
Dato' Seri Siti Nurhaliza penyanyi terkemuka Asia Tenggara asal Awah, Temerloh - Pahang, Malaysia beberapa bulan terakhir melansir serangkaian lagu (Kumbang Bunga, Hati Yang Rindu, Rencong, Pesanan Buat Diri, Kaca dan Permata, Syurga Loka, Hujung Bumi, Kesuma, Jenjang Cinta, Cendera Maya) dalam album bertajuk Gema Bumantara.
Biduanita produktif ini telah merancang konser Gema Bumantara di Stadium Nasional Bukit Jalil - Kuala Lumpur, 17 Oktober 2026.
Selain melibatkan penyanyi senior Noraniza Idris, Siti juga melibatkan penyanyi Hazwan Haziq Rosebi yang populer dengan lagu-lagu tradisional Melayu, khasnya lagu Melayu tradisi yang dikemas baru: Lemak Manis dan Nurlela. Noraniza Idris dan Haziq berbasis beat Johor.
Paduan rasa Johor - Pahang, itu terasa, ketika mereka bertiga mendendangkan lagu Allahyarham Tan Sri SM Salim, bertajuk Pantun Budi di hadapan jurnalis.
Dalam konser Gema Bumantara, Siti juga melibatkan penyanyi Indonesia : Lesti Kejora dan Nassar, dua penyanyi dangdut berbasis beat tradisi Sunda dengan sentuhan Melayu yang kuat.
Performa duet Siti dan Lesti ketika mendendangkan lagu bertajuk Kumbang dan Bunga untuk official videoclip patut dipujikan. Ciamik, sebagaimana duet Siti dengan penyanyi Indonesia, seperti Cakra Khan, Afgan, Ungu, dan Judika.
Gema Bumantara menjadi menarik perhatian, bukan hanya karena lagu-lagu yang bakal disajikannya melibatkan komposer Iqie Hugh dan Firdaus Rahmat, melainkan karena ia menggunakan "Bumantara" sebagai dalam tajuk konsernya.
Istilah 'Bumantara' memercik dari pemikiran Begawan Polimatik (Sastra dan Filsafat) Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) ketika merespon peringatan dua dasawarsa organisasi kerjasama bangsa-bangsa Asia Tenggara - ASEAN (Association of South Asia Nations) yang dideklarasikan di Bangkok - 8 Agustus 1967 oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.
Boleh jadi, ketika menemukan istilah "Bumantara" tersebut, sebagai seorang futurist peradaban, STA sudah memprediksi, istilah 'Nusantara' -- untuk menyebut rantau Asia Tenggara -- akan tereduksi hanya sebagai bagian kecil saja dari Indonesia.

Nusantara yang merupakan dimensi budaya dan peradaban di simpang zaman baru dalam perubahan orientas geopolitik, geoekonomi, dan geobudaya hilang dimensinya kala Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia menggunakan istilah itu sebagai nama 'ibu kota' Indonesia. Padahal, dalam konteks budaya dan peradaban sedemikian luas.
Melalui forum Southeast Asian Writers Conference (Balai Seni Toyabungkah - Batur, Bali : 15 - 23 September 1985), sekaligus menyambut dua dasawarsa ASEAN, STA mengusulkan memberi nama baru Asia Tenggara sebagai Bumantara (gabungan kata Bumi dan antara) sebagaimana tertuang dalam artikelnya, "Bumantara Kesatuan Asia Tenggara dan Tugasnya di Masa Depan." (Jurnal Ilmu dan Budaya No.4 / Tahun X Januari 1988).
Menurut STA, Asia Tenggara yang meliputi Burma (Myanmar), Laos, Thailand, Vietnam, Kampuchea, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Brunei Darussalam merupakan suatu kesatuan dan kelompok bangsa-bangsa yang berbeda dari daerah dan bangsa China di sebelah Timur yang berpenduduk satu miliar, serta daerah dan bangsa India di sebelah Barat dengan penduduk sebanyak 800 juta.
Percik pemikiran STA itu mendapat respon dari Jose Sionil, pemimpin majalah Solidaridad (Manila) yang meintanya menulis agak luas dan mendalam tentang hal itu. Akan halnya Universitas Sains Malaysia (Penang) mengundangnya untuk menyampaikan pemikirannya tentang Bumantara terkait dengan penganugerahan Doktor Honoris Causa kepadanya.
Dalam konteks kebudayaan, pandangan STA -- sebagai pemikir modernis dan humanis yang sangat progresif -- tentang Bumantara merupakan wilayah bangsa-bangsa serantau yang berinteraksi dengan budaya China, India, Melanesia, dan Polinesia.
Dari perspektif lain, STA memandang Bumantara sebagai 'wilayah asal' bangsa Melayu yang berdaya menyeberangi lautan luas, hingga tiba di pulau Paskah (Samudera Pasifik) dan di pulau Madagaskar (Samudera Hindia).
Pandangan STA ini tak terpisahkan dengan pandangan dia sebelumnya yang membantah pandangan Von Eickstedt, bahwa bangsa-bangsa di rantau Asia Tenggara termasuk bangsa yang lemah karena kalah dalam perjuangan hidup (Malaysian Society of Orientalists - KL, 22-25 Oktober 1965).

Selaras dan sejalan dengan pemikiran STA, Kathleen Ditzig, kurator pada National Gallery Singapore, dalam tulisannya bertajuk "Tempat Seni dalam Rekonstruksi Psikologis, Sosial, dan Budaya Masa Depan." (1973), merespon seruan STA ihwal 'avant-garde baru.' Suatu undak untuk memposisikan seniman sebagai sosok yang memainkan peran penting dalam membangun masa depan.
Pandangan STA ihwal "Bumantara" akan membawa pengalaman estetika sebagai fondasi bagi masyarakat dan budaya, sekaligus merupakan representasi dari sistem nilai yang melekat dalam proses dan penciptaan kreatif. Sekaligus pilar penyangga serta apresiasi seni yang mampu menciptakan lingkaran umpan balik antara individu dan masyarakat.
Boleh diharap, proses dan eksekusi kreatif konser Gema Bumantara mampu menghadirkan integrasi nilai artistika, estetika, dan etika yang mampu menganggit daya transformasi kebudayaan yang dinamis dari masa lalu menuju masa depan. Tidak terjebak pada romantisisme budaya Melayu masa lalu, melainkan menjadi penanda perubahan dramatik dalam mengelola globalisma Abad XXI.
Bagi STA, kebudayaan harus bergerak maju secara dinamis untuk menjawab tantangan modern, bukan sekadar aksi merawat tradisi lama yang statis. Apalagi di tengah gerak dinamis Society 5.0 karya seni budaya yang menuntut karya budaya yang mesti menghidupkan gaya hidup kreatif - inovatif berbasis sains dan teknologi.
Gaya hidup yang mengadopsi memadu harmoni cara berpikir rasional, sains, dan teknologi dengan kecerdasan budaya yang secara sadar diintegrasikan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. agar tidak menjadi kitsch (seni kelontong) di tengah masyarakat.
Selebihnya, boleh juga diharap daya kedalaman insani mengalir di setiap larik lirik dan di setiap notasi musikalnya, sehingga bahasa Melayu Austronesia menjadi telangkai alami untuk menganggit nilai solidaritas antar warga global di masa kini..
Boleh pula diharap, konser Gema Bumantara mampu 'melahirkan pesona persona' manusia baru di rantau ini, yang berpikiran terbuka, universal, dan mampu melintasi batas-batas sekat narrow nasionalisma yang sempit untuk menjangkau global nasionalisma. Sekaligus menjadi bara budaya kreatif yang terus menyala produsen peradaban, bukan sekadar konsumen kebudayaan global. |