
Ketika nalar bersekutu dengan naluri, nurani dan rasa dalam satu daya yang kita sebut keberanian luar biasa, itulah nyali yang dimaksudkan dalam kolom ini.
Pada Majelis Umum Pekan Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa atau MU PBB (18-28 September 2026) satu dari segelintir negara di antara 193 anggota PBB, yang punya nyali besar itu, Republik Islam Iran.
Presiden Republik Islam Iran dr. Masoud Pezeshkian didahului Menteri Luar Negeri Sayyed Abbas Arraghchi dan anggota delegasi dengan langkah mantap dan berani datang menghadiri perhelatan tahunan, ini.
Mereka datang ke MU PBB ke 81 bertema “Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations That Delivers for All” alias "Memulihkan kepercayaan dan mengelola transformasi menuju PBB yang memberikan hasil bagi semua."
Saya mengatakan demikian, lantaran berbeda dengan delegasi lain yang datang dengan sukacita, Iran hadir pada peristiwa itu, bak 'kancil datang ke kandang harimau yang tak henti memangsanya.'
Di mimbar MU PBB tersebut, Presiden Pezeshkian (Rabu, 23/09/26) dengan lantang dan berani membuka segala bentuk kejahatan -- anti kemanusiaan -- yang dilakukan Amerika Serikat (AS) -- negara tuan rumah -- dan zionis Israel 'anak semangnya.' Bahkan, ketika penjahat perang Benyamin Netanjahu - Perdana Menteri (PM) zionis Israel siap berpidato, di kursi delegasinya yang kosong Iran memasang potret mendiang Jenderal Soleimani yang mereka serang semena-mena, mengabaikan hukum internasional.
Presiden Pezeskhian berhasil memanfaatkan waktu sekejap pidatonya menjadikan sidang MU PBB ke 81 itu sebagai 'pengadilan' bagi kejahatan AS dan zionis Israel. Presiden yang dokter bedah jantung, itu dengan berani dan lantang menanggapi secara kuat pernyataan irrasional tanpa malu Presiden AS Donald Trump, yang bicara sehari sebelumnya.
Pidato tegas Presiden Pezeshkian pada sesi ke-81 Majelis Umum PBB di New York, merupakan tanggapan kuat atas pernyataan tak masuk akal dan ancaman tanpa malu dari Trump.

Pidato Presiden Pezeshkian berhasil membuka selubung retorika Trump yang menunjukkan, Presiden AS itu menggunakan logika kekerasan dan kejahatan, bahkan mengancam bakal melantakkan Iran.
Pezeshkian dengan kepala tegak menyatakan, Iran tak akan pernah tunduk dan bakal membalas setiap serangan jahat yang dilakukan AS dan zionis Israel. Secara aksentuatif, penetratif, dan hipodermis, pidato Presiden Iran itu berhasil mengubah ruang sidang markas besar PBB New York menjadi ruang sidang untuk mengadili kejahatan Washington dan Tel Aviv.
Dengan percaya diri, Pezeshkian dengan argumen yang kokoh menantang standar ganda Barat. Ia menyatakan, bangsa Iran tidak akan pernah menerima 'bahasa' intimidasi dan tidak memerlukan izin siapa pun untuk mempertahankan kedaulatannya,
Lantas, ia menunjukkan, intimidasi Amerika justru memperkuat persatuan dan perlawanan rakyat dan bangsa Iran. Alhasil, Pezeskian berhasil mengubah podium PBB menjadi panggung untuk mengungkap arogansi global.
Nyali Iran, itu pernah dimiliki dan ditunjukkan Presiden Republik Indonesia Sukarno (7/01/1965) ketika menyatakan Indonesia keluar dari PBB. Protes keras yang terjadi di masa konfrontasi dengan Malaysia yang dipandang Sukarno sebagai proyek neo kolonialisme - Inggris. Antara lain dengan menerma Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Agak mirip situasi yang dihadapi Indonesia kala itu dengan situasi yang dihadapi Iran kini. Presiden Sukarno kala itu menggagas Conference of New Emerging Forces -- di Asia, Afrika, Amerika Latin, serta negara-negara sosialis dan komunis -- yang berhadapan langsung dengan PBB yang disebutnya sebagai Oldefos (Old Emerging Forces). Sukarno bahkan memberikan tawaran filosofis ihwal nasionalisma (narrow dan global), agama, dan komunis. Melibatkan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Vietnam Utara, dan Korea Utara.
Gagasan ini urung mewujud karena terjadi dinamika politik dalam negeri yang tak terkendali, khasnya peristiwa Gerakan 30 September / PKI. Presiden Soeharto menggantikan Presiden Sukarno, membawa masuk kembali Indonesia sebagai anggorta PBB (28/09/1966).
Dalam banyak hal, daya di balik Nyali Iran pada masanya pernah digelorakan Indonesia, ketika Haji Omar Said Tjokroaminoto menegaskan prinsip perjuangan kemerdekaan sejati berpondasi tauhid - ilmu pengetahuan - siyasah (strategi tangkas politik), sekaligus menularkannya kepada 'murid-muridnya' : Sukarno, Semaun, dan Kartosuwiryo.
Belakangan, Rahbar Ayatollah Ali Khamenei dekat dengan Presiden Sukarno. Allahyarham Ayatollah Ali Khamenei pemimpin tertinggi Iran, diketahui, syahid, kala rumahnya diserang rudal AS + zionis Israel, 28/02/26). Pada saat bersamaan rudal AS + zionis Israel menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh dan menewaskan siswa anak-anak di Minab. Dalam pidatonya di MU PBB 81, Presiden Iran Pezeshkian menampilkan foto-foto para martir korban kejahatan tersebut.

Nyali besar delegasi Iran tak hanya berkaitan dengan aksi perlawanan dan diplomasi yang dilakukannya selama berada di forum MU PBB 81 di New York. Untuk sampai ke markas besar PBB di 'kandang harimau' Presiden dan delegasi Iran mesti menempuh penerbangan transatlantik jarak jauh dengan beberapa tahapan perjalanan.
Delegasi tersebut berangkat menggunakan pesawat Airbus A340-311 berusia 34 tahun (registrasi EP-IGI) dari Bandara Internasional Mehrabad (THR) di Teheran pada pukul 08.15 waktu setempat (IRST/04.45 UTC) tanggal 22 September.
Tak lama setelah meninggalkan wilayah udara Iran, pesawat berbadan lebar bermesin empat itu naik ke ketinggian jelajah 38.000 kaki di atas Turki. Saat melintasi Eropa Selatan, izin rute penerbangan memungkinkan pesawat melewati wilayah udara Yunani sebelum memasuki wilayah udara Italia, yang mengarahkan pesawat melintasi Laut Mediterania.
Setelah enam jam penerbangan, pesawat singgah -- pemberhentian teknis yang telah direncanakan di Afrika Utara --, mendarat di Bandara Houari Boumediene di Aljir - Aljazair, pada pukul 11.45 CET (10.45 UTC).
Setelah transit selama dua jam, Airbus A340 tersebut melanjutkan penerbangan pada pukul 13.45 CET (12.45 UTC). Pesawat tersebut terbang ke arah barat laut, melintasi wilayah udara Spanyol sebelum memulai perjalanan panjang melintasi Atlantik Utara.
Pada pukul 18.15 EDT (22.15 UTC), 22 September 2026, pesawat pemerintah tersebut melakukan pendekatan akhir dan mendarat dengan selamat di Landasan Pacu 04R Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK) di New York.
Lantas, seperti pesawat lain, setelah delegasi turun di JFK, pilot dan awak pesawat tidak menerbangkan pesawat tersebut ke Bandara Internasional Baltimore/Washington Thurgood Marshall (BWI). Parkir di sana selama acara berlangsung. Parkir pesawat di Baltimore untuk mengakomodasi lonjakan kedatangan pesawat kepala negara yang menghadiri MU PBB serta mengurangi kepadatan di JFK.
Seluruh awak pesawat, sama seperti delegasi Iran, tak bisa bebas pergi di Baltimore. Presiden, delegasi, sampai awak pesawat hanya mendapatkan visa terbatas dari pemerintah AS sebagai 'peserta MU PBB.
Sabtu 26/09/26, Presiden, delegasi, dan seluruh awak pesawat Iran harus bertolak dari New York kembali ke Teheran. Namun, kunjungan ini berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang yang tinggi. Sepanjang perjalanan pergi dan pulang, pilot dan awak pesawat mesti senantiasa jeli merespon perkembangan situasi di udara sesuai dengan rute penerbangan yang juga ketat.. | jeahan
ARTIKEL TERKAIT :