah 'abdul buthun' (manusia hamba perut) - homo economicus - yang melakukan pembiaran resam - habitus pembukaan lahan. Kebiasaan membuka lahan perkebunan dengan melakukan pembakaran hutan sebagai bagian dari cara deforestasi.
Meski musim tengkujuh kering kali ini berkaitan dengan 'Super' El Niño, yang sering dijadikan sebagai alasan pembenaran atas kebakaran.
Pendek kata 'Super' El Niño bukanlah penyebab kebakaran hutan dan lahan, yang membawa serta gelombang panas seperti yang sedang terjadi kini. Kendati dalam keseluruhan konteks kehidupan semesta, merupakan fenomena yang membawa kita menghadapi situasi sangat ekstrem dan tak terduga.
Angin selatan equator membawa jerebu pembakaran hutan di Kalimantan -- beserta infeksi saluran pernafasan akut -- ke Serawak, Sabah, dan Brunei Darussalam.
Bila mencermati berbagai data dan informasi yang mengemuka dan menyebar-luas sebagai bagian tak terpisahkan dari gelombang fenomena pemanasan laut.
Ya, gelombang fenomena pemanasan yang bakal dicatat dalam sejarah lantaran berpadu dengan perubahan iklim akibat ulah manusia.
Para ilmuwan menyebut, "super" El Niño alias "Godzilla" El Niño, merupakan peristiwa pemanasan Samudra Pasifik. 'Kehadirannya' mengacaukan pola cuaca global idan berembus dengan dampak yang sangat kuat.
Apa yang terjadi di Kalimantan, relatif sama dengan situasi pemanasan global sepanjang tiga bulan terakhir -- sejak Juni 2026 -- yang menunjukkan peningkatan global dengan masa terpanas yang sudah teramalkan.

Reaksi Sultan Brunei dan PMX Malaysia
Peningkatan pemanasan global ini tak hanya di alami Indonesia dan berbagai wilayah Pasifik, termasuk Papua. Amerika Utara (khasnya Amerika Serikat - AS dan Kanada) dan Eropa.
Di wilayah ini, gelombang panas yang terjadi telah menyebabkan suhu ekstrim yang menghantar kematian bagi ribuan manusia, melantak-lumatkan jutaan hektar hutan telah hangus terbakar.
Nick Logan dalam laporannya untuk jaringan informasi CBC News menyebut, para ilmuwan iklim menyatakan bahwa fenomena tersebut bukanlah penyebab utama peristiwa cuaca ekstrem yang menghancurkan itu.
Mereka mencatat, kita mungkin baru mulai melihat bagaimana fenomena alam ini dapat memperparah cuaca ekstrem yang sebelumnya diperburuk oleh perubahan iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil.
Hembusan angin selatan ekuator yang menghantar jerebu ke Serawak, Sabah, dan Brunei Darussalam sudah sampai pada tahap menggusarkan.
Pada pertemuan konsultatif Malaysia - Brunei ke 27 (ALC-27) di Bandar Seri Begawan (Sabtu, 22/8/26) Sultan - Yang di-Pertua Negara Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah dan Perdana Menteri (PM) X Malaysia Anwar Ibrahim sepakat akan memanfaatkan mekanisme ASEAN guna mengatasi masalah kabut asap lintas batas yang parah akibat kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan dan Sumatera.
Kedua pemimpin ASEAN tersebut membahas sangat serius memburuknya kualitas udara dengan jerebu pekat yang sudah menyesakkan dada.
Keduanya akan menempuh langkah diplomatik melalui kerangka kerja regional yang mereka pandang sebagai pilihan terbaik.
PMX Malaysia sudah menugaskan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan serta Menteri Sumber Asli dan Kelestarian Alam (NRES), Arthur Joseph Kurup untuk secara resmi membawa masalah ini ke Sekretariat ASEAN di Jakarta.
Pasalnya, sebagian wilayah Sarawak - Malaysia, seperti Serian dan Kuching, serta beberapa wilayah Brunei Darussalam sudah menunjukkan indikator Pencemaran Udara (API) berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, akibat asap yang terbawa angin dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan - Indonesia.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan menjawab pertanyaan wartawan menyatakan 'mekanisme ASEAN' digunakan, karena dipandang akan lebih berpengaruh.
Akan halnya Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat terkesan menjawab pertanyaan wartawan dengan pernyataan dubieus.
"Kebetulan anginnya memang mengarah ke sana waktu itu, tapi suka bolak-balik gitu," ujar Jumhur.
Sebelumnya dia menjelaskan, titik api kebakaran hutan dan lahan itu tidak berada di area konsesi perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun tambang. Menurutnya, kebakaran terjadi di wilayah akses terbuka yang merupakan milik masyarakat.
Angin selatan ekuator tak seperti pernyataan para petinggi yang kerap berdolak-dalik. Angin yang menggerakkan aliran udara dan lonjakan udara memengaruhi cuaca tropis, dan transportasi kelembapan.
Angin permukaan yang juga disebut Souterly Surges, itu kali ini lebih meningkatkan suhu panas bumi yang tak biasa, bahkan nyaris tak berdampak pada curah hujan regional dan dinamika tengkujuh (monsun). Bahkan terasa membentuk arus tropis utama.
Secara keilmuan, angin selatan ekuator (Southerly Surge) yang membawa jerebu dan panas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, itu merupakan peristiwa atmosfer berskala sinoptik yang signifikan.
Antara lain, ditandai dengan penguatan tiba-tiba dan pergerakan cepat angin dari selatan melintasi ekuator menuju utara.
Angin tersebut mengubah pola hujan di hampir seluruh kepulauan Indonesia, sehingga aksi penanggulangan pembakaran / kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan tersebut mesti dilakukan secara manual. Antara lain dengan membanjur kawasan hutan terbakar melalui udara.
Akankah dalam situasi suhu yang meningkat tajam dan hutan-lahan kian membara dapat turun hujan? Bisa saja, bergantung pada interaksinya dengan gelombang global seperti Madden-Julian Oscillation (MJO). MJO yang aktif dapat mendorong konvergensi kelembapan tinggi ke wilayah barat, sehingga meningkatkan curah hujan secara signifikan di tempat-tempat tertentu.|